<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135</id><updated>2011-10-01T20:46:59.815+07:00</updated><category term='Ekonomi'/><category term='Hukum'/><category term='Sejarah'/><category term='Pendidikan'/><category term='Sosial'/><category term='Politik'/><category term='Budaya'/><category term='Pertahanan - Keamanan'/><title type='text'>INDONESIA-KU</title><subtitle type='html'>HALAMAN INI MERUPAKAN 'PERPUSTAKAAN' INDONESIA-KU. YANG MENGARSIPKAN DOKUMEN, CATATAN SEJARAH, KOMENTAR DAN SEGALA SESUATU TENTANG INDONESIA-KU.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>88</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-3991450561793201284</id><published>2011-01-04T09:57:00.001+07:00</published><updated>2011-01-04T10:16:24.318+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Refleksi Akhir Tahun 2010</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan masa kini lebih rumit dri masa-masa sebelumnya. Semua terpaku untuk hidup mereka sendiri, tak ada gotong royong, saling bantu. Egoisme semakin tinggi, siapapun kita sama saja. Entah itu rakyat jelata ataupun penguasa semua hanya peduli diri mereka sandiri. Faham matrealisme mendarah daging, jadi yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Jika keadaan ini terus berlanjut (sepertinya terus berlanjut) tak akan pernah terjadi kesejahteraan sosial.&lt;br /&gt;Para penguasa lupa diri dengan kekuasaannya. Kebebasan berpendapat menjadikan rakyat sibuk menuntut hak hidupnya. Tak akan pernah ada titik temunya. Lantas kapan kita akan maju bersama membangun Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-3991450561793201284?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/3991450561793201284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=3991450561793201284' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/3991450561793201284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/3991450561793201284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2011/01/refleksi-akhir-tahun-2010.html' title='Refleksi Akhir Tahun 2010'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-8002084448031040691</id><published>2009-10-15T09:05:00.008+07:00</published><updated>2009-11-18T09:36:26.912+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Salah satu Kampung di Kenduruan Tuban resah lagi</title><content type='html'>Hal yang kami kawatirkan benar-benar terjadi. Saat siang menjelang sore datang 4 orang menuju sumur tua kampung kami.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat yang melihat rombngan itu tidak sedikitpun curiga . Sesampainya di sumur tua mereka alangsung menuju kayu jati dan salah satu dari mereka yang paling tua komat kamit membaca mantra sambil menaburkan sesuatu keliling pohon ( Ini bukan cerita mistis seperti di tv, tapi ini realita).&lt;br /&gt;Sesaat kemudian tiga orang lainnya mengelilingi dan berusaha menebang pohon jati tersebut dengan kampak.&lt;br /&gt;Kebetulan saat itu ada seorang wanita yang sedang mengambil air. Apa daya seorang wanita menghalangi tiga orang berkapak. Tetangga yang mendengar keributan itu langsung lari membunyikan kentongan kitir sebagai isyarat adanya marabahaya.&lt;br /&gt;Masyarakat berlarian menuju sumur tua desa kami . Berbagai alat kami bawa, mulai pedang, parang, sabit bahkan kayu pun kami bawa.&lt;br /&gt;Namun ternyata yang kami hadapi adalah sekeluarga yang dulu bersal dari kampung kami  juga. Hakim massa di tempat pun tak sampai terjadi.&lt;br /&gt;Secepatnya Bapinsa dan pihak Kepolisisan mengamankan.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Tersangka berani menebang dengan dalih membawa surat kuasa dari pemilik tanah. Padahal status kepemilikan tanah masih belum jelas. Konon dulu dihibahkan adapula yang bilang dulu dikosongkan setiap ada klasir tanah.&lt;br /&gt;Namun terrnyata semua itu hanya akal bulus dari pihak permerintah tertinggi desa kami. Surat kuasa itu juga palsu.&lt;br /&gt;Sore itu juga masyarakat menempuh jarak 2km jalan kaki menuju rumah petinggi desa kami. namun Bpk kepala desa sudah kabur dan 'diamankan' pihak polisi.&lt;br /&gt;Esok harinya masyarakat dipertemukan di balai desa oleh Bapinsa kepolisian dan muspika,.&lt;br /&gt;Setelah berbelit-belit akhirnya kepala desa kami mengaku telah mendalangi penebangan dan siap diperikasa. Namun berhubung ini hukum di Indeonesia apalagi Indonesia perbatasan, pihak yang berwengang pun membiarkannya saja. Tidak logiskan ketika pelaku kriminal mengakui kesalahanya di depan aparat tetapi dibiarkan saja. Padahal biasanya yang tidak ngaku aja dipaksa ngaku ampe bengap-bengap....&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian 3 tersangka yang tertangkap sudah bebas. Otak dari semua itu pun tak terjerat apapun. Lagi-lagi maklum ini hukum di Indonesia.&lt;br /&gt;Dari semua kejadian itu kami mendapat surat pernyataan dari kepala desa bahwa beliau tidak akan lagi meneruskan niatannya menebang pohon jati dan tidak akan mengizinkan siapapun menebangnya.&lt;br /&gt;Setelah reda ahli waris yang dipilih menghibahkan tanahnya.&lt;br /&gt;Masyarakat sedikit lega, Namun masih terluka karena kayu jati sebagai sumber air kami sudah dilukai yang tidak menutup kemungkinan akan mati. Serta kami sangat kecewa melihat jalan dari penegak hukum yang tak  pada relnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-8002084448031040691?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/8002084448031040691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=8002084448031040691' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/8002084448031040691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/8002084448031040691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2009/10/salah-satu-kampung-di-kenduruan-tuban.html' title='Salah satu Kampung di Kenduruan Tuban resah lagi'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-4691670593068374185</id><published>2009-08-24T08:25:00.001+07:00</published><updated>2009-10-24T09:27:44.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Kami Resah tinggal di Tuban perbatasan Jawa Tengah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kampungku berada dalam salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Tuban. Beberapa bulan belakangan kampungku dan sekitarnya diteror maling ternak dan tanaman. Maling nekat ini berjumlah beberapa orang dan beraksi sehabis isya', jadi ini terkesan perampokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah banyak korban termasuk korban bacok, meski dari kampung lain. Kampungku terbilang aman, meski kami sangat resah. Karena setiap malam selalu digilir ronda, di dalam maupun di luar kampung. Namun kami semua selalu terjaga setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi sekitar hanya menganggap semua hanya isu belaka. Padahal kami sangat resah, tak pernah tidur lelap setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum usai masalah yang kami hadapi, salah satu oknum pejabat pemerintah desa membuat gara-gara. Petugas yang seharusnya melindungi rakyatnya, justru membuat resah rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum tulis ya,&lt;br /&gt;Kampungku masuk dalam kekuasaan desa, atau tepatnya dukuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung kami memiliki harta peninggalan dari jaman bahula, berupa kayu hidup yang kian tahun kian membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayu ini hanya satu pohoon dan berada disekitar sumur tua kampung kami.&lt;br /&gt;Kami mengangap kayu itu merupakan sumber kehidupan, meski kemarau sumur itu masih mengeluarkan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAYU JATI DENGAN KELILING 7 METER&lt;br /&gt;diameternya hitung pake rumus, karena masih berdiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang kayu itu akan ditebang !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayu ini diperebutkan, mungkin karena nominalnya sangat bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai cara dilakukan oknum tersebut,&lt;br /&gt;namun berhasil kami tentang ( kecuali yang terakhir kami bingung )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali ditimbulkan isu adanya pengukuruan tanah, karena ini tanah bersama yang belum bersertifikat mungkin duikiranya kami akan ikkut menjualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua kalinya, pemilik tanah disekitar sumur itu diajak mengakui dan meluruskan tanahnya, namun cara ini tidak berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketiga kalinya pemilik tanah sebelahnya sekaligus waris dari beberapa tanah yang ada dikompori pula. Tercium kabar sebentar lagi kayu dirobohkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARGAPUN BERTEKAT MEMBELA SAMPAI TETES DARAH PENGHABISAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana nasib kami selanjutnya yang tinggal ditempat panas tanpa sumber air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PLISS HELP ME !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapapun plis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang menjadi wakil kami turunlah, LIHATLAH KEADAAN KAMI !!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-4691670593068374185?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/4691670593068374185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=4691670593068374185' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/4691670593068374185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/4691670593068374185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2009/08/kami-resah-tinggal-di-tuban-perbatasan.html' title='Kami Resah tinggal di Tuban perbatasan Jawa Tengah'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-6363359749530406457</id><published>2009-02-17T01:15:00.003+07:00</published><updated>2009-02-17T01:40:55.756+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Undang-Undang Zakat = Berbagi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dimasa sekarang ini angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi yakni 13,8 persen. Rakyat miskin masih merajalela. Pemerintah belum bisa menanggulangi secara tuntas masalah negara yang telah lama menyengsarakan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Pemerintah sendiri lebih banyak mengurus nasib sendiri. Diakui atau tidak Pemerintah kita kaya raya. Sedangkan Rakyat kita sebagian masih hidup di bawah angka kemiskinan. Tidakkah sebaiknya mereka berbagi...&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Beberapa waktu lalu kebetulan penulis berbincang dengan rekan anggota Tim Pengacara Muslim (TPM). Dalam perbincangan Beliau menawarkan solusi mengatasi angka kemiskinan rakyat Indonesia. Sesuai Syariat Islam zakat itu wajib hukumnya. Seperti kita ketahui bersama diantara rakyat Indonesia sebagian pengusaha, jutawan, milyarder bahkan triliuner. Dan tidak semua dari mereka yang menzakatkan harta kekayaannya sesuai syariat Islam. Bahkan ada yang tidak mengeluarkan zakat karena keserakan harta duniawinya. Menanggapi hal ini Pemerintah harus membuat Undang-Undang zakat yang nantinya mmemberikan sanksi bagi pelanggar. Ababila hal ini diterpakan kesejahteraan rakyat akan terangkat. Insya Allah...&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Kalau dipikir-pikir benar juga saran yang ditawarkan di atas, jika kita berbagi tentu hidup ini akan merata. Kita semua saudara senasib setanah air, serta saudara sesuai ajaran Islam..&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-6363359749530406457?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/6363359749530406457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=6363359749530406457' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/6363359749530406457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/6363359749530406457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2009/02/zakat-untuk-kesejahteraan-umat.html' title='Undang-Undang Zakat = Berbagi'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-6394428742466349049</id><published>2009-02-17T01:02:00.002+07:00</published><updated>2009-02-17T01:08:46.740+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>TOLAK PRIVATISASI ASET BANGSA INDONESIA</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;Indonesia  tanah air beta…..&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Mahkota abadi dan jaya….&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Indonesia sejak dulu kala…&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Slalu di puja-puja bangsa…&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Demikianlah salah satu lagu yang dahulu slalu kita nyanyikan dengan bangganya, dimana masyarakat Indonesia memiliki segalanya hutan, lautan, tambang, dan masyarakat yang selalu tersenyum simetris (seperti apa yang di ajarkan ESQ). Tahun 1928 dimana para pemuda mendeklarasikan Sumpah Pemuda, tahun 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan bangsa dengan gegap gempita.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Bangsa Indonesiapun dihormati dunia Internasional, menjadi panutan masyarakat Asia Afrika serta Dunia Ketiga. Mantan Presiden Amerika Serikat Jhon F. Kennedy menunduk dengan perasaan &lt;i&gt;minder, deg-degan, &lt;/i&gt;merasa kalah pamor dengan Bung Karno, lalu masa berikutnya Bill Clinton datang ke Jakarta dengan kepala menunduk, mencopot sepatunya saat memasuki masjid istiqlal dan menganggap pak Harto sebagai &lt;i&gt;sesepuh &lt;/i&gt;yang patut dihormati.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Pada masa kini Presiden AS George W. Bush datang hanya beberapa jam, menebar aroma arogansi, disambut bagai “wong agung”, di hormati bagai maha raja-diraja, secara khusus dibuatkan landasan helikopter, Uang hasil keringat rakyat beserta energi bangsa “Di Peras” habis hanya untuk melayani seorang Bush. Padahal dia datang hanya dengan kaos kakinya yang bolong.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Bahkan pada masa kini Amerika sudah menguasai sebagian besar aset-aset bangsa Indonesia,  menyusul Undang-Undang Penanaman Modal Asing yang sangat jelas tidak memihak masyarakat Indonesia, bahkan membuat rakyat menjadi budak bangsa asing di Negerinya sendiri. Bahkan baru-baru ini beredar wacana tentang 50 pertambangan Indonesia akan di lelang kepada bangsa asing. Benar-benar tindakan yang sangat tidak terpuji menyusul kebijakan tersebut oleh pemerintah hari ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Belum lagi BKM (Bantuan Khusus Mahasiswa) yang telah jelas melecehkan Mahasiswa sebagai uang tutup mulut terkait dengan kondisi sosial hari ini yang semakin mencekik, harga BBM naik, Bangsa asing memanfaatkan kondisi ini untuk terus &lt;i&gt;&lt;b&gt;menjajah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;menjarah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; kekayaan Indonesia tercinta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Bukan waktunya berdiam diri sahabat, bergerak sebagai mana kaum intelektual muda. Bukan terdiam menunggu nafas terakhir berhembus dengan &lt;i&gt;abu-abunya&lt;/i&gt; dunia. Pertahankan kedaulatan NKRI. Karma NKRI adalah HARGA MATI…!!!!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Seruan ini disampaikan oleh &lt;b&gt;Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Merdeka Malang periode 2008 – 2009&lt;/b&gt; kepada seluruh elemen civitas akademika Universitas Merdeka Malang.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-6394428742466349049?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/6394428742466349049/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=6394428742466349049' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/6394428742466349049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/6394428742466349049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2009/02/tolak-privatisasi-aset-bangsa-indonesia.html' title='TOLAK PRIVATISASI ASET BANGSA INDONESIA'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-4788744455016049172</id><published>2009-02-15T01:50:00.004+07:00</published><updated>2009-02-17T00:52:57.342+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Sosialisasi Politik yang Tidak Tepat Sasaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam Sosiologi Politik ada rangkaian yang tidak dapat dipisahkan, yakni Sosialisasi, Komunikasi, Partisipasi, Perekrutan Politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini Penulis mengungkap terkait Sosialisasi Politik yang ada di Indonesia. Cara Sosialisasi yang umum digunakan  adalah kampanye.  Di dalam masa  kampanye waktu yang diberikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sangat terbatas. Berbagai cara sosialisasi dilakukan, diantaranya adalah pemasangan poster-poster yang sering kita jumpai di jalanan. Tidak hanya itu sering kali kita lihat di tayangan iklan layanan masyarakat wajah tokoh parpol nongol di televisi. Terkadang pula kampanye disela-sela musibah yang sedang terjadi dengan memberikan sumbangan bagi korban bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Sosialisasi yang ada tidak sesuai dengan target atau sasaran yang hendak dicapai  atau lebih tepatnya  masyarakat secara umum. Para calon yang disosialisasikan  tidak banyak dikenal oleh masyarakat atau calon pemilih. Hanya sebagian kecil masyarakat yang mengerti mana calon yang  akan dipilihnya.  Terutama calon yang sudah mereka kenal. Jadi hanya sedikit sekali yang mengerti calon yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan para calon pemilih. Karena memang waktu pengenalan yang kurang, serta tingkat kesadaran masyarakat saat ini yang terbiasa dengan 'ombang-ambing' politik yang sering terjadi sehingga sebagian kalangan lebih memilih golput. Tidak hanya itu dengan sebagian yang tidak kenal dengan calon yang akan dipilih, mereka hanya meraba-raba dalam memilih calonnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hal ini menjadikan penilian yang diambil tentunya subjektif bukan lagi objektif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-4788744455016049172?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/4788744455016049172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=4788744455016049172' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/4788744455016049172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/4788744455016049172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2009/02/sosialisasi-politik-yang-tidak-tepat.html' title='Sosialisasi Politik yang Tidak Tepat Sasaran'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-2227486791300230999</id><published>2009-01-20T03:25:00.002+07:00</published><updated>2009-01-20T03:40:19.731+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Potret Pendidikan politik di Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalan pendidikan politik di Indonesia hingga saat ini tahun 2009 bisa dibilang tidak cukup bagus dan sangat jauh dari negara-negara maju.  Kita  tentu dapat melihat 'pertempuran'  pemain politik negri ini.  Mulai tingkat daerah hingga tataran  pemerintah pusat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat  disaat-saat  pemilihan  berlangsung.  Calon yang  kalah  selalu menuntut untuk diadakan penghitungan bahkan pemilihan ulang.  Para calon yang kalah tidak bersedia mengakui kekalahannya.  Hal ini  terkesan tidak adanya niatan membangun bersama-sama negri ini maupun daerah tempat pemilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ketinggalan pula aksi anarkis selalu mewarnai jalannya kampanye parpol selalu terjadi. Tidak hanya disaat kampanya, terlebih usai penghitungan suara selalu saja kerusuhan terjadi. Tentunya pendukung hanya terombang-ambing tidak jelas arah. Rakyat yang jadi penonton hanya bisa melihat kelakuan para calon pemimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya yang terjadi di luar negeri atau negara-negara yang sudah maju, calon yang kalah pasti mengucapkan selamat kepada calon terpilih dengan bangga diusai penghitungan suara.&lt;br /&gt;Hendaknya kita bisa mencontoh hal baik yang diterapkan negara tetangga. Kita perbaiki lagi sistem yang kita terapkan di negri ini demi membangun negri tercinta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-2227486791300230999?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/2227486791300230999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=2227486791300230999' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/2227486791300230999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/2227486791300230999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2009/01/potret-pendidikan-politik-di-indonesia.html' title='Potret Pendidikan politik di Indonesia'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-2452632690197924399</id><published>2008-12-22T19:31:00.002+07:00</published><updated>2008-12-31T05:29:36.213+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>HARI IBU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Emansipasi wanita yang dipelopori oleh Dewi Sartika kembali dirayakan pada hari ini. Perayaan ini dimaksudkan untuk menghormati dan mengenang beliau. Sebagai warga negara yang baik tentu kita selalu mengenang jasa-jasa para pahlawan sekaligus pelopor bagi negri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini sekaligus penghormatan kepada para ibu yang telah mencurahkan segala perhatiannya kepada kita para generasi penerus bangsa ini. Sudah selayaknya kita menghormati jasa, kasih sayang, pengorbanan ibu kita tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita patut bersyukur, karena ibu kita lah kita ada di bumi ini. Karena beliau pula kita dapat tumbuh menjadi manusia dewasa. Beliau pula yang telah mendidik kita menjadi manusia berpengetahuan dan beliau adalah guru yang pertama dalam proses pendidikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita termasuk manusia yang selalu mencintai dan menghormati ibu kita, dan bukan termasuk dalam golongan anak-anak durhaka.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-2452632690197924399?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/2452632690197924399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=2452632690197924399' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/2452632690197924399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/2452632690197924399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2008/12/hari-ibu.html' title='HARI IBU'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-3169122060414200623</id><published>2008-12-18T17:04:00.007+07:00</published><updated>2008-12-31T04:27:47.242+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 1999</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;br /&gt;TATA CARA PENGALIHAN DOKUMEN PERUSAHAAN KE DALAM&lt;br /&gt;MIKROFILM ATAU MEDIA LAINNYA DAN LEGALISASI&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Menimbang:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;bahwa untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Pengalihan Dokumen Perusahaan ke dalam Mikrofilm atau Media Lainnya dan Legalisasi;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mengingat:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;&lt;br /&gt;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 18, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3674);&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan :&lt;br /&gt;PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGALIHAN DOKUMEN PERUSAHAAN KE DALAM MIKROFILM ATAU MEDIA LAINNYA DAN LEGALISASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :&lt;br /&gt;1. Dokumen perusahaan adalah data, catatan dan atau keterangan yang dibuat dan atau diterima oleh perusahaan dalam rangka pelaksanaan kegiatannya, baik tertulis diatas kertas atau sarana lain maupun terekam dalam bentuk corak apapun yang dapat dilihat, dibaca, atau didengar.&lt;br /&gt;2. Mikrofilm adalah film yang memuat rekaman bahan tertulis, dan atau tergambar dalam ukuran yang sangat kecil.&lt;br /&gt;3. Legalisasi adalah tindakan pengesahan isi dokumen perusahaan yang dialihkan atau ditransformasikan ke dalam mikrofilm atau media lain, yang menerangkan atau menyatakan bahwa isi dokumen perusahaan yang terkandung di dalam mikrofilm atau media lain tersebut sesuai dengan naskah aslinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap perusahaan dapat mengalihkan dokumen perusahaan yang dibuat atau diterima baik di atas kertas maupun dalam sarana lainnya ke dalam mikrofilm atau media lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengalihan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dapat dilakukan sejak dokumen dibuat atau diterima oleh perusahaan bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pengalihan dokumen perusahaan, pimpinan perusahaan wajib mempertimbangkan kegunaan naskah asli dokumen yang perlu disimpan karena mengandung nilai tertentu demi kepentingan nasional atau kepentingan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pimpinan perusahaan wajib tetap menyimpan naskah dokumen asli dokumen perusahaan yang telah dialihkan ke dalam mikrofilm atau media lainnya, dalam hal dokumen tersebut masih:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;a. mempunyai kekuatan pembuktian otentik;&lt;br /&gt;b. mengandung kepentingan hukum tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB II&lt;br /&gt;TATA CARA PENGALIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Sebelum melakukan pengalihan, perusahaan yang bersangkutan wajib melakukan persiapan dan penelitian dari berbagai aspek atas dokumen perusahaan yang akan dialihkan.&lt;br /&gt;(2) Pimpinan perusahaan yang bersangkutan dapat terlebih dahulu menetapkan pedoman intern dalam rangka pengalihan dokumen perusahaan.&lt;br /&gt;(3) Pimpinan perusahaan dapat menetapkan pejabat di lingkungan perusahaan yang bersangkutan yang ditunjuk dan bertanggung jawab untuk meneliti dan menetapkan dokumen perusahaan yang akan dialihkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keputusan mengenai pengalihan dokumen perusahaan hanya dapat dilakukan oleh pimpinan perusahaan atau pejabat yang ditunjuk.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam dokumen perusahaan yang dibuat perusahaan berbentuk neraca tahunan, perhitungan laba rugi tahunan, atau tulisan lain yang  menggambarkan neraca laba rugi, pengalihan hanya dapat dilakukan setelah dokumen perusahaan tersebut dibuat di atas kertas dan ditandatangani oleh pimpinan perusahaan atau pejabat yang ditunjuk di lingkungan perusahaan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengalihan dokumen perusahaan dapat dilakukan terhadap satu set dokumen tertentu atau sekumpulan dokumen, baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Pengalihan dokumen perusahaan dilakukan dengan menggunakan peralatan dan teknologi yang memenuhi standar ketetapan dan kelengkapan sehingga dapat menjamin hasil pengalihan sesuai dengan naskah asli dokumen yang dialihkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(2) Dalam pengalihan dokumen perusahaan pimpinan perusahaan atau pejabat yang ditunjuk wajib menjamin keamanan proses pengalihan agar:&lt;br /&gt; a. dokumen perusahaan hasil pengalihan, yang disimpan di dalam mikrofilm atau media lainnya tersebut, merupakan dokumen pengganti yang sepenuhnya sama dengan naskah aslinya;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; b. mikrofilm atau media lainnya tetap dalam keadaan baik untuk dapat disimpan dalam jangka waktu sekurang-kurangnya sesuai dengan ketentuan mengenai daluwarsa suatu tuntutan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; c. dokumen hasil pengalihan dapat dibaca atau dicetak kembali di atas kertas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Perusahaan dapat menunjuk perusahaan lain untuk melaksanakan pengalihan dokumen perusahaan ke dalam mikrofilm atau media lainnya.&lt;br /&gt;(2) Perusahaan yang ditunjuk melaksanakan pengalihan dokumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memenuhi syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. berbadan hukum; dan&lt;br /&gt;b. memperoleh izin usaha.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apabila tempat pemrosesan pengalihan dokumen perusahaan berbeda dari tempat pembuatan dan penyimpanan dokumen perusahaan, proses pengalihan dapat dilakukan melalui media teknik pengalihan yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB III&lt;br /&gt;LEGALISASI DAN BERITA ACARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Setiap pengalihan dokumen perusahaan ke dalam mikrofilm atau media lainnya wajib dilegalisasi oleh pimpinan perusahaan atau pejabat yang ditunjuk di lingkungan perusahaan yang bersangkutan dengan dibuatkan berita acara.&lt;br /&gt;(2) Berita Acara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya memuat:&lt;br /&gt;a. keterangan tempat, hari, tanggal, bulan, dan tahun dilakukannya legalisasi;&lt;br /&gt;b. keterangan mengenai jenis dokumen yang dialihkan;&lt;br /&gt;c. keterangan bahwa pengalihan dokumen perusahaan yang dibuat di atas kertas atau sarana lainnya ke dalam mikrofilm atau media lainnya telah dilakukan sesuai dengan naskah aslinya;&lt;br /&gt;d. tanda tangan dan nama jelas pejabat yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(3) Berita Acara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dan dilampiri dengan daftar pertelaan atas dokumen perusahaan yang dialihkan ke dalam mikrofilm atau media lainnya, dengan ketentuan:&lt;br /&gt;a. lembar pertama untuk pimpinan perusahaan;&lt;br /&gt;b. lembar kedua untuk unit pengolahan; dan&lt;br /&gt;c. lembar ketiga untuk unit kearsipan.&lt;br /&gt;(4) Berita acara dan daftar pertelaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dokumen perusahaan yang dialihkan ke dalam mikrofilm atau media lainnya.&lt;br /&gt;(5) Dalam hal pengalihan dokumen perusahaan dilaksanakan oleh perusahaan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1), maka pembuatan berita acara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tetap menjadi tanggung jawab pimpinan perusahaan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam satu mikrofilm atau media lainnya dapat memuat beberapa proses pengalihan dokumen perusahaan yang masing-masing dibuatkan berita acara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembuatan berita acara pengalihan dokumen perusahaan yang sejak semula dibuat atau diterima dalam sarana lainnya, dapat dilakukan secara elektronis dengan tetap mendasarkan pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Dokumen yang telah dialihkan dalam mikrofilm atau media lainnya atau hasil cetaknya merupakan alat bukti yang sah.&lt;br /&gt;(2) Hasil cetak dokumen yang dialihkan ke dalam mikrofilm dapat dilegalisasi untuk keperluan proses peradilan dan kepentingan hukum lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dokumen yang telah dialihkan ke dalam mikrofilm atau media lainnya sebelum berlaku Peraturan Pemerintah ini, untuk dapat menjadi alat bukti yang sah wajib dibuatkan berita acara dan daftar pertelaan berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB V&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 13 Oktober 1999&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 13 Oktober 1999&lt;br /&gt;MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MULADI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 195&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 88 TAHUN 1999&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;TATA CARA PENGALIHAN DOKUMEN PERUSAHAAN KE DALAM&lt;br /&gt;MIKROFILM ATAU MEDIA LAINNYA DAN LEGALISASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UMUM&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Perkembangan ekonomi dan perdagangan dunia saat ini mengharuskan perusahaan mengelola kegiatan usahanya secara efektif dan efisien, termasuk pengelolaan dokumen perusahaan. Dukungan teknologi telah memungkinkan dokumen perusahaan yang dibuat atau diterima di atas kertas atau sarana lainnya dialihkan untuk disimpan dalam mikrofilm atau media lainnya. Ini berarti bahwa pembuatan dan penyimpanan dokumen perusahaan dimungkinkan dengan tidak menggunakan kertas. Pemanfaatan mikrofilm atau media lainnya sangat menghemat ruangan, tenaga dan waktu untuk penyimpanan dokumen perusahaan.&lt;br /&gt;Berhubung dengan itu dan untuk menciptakan kepastian hukum mengenai pengalihan dan penyimpanan dokumen perusahaan, maka Undang-undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan mengatur, antara lain, mengenai pengalihan dokumen perusahaan yang dibuat diatas kertas atau sarana lainnya, misalnya disket atau pita magnetik ke dalam mikrofilm atau media lainnya, seperti CD-ROM atau CD-WORM. Pengalihan tersebut berkaitan dengan penyimpanan dokumen perusahaan.&lt;br /&gt;Untuk memenuhi ketentuan Pasal 16 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1997, Peraturan Pemerintah ini mengatur lebih lanjut tentang cara pengalihan dokumen perusahaan ke dalam mikrofilm atau media lainnya dan legalisasi.&lt;br /&gt;Pengaturan dan tata cara pengalihan dokumen perusahaan dilaksanakan secara sederhana tanpa mengurangi kepastian hukum bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan maksud agar setiap perusahaan dapat melaksanakannya. Dalam proses pengalihan tersebut dimungkinkan pula menggunakan berbagai cara pengalihan sesuai dengan kemajuan teknik pengalihan yang tersedia, jika pusat pemrosesan pengalihan dokumen perusahaan berbeda dari tempat pembuatan dokumen. Sebagai dukungan terhadap perkembangan teknologi dimungkinkan pula pengalihan dokumen perusahaan yang sejak semula dibuat atau diterima dalam sarana lainnya, namun tetap dengan memperhatikan aspek yuridis pembuatan berita acara demi untuk kepentingan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Dokumen perusahaan yang sejak semula dibuat atau diterima dalam sarana bukan kertas, misalnya rekening, jurnal transaksi harian, nota kredit dan nota debet yang diproses secara komputerisasi dan hasilnya disimpan dalam bentuk disket, hard disk atau sarana lainnya, dapat langsung dialihkan ke dalam mikrofilm atau media lainnya tanpa perlu dibuatkan hasil cetakannya (hard copy).&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ketentuan ini dengan "mengandung kepentingan hukum tertentu" adalah apabila naskah asli tersebut masih mengandung hak dan atau kewajiban yang masih harus dipenuhi oleh pihak yang berkepentingan, misalnya perjanjian kredit jangka panjang yang lebih 10 (sepuluh) tahun, atau dokumen yang masih diperlukan dalam penyelesaian sengketa.&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Persiapan dan penelitian dari berbagai aspek sebelum melakukan pengalihan meliputi:&lt;br /&gt;- aspek ekonomi, misalnya penentuan jenis dokumen-dokumen yang perlu dialihkan dengan mempertimbangkan faktor biaya dan efisiensi, proses pengalihan yang dilakukan sendiri atau menggunakan jasa perusahaan lain;&lt;br /&gt;- aspek teknis, misalnya pemilihan pertelaan yang digunakan untuk mengalihkan, jenis mikrofilm atau media lainnya yang akan dipakai;&lt;br /&gt;- aspek administratif, misalnya perlu dibentuk suatu organisasi tersendiri atau tidak, pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan pengalihan, penyusunan mekanisme kerja pengalihan dokumen.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Pejabat yang ditunjuk adalah pejabat yang bertanggung jawab dalam proses pengalihan dokumen perusahaan.&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Untuk efisiensi, pengalihan dokumen perusahaan dapat dilakukan pada sekelompok dokumen perusahaan yang sejenis maupun tidak sejenis, sepanjang perusahaan yang bersangkutan dapat memastikan bahwa pencairan kembali dokumen tertentu dalam mikrofilm atau media lainnya dapat dilakukan dengan mudah, misalnya dengan pembuatan indeks dokumen perusahaan yang dialihkan. Yang dimaksudkan dengan:&lt;br /&gt;- satu set dokumen tertentu misalnya dokumen perusahaan yang menyangkut satu kegiatan tertentu dari awal sampai selesainya kegiatan tersebut;&lt;br /&gt;- sekumpulan dokumen sejenis, misalnya dokumen yang memuat masalah atau materi yang sama;&lt;br /&gt;- sekumpulan dokumen yang tidak sejenis, misalnya dokumen yang didasarkan pada waktu pembuatan atau diterima.&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Setiap pengalihan termasuk pengalihan ulang baik dari naskah asli maupun dari hasil pengalihan yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "naskah asli" dalam ayat ini adalah dokumen perusahaan yang dibuat atau diterima oleh perusahaan sebagaimana adanya pada saat dibuat atau diterima.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Pembuatan berita acara yang dilakukan secara elektronis adalah isi berita acara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) dan daftar pertelaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3) sudah terekam dalam mikrofilm atau media lainnya. Tanda tangan pejabat dalam berita acara berupa rekaman tanda tangan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1). Dengan demikian berita acara tersebut dapat tidak atau dibuat dalam sarana kertas.&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Legalisasi dilakukan dengan cara membubuhkan tanda tangan pada hasil cetak dokumen perusahaan tersebut dan pernyataan bahwa hasil cetak sesuai dengan aslinya.&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3913&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-3169122060414200623?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/3169122060414200623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=3169122060414200623' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/3169122060414200623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/3169122060414200623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2008/12/peraturan-pemerintah-republik-indonesia_2549.html' title='PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 1999'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-8791308689639714754</id><published>2008-12-18T17:04:00.006+07:00</published><updated>2008-12-31T04:22:05.530+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN 1999</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;br /&gt;TATA CARA PENYERAHAN DAN PEMUSNAHAN&lt;br /&gt;DOKUMEN PERUSAHAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;bahwa untuk meningkatkan kemampuan dunia usaha dalam pengelolaan dokumen perusahaan secara efektif dan efisien serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 22 Undan-undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Penyerahan dan Pemusnahan Dokumen Perusahaan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mengingat:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;&lt;br /&gt;2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 18, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3674);&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan:&lt;br /&gt;PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PEMUSNAHAN DOKUMEN PERUSAHAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :&lt;br /&gt;1. Dokumen perusahaan adalah data, catatan, dan atau keterangan yang dibuat dan atau diterima oleh perusahaan dalam rangka pelaksanaan kegiatannya, baik tertulis di atas kertas atau sarana lain namun terekam dalam bentuk corak apapun yang dapat dilihat, dibaca, atau didengar.&lt;br /&gt;2. Penyiangan adalah kegiatan memilah, mengeluarkan, dan menyisihkan dokumen perusahaan yang telah berakhir fungsinya untuk dilakukan penilaian.&lt;br /&gt;3. Penilaian adalah kegiatan menentukan nilai guna dokumen perusahaan yang didasarkan pada kegunaannya bagi kepentingan pengguna dokumen.&lt;br /&gt;4. Penyerahan adalah kegiatan menyerahkan dokumen perusahaan tertentu yang mempunyai nilai guna bagi kepentingan nasional kepada Arsip Nasional.&lt;br /&gt;5. Pemusnahan adalah kegiatan menghancurkan secara total dokumen perusahaan yang telah berakhir fungsinya dan yang tidak lagi memiliki nilai guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap perusahaan yang dalam kegiatan usahanya memiliki dokumen yang mempunyai nilai bagi kepentingan nasional wajib menyerahkan dokumen tersebut kepada Arsip Nasional.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Pimpinan perusahaan secara berkala wajib melakukan penyiangan dan penilaian terhadap dokumen perusahaan yang dibuat atau diterima oleh perusahaan yang bersangkutan untuk menentukan :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; a. dokumen perusahaan yang wajib diserahkan kepada Arsip Nasional; dan&lt;br /&gt;b. dokumen perusahaan yang dapat dimusnahkan sesuai jadwal retensi.&lt;br /&gt;(2) Dalam pelaksanaan penilaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pimpinan perusahaan dapat membentuk panitia yang bertugas melakukan penilaian atas dokumen perusahaan yang akan diserahkan atau dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB II&lt;br /&gt;TATA CARA PENYERAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Dokumen perusahaan tertentu yang wajib diserahkan kepada Arsip Nasional adalah dokumen perusahaan yang mempunyai nilai guna bagi kepentingan nasional, tetapi sudah tidak mempunyai nilai guna bagi kepentingan nasional, tetapi sudah tidak mempunyai nilai guna bagi kepentingan perusahaan, dan telah melampaui jangka waktu wajib simpan.&lt;br /&gt;(2) Penyerahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berdasarkan keputusan pimpinan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dokumen perudahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a, merupakan dokumen perusahaan yang memiliki nilai historis yang penggunaannya berkaitan dengan :&lt;br /&gt;a. kegiatan pemerintahan;&lt;br /&gt;b. kegiatan pembangunan nasional; atau&lt;br /&gt;c. kehidupan kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Penyerahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilakukan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam waktu 10 (sepuluh) tahun.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit, penyerahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilakukan setelah ketetapan pailit dari pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal perusahaan dilikuidasi, penyerahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilakukan setelah pemberesan selesai dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Dalam pelaksanaan penyerahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dlam Pasal 6, pimpinan perusahaan wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada Kepala Arsip Nasional.&lt;br /&gt;(2) Kepala Arsip Nasional wajib memberikan jawaban atas surat pimpinan perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak tanggal diterimanya surat pemberitahuan penyerahan dokumen perusahaan yang dengan rinci menyebutkan :&lt;br /&gt;a. waktu penerimaan;&lt;br /&gt;b. tempat penerimaan; dan&lt;br /&gt;c. pejabat yang ditunjuk untuk menerima penyerahan dokumen; dan&lt;br /&gt;d. rincian dokumen yang dapat diterima.&lt;br /&gt;(3) Apabila setelah lewat jangka waktu 60 (enam puluh) hari sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Kepala Arsip Nasional tidak memberikan jawaban, maka pimpinan perusahaan dapat langsung menyerakan dokumen perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Penyerahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dilaksanakan dengan pembuatan berita acara yang sekurang-kurangnya memuat :&lt;br /&gt;a. keterangan tempat, hari, tanggal, bulan, dan tahun dilakukan penyerahan;&lt;br /&gt;b. keterangan tentang pelaksanaan penyerahan; dan&lt;br /&gt;c. tanda tangan dan nama jelas pejabat yang menyerahkan dan pejabat yang menerima penyerahan.&lt;br /&gt;(2) Berita acara penyerahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya dibuat dalam rangkap 2 (dua), dengan ketentuan :&lt;br /&gt;a. lembar pertama untuk pimpinan perusahaan; dan&lt;br /&gt;b. lembar kedua untuk Kepala Arsip Nasional.&lt;br /&gt;(3) Pada setiap lembar berita acara penyerahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilampirkan daftar pertelaan dari dokumen perusahaan yang diserahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam hal Arsip Nasional menilai bahwa Dokumen Perusahan yang diserahkan kepada Arsip Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 bukan merupakan dokumen yang wajib diserahkan kepada Arsip Nasional sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1971 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan, maka Arsip Nasional dapat menyerahkan kembali dokumen tersebut kepada perusahaan untuk dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB III&lt;br /&gt;TATA CARA PEMUSNAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Setiap perusahaan dapat melakukan pemusnahan dokumen perusahaan yang :&lt;br /&gt;a. telah melampaui jangka waktu simpan yang tercantum dalam jadwal retensi;&lt;br /&gt;b. tidak lagi mempunyai nilai guna bagi kepentingan perusahaan;&lt;br /&gt;c. tidak mempunyai nilai guna bagi kepentingan nasional;&lt;br /&gt;d. tidak ada peraturan perundang-undangan yang melarang; dan&lt;br /&gt;e. tidak terdapat kaitan dengan perkara pidana atau perkara perdata yang masih dalam proses.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal dokumen perusahaan telah dialihkan ke dalam mikrofilm atau media lainnya dokumen tersebut dapat segera dimusnahkan kecuali ditentukan lain oleh pimpinan perusahaan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap pemusnahan dokumen perusahaan wajib didasarkan atas keputusan pimpinan perusahaan atau pejabat yang ditunjuk di lingkungan perusahaan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemusnahan dokumen perusahaan dilakukan secara total, dengan cara membakar habis, mencacah atau dengan cara lain sehingga tidak dapat dikenal lagi baik isi maupun bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1) Setiap pemusnahan dokumen perusahaan wajib dibuatkan berita acara pemusnahan dokumen perusahaan.&lt;br /&gt;(2) Berita acara pemusnahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dengan ketentuan:&lt;br /&gt;a. lembar pertama untuk pimpinan perusahaan;&lt;br /&gt;b. lembar kedua untuk unit pengolahan; dan&lt;br /&gt;c. lembar ketiga untuk unit kearsipan.&lt;br /&gt;(3) Pada setiap lembar berita acara dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilampirkan daftar pertelaan dari dokumen perusahaan yang dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelaksanaan pemusnahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 wajib disaksikan oleh 2 (dua) orang pejabat dari perusahaan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berita acara pemusnahan dokumen perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) sekurang-kurangnya memuat:&lt;br /&gt;a. keterangan tempat, hari, tanggal, bulan, dan tahun dilakukan pemusnahan;&lt;br /&gt;b. keterangan tentang pelaksanaan pemusnahan;&lt;br /&gt;c. tanda tangan dan nama jelas pejabat yang melaksanakan pemusnahan; dan&lt;br /&gt;d. tanda tangan dan nama jelas saksi-saksi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku dokumen perusahaan yang telah disimpan selama 10 (sepuluh) tahun atau lebih dapat segera dimusnahkan, kecuali :&lt;br /&gt;a. naskah asli dokumen tersebut masih tetap perlu disimpan karena mengandung nilai tertentu demi kepentingan perusahaan atau kepentingan nasional; atau&lt;br /&gt;b. mempunyai kekuatan pembuktian otentik dan masih mengandung kepentingan hukum tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB V&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 13 Oktober 1999&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 13 Oktober 1999&lt;br /&gt;MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MULADI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 194&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 87 TAHUN 1999&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;TATA CARA PENYERAHAN DAN PEMUSNAHAN DOKUMEN PERUSAHAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UMUM&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan bahwa dalam rangka efisiensi dan efektivitas pengelolaan dokumen perusahaan telah diatur mengenai tata cara penyimpanan, pemindahan, penyerahan, dan pemusnahan dokumen perusahaan.&lt;br /&gt;Untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan tersebut dalam Pasal 22 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan ditentukan bahwa mengenai tata cara penyerahan dan pemusnahan dokumen perusahaan diperintahkan untuk diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Bertitik tolak dari Pasal 22 tersebut, maka dalam Peraturan Pemerintah ini diatur mengenai kegiatan-kegiatan untuk memberikan pedoman yang dapat digunakan sebagai dasar atau pegangan dalam melaksanakan penyerahan dan pemusnahan dokumen perusahaan melalui tahap-tahap yang ditentukan.&lt;br /&gt;Kegiatan-kegiatan penyerahan dan pemusnahan dokumen perusahaan tersebut, merupakan salah satu sarana penting untuk menyelamatkan dan melestarikan bahan bukti resmi yang mempunyai nilai guna bagian kepentingan nasional dan untuk mengatasi penimbunan dokumen perusahaan yang tidak berguna, mengurangi beban penyimpanan, dan menghemat ruangan serta memungkinkan terkumpulnya dokumen perusahaan yang selektif.&lt;br /&gt;Dengan demikian akan dapat dihindarkan kemungkinan musnahnya dokumen perusahaan yang mempunyai nilai guna ataupun yang mengandung nilai informasi yang mempunyai nilai guna bagi kepentingan nasional.&lt;br /&gt;Hal-hal yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini meliputi beberapa ketentuan umum yang berlaku untuk penyerahan dan pemusnahan dokumen perusahaan, dokumen perusahaan yang wajib diserahkan kepada Arsip Nasional, tata cara penyerahan dokumen perusahaan, dokumen perusahaan yang dapat dimusnahkan, dan tata cara pemusnahan dokumen perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Proses penilaian dokumen perusahaan untuk kepentingan penyerahan dan pemusnahan memerlukan penilaian yang seksama dan perlu dilihat dari berbagai aspek antara lain kesejarahan, hukum, keuangan, administrasi, politik, efisiensi, dan hubungan antar dokumen, atas dokumen perusahaan yang dibuat atau diterima perusahaan.&lt;br /&gt; Dalam hal pimpinan perusahaan membentuk panitia yang melakukan kegiatan penyiangan dan penilaian dokumen perusahaan, maka susunan anggotanya sekurang-kurangnya terdiri dari pejabat yang membidangi unit pengolahan dan unit kearsipan.&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Dalam hal pimpinan membentuk panitia untuk melaksanakan penilaian dokumen perusahaan yang akan diserahkan kepada Arsip Nasional, maka pimpinan perusahaan dalam mengambil keputusan mengenai dokumen perusahaan yang akan diserahkan kepada Arsip Nasional perlu mempertimbangkan pendapat penitia tersebut.&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "dokumen perusahaan yang memiliki nilai historis" adalah :&lt;br /&gt;a. yang mengandung fakta dan keterangan yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang bagaimana perusahaan yang bersangkutan diciptakan, dikembangkan dan diatur serta fungsi dan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan beserta hasil atau akibat tersebut; dan atau&lt;br /&gt;b. yang mengandung informasi mengenai tokoh, tempat, benda, fenomena, masalah, dan sejenisnya yang berguna untuk berbagai kepentingan penelitian dan kesejarahan tanpa dikaitkan dengan perusahaan penciptanya.&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "Kepala Arsip Nasional" :&lt;br /&gt;- untuk Tingkat Pusat adalah Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia;&lt;br /&gt;- untuk Tingkat Daerah adalah Kepala Arsip Nasional Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "daftar pertelaan" adalah daftar yang memuat keterangan antara lain mengenai jenis, jumlah, dan jangka waktu penyimpanan dokumen yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Termasuk dalam pengertian dokumen perusahaan adalah dokumen perusahaan hasil pengalihan ke dalam mikrofilm atau CD-ROOM dan CD-WORM.&lt;br /&gt;Selanjutnya apabila suatu dokumen memenuhi kriteria a, b, dan c namun setelah diperiksa mempunyai nilai guna bagi kepentingan nasional, dokumen perusahaan tersebut wajib diserahkan ke Arsip Nasional.&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Dalam hal pimpinan perusahaan untuk melaksanakan penilaian dokumen perusahaan yang akan dimusnahkan membentuk panitia, maka pimpinan perusahaan atau pejabat yang ditunjuk dalam mengambil keputusan mengenai dokumen yang dimusnahkan dengan mempertimbangkan pendapat panitia.&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "disaksikan 2 (dua) orang pejabat" adalah pejabat dari bidang hukum atau pejabat bidang lainnya dari perusahaan yang bersangkutan yang ditunjuk oleh pimpinan perusahaan.&lt;br /&gt;Tugas dan wewenang saksi tersebut adalah menyaksikan pelaksanaan pemusnahan dokumen perusahaan, sehingga dokumen yang dimaksud tidak dapat dikenali lagi baik isi maupun bentuknya.&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "pejabat yang melaksanakan pemusnahan" adalah pejabat yang bertanggung jawab melaksanakan pemusnahan dokumen perusahaan.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3912&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Disalin dari :&lt;br /&gt;WP No. 1903/TH.XXI, tanggal 25 November 1999&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-8791308689639714754?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/8791308689639714754/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=8791308689639714754' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/8791308689639714754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/8791308689639714754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2008/12/peraturan-pemerintah-republik-indonesia_18.html' title='PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN 1999'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-6650849488851017268</id><published>2008-12-18T17:02:00.002+07:00</published><updated>2008-12-31T04:47:39.253+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1995</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;br /&gt;USAHA KECIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a.bahwa negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 melaksanakan Pembangunan Nasional yang bertujuan mewujudkan  suatu  masyarakat yang adil dan makmur yang merata material dan spiritual bagi seluruh rakyat Indonesia ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.   bahwa untuk mencapai tujuan tersebut Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat telah dan akan terus melaksanakan Pembangunan Nasional ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.   bahwa dalam Pembangunan Nasional, Usaha Kecil sebagai bagian integral dunia usaha yang merupakan kegiatan ekonomi  rakyat mempunyai kedudukan, potensi, dan peran yang strategis untuk mewujudkan struktur perekonomian nasional yang makin seimbang berdasarkan demokrasi ekonomi;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;d.   bahwa sehubungan dengan hal tersebut, Usaha kecil perlu lebih diberdayakan dalam memanfaatkan peluang usaha dan menjawab tantangan perkembangan ekonomi dimasa yang akan datang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.   bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, untuk memberikan dasar hukum bagi pemberdayaan Usaha Kecil perlu dibentuk Undang-undang tentang Usaha Kecil;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mengingat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 (1), Pasal 27 ayat (2), dan Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dengan Persetujuan&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN&lt;br /&gt;RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UNDANG-UNDANG TENTANG USAHA KECIL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta pemilikan sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;2.Usaha Menegah dan Usaha Besar adalah kegiatan ekonomi yang mempunyai kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari pada kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam bentuk pertumbuhan iklim usaha, pembinaan dan pengembangan sehingga Usaha Kecil mampu menumbuhkan dan memperkuat dirinya menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Iklim Usaha adalah kondisi yang diupayakan Pemerintah berupa penetapan berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan di berbagai aspek kehidupan ekonomi agar Usaha Kecil memperoleh kepastian, kesempatan yang sama, dan dukungan berusaha yang seluas-luasnya sehingga berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.   Pembinaan dan pengembangan adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat melalui pemberian bimbingan dan bantuan perkuatan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keampuan Usaha Kecil agar menjadi usaha yang tangguh dan mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pembiayaan adalah penyediaan dana oleh Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat melalui lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank, atau melalui lembaga lain dalam rangka memperkuat permodalan Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Penjaminan adalah pemberian jaminan pinjaman Usaha Kecil oleh lembaga penjamin sebagai dukungan untuk memperbesar kesempatan memperoleh pembiayaan dalam rangka memperkuat permodalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Kemitraan adalah kerja sama  usaha antara Usaha Kecil dengan Menengah atau dengan Usaha Besar disertai pembinaan dan pengembangan oleh Usaha Menengah atau Usaha Besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB II&lt;br /&gt;LANDASAN, ASAS DAN&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan Usaha Kecil berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemberdayaan Usaha Kecil diselenggarakan atas asas kekeluargaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan Usaha Kecil bertujuan :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a.menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan Usaha Kecil menjadi usaha yang tangguh dan mandiri serta dapat berkembang menajadi Usaha Menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. meningkatkan peranan usaha kecil dalam pembentukan produk nasional, perluasan kesempatan kerja dan berusaha, peningkatan ekspor, serta peningkatan dan pemerataan pendapatan untuk mewujudkan dirinya sebagai tulang punggung serta memperkukuh struktur perekonomian nasional.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB III&lt;br /&gt;KRITERIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1)Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,- ( dua ratus juta rupiah ) , tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;b.Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000,- ( satu milyar rupiah )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.milik Warga Negara Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Kriteria sebagimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b, nilai nominalnya dapat diubah sesuai dengan perkembangan perekonomian, yang diatur dengan peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IV&lt;br /&gt;IKLIM USAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1)Pemerintah menumbuhkan iklim usaha bagi usaha kecil melalui penetapan peraturan perundang-undangan dan kebijkasanaan meliputi aspek :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;a.Pendanaan&lt;br /&gt;b.Persaingan&lt;br /&gt;c.Prasarana&lt;br /&gt;d.Informasi&lt;br /&gt;e.Kemitraan&lt;br /&gt;f.Perizinan usaha dan&lt;br /&gt;g.Perlindungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Dunia Usaha dan masyarakat berperan serta secara aktif menumbuhkan iklim usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek pendanaan sebagimana dimaksud dalam Pasal 6ayat (1) huruf a dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan untuk :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;a.memperluas sumber pendanaan;&lt;br /&gt;b.meningkatkan akses terhadap sumber pendanaan&lt;br /&gt;c.memberikan kemudahan dalam pendanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek persaingan sebagimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijkasanaan untuk :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;a.meningkatkan kerjasama sesama  Usaha Kecil dalam bentuk Koperasi, asosiasi, dan himpunan kelompok usaha untuk memperkuat posisi tawar Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.mencegah pembentukan struktur pasar yang dapat melahirkan persaingan yang tidak wajar dalam bentuk monopoli, oligopoly dan monopsoni yang merugikan Usaha Kecil;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.mencegah terjadinya penguasaan pasar dan pemusatan usaha oleh orang-perseorangan atau kelompok tertentu yang merugikan Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek prasarana sebagimana dimaksud dalam Pasl 6 ayat (1) huruf c dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan untuk :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a.mengadakan prasarana umum yang dapat mendorong dan mengembangkan pertumbuhan Usaha Kecil&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;b.memberikan keringanan tarif prasarana tertentu bagi Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf d dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan untuk :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;a.membentuk dan memanfaatkan bank data dan jaringan informasi bisnis;&lt;br /&gt;b.mengadakan dan menyebarkan informasi mengenai pasar,teknologi , desain dan mutu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf e dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan untuk :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;a.mewujudkan kemitraan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan Ussaha Kecil dalam pelaksanaan transaksi usaha dengan Usaha Menengah dan Usaha Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek perizinan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf f dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan untuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.menyederhanakan tata cara dan jenis perizinan dengan mengupayakan terwujudnya system pelayanan satu atap;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;b.memberikan kemudahan persyaratan untuk memperoleh perizinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek perlindungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf g dengan menetapkan perundang-undangan dan kebijaksanaan untuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industri, lokasi pertanian rakyat, lokasi pertambangan rakyat, dan lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima, serta lokasi lainnya;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;b.mencadangkan bidang dan jenis kegiatan usaha yang memiliki kekhususan proses, bersifat padat karya, serta mempunyai nilai seni budaya yang bersifat khusus dan turun temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Mengutamakan penggunaan produk yang dihasilkan Usaha Kecil melalui pengadaan secara langsung dari Usaha Kecil;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.Mengatur barang atau jasa dan pemborongan kerja Pemerintah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.Memberikan bantuan Konsultasi hukum dan pembelaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB V&lt;br /&gt;PEMBINAAN DAN&lt;br /&gt;PENGEMBANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat melakukan pembinaan dan pengembangan Usaha Kecil dalam bidang:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;a.produksi dan pengolahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.pemasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.sumber daya manusia; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.tehnologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat melakukan pembinaan pengembangan dalam bidang produksi dan pengolahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.meningkatkan kemampuan manajemen serta teknik produksi dan pengolahan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.meningkatkan kemampuan rancang bangun dan perekayasaan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.memberikan kemudahaan dalam pengadaan saranan dan prasarana produksi dan pengolahan, bahan baku, bahan penolong, dan kemasan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat melakukan pembinaan dan pengembangan dalam bidang pemasaran, baik didalam maupun diluar negeri, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b dengan :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;a.melaksanakan penelitian dan pengkajian pemasaran;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.meningkatkan kemampuan manajemen dan teknik pemasaran;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.menyediakan sarana serta dukungan promosi dan uji coba pasar;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.mengembangkan lembaga pemasaran dan jaringan distribusi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.memasarkan produk Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat melakukan pembinaan dalam bidang sumber daya manusia sebagimana dimaksud dalam Psal 14 huruf c dengan :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;a.memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.meningkatkan ketrampilan teknis dan manajerial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.membentuk dan mengembangkan lembaga pendidikan, pelatihan dan konsultasi Usaha Kecil;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.menyediakan tenaga penyuluh dan konsultasi Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat melakukan pembinaan dan pengembangan dalam bidang teknologi sebagimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf d dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.meningkatkan kemampuan dibidang teknologi produksi  dan pengendalian mutu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.meningkatkan kemampuan di bidang  penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c.memberikan insentif kepada Usaha Kecil yang menerapkan teknologi baru dan melestarikan lingkungan hidup;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.meningkatkan kerja sama dan alih teknologi;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e.meningkatkan kemampuan memenuhi standarisasi teknologi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.menumbuhkan dan mengembangkan lembaga penelitian dan pengembangan dibidang desain dan teknologi bagi usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1)Pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, yang menyangkut tata cara, bobot, intensitas, prioritas, dan jangka waktu pembinaan dan pengembangannya, dilaksanakan dengan memperhatikan klasifikasi dan tingkat perkembangan usaha Kecil yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Ketentuan mengenai tata cara, bobot, intensitas, prioritas dan jangja waktu pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(1)Usaha Kecil yang telah dibina dan berkembang menjadi usaha Menengah masih dapat diberikan pembinaan dan pengembangan dalam jangka waktu paling lama tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;(2)Pemerintah menetapkan bidang pembinaan dan pengembangan yang masih perlu diberikan kepada Usaha Menengah sebagimana dimasud dalam ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)Usaha Kecil yang telah dibina dan berkembang menjad Usaha Menegah tetap dapat menempati lokasi usaha dan melakukan kegiatan usaha yang dicadangkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;PEMBIAYAAN DAN&lt;br /&gt;PENJAMINAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah, dunia Usaha, dan masyarakat  menyediakan pembiayaan yang meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a.Kredit perbankan;&lt;br /&gt;b.Pinajaman lembaga keuangan bukan bank;&lt;br /&gt;c.Modal ventura;&lt;br /&gt;d.Pinajaman dari dana penyisihan sebagian laba badan usaha milik negara (BUMN);&lt;br /&gt;e.Hibah; dan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;f.Jenis pembiayaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk meningkatkan akses Usaha Kecil terhadap pembiayaan sebagimana dimaksud dalam Pasal 21 dilakukan dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.meningkatkan kemampuan dalam pemupukan modal sendiri;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.meningkatkan kemampuan menyusun studi kelayakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.meningkatkan kemampuan manajemen keuangan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.menumbuhkan dan mengembangkan lembaga penjamin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1)Pembiayaan bagi Usaha Kecil dapat dijamin oleh lembaga penjamin yang dimiliki Pemerintah dan / atau swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Lembaga penjamin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menjamin pembiayaan Usaha Kecil dalam bentuk ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.penjaminan pembiayaan kredit perbankan ;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;b.penjaminan pembiayan atas bagi hasil;&lt;br /&gt;c.penjaminan pembiayan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lembaga penjamin sebagimana dimaksud dalam Pasal 23 terdiri atas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.lembaga penjamin yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.lembaga lainnya yang ditetapkan sebagai lembaga penjamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal  25&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembiayaan dan penjaminan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan 23 yang menyangkut alokasi, tata cara, prioritas, serta jangka waktu pembiayaan dan penjaminan dilaksanakan dengan memperhatikan klasifikasi dan tingkat perkembangan Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VII&lt;br /&gt;KEMITRAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1)Usaha Menegah dan usaha Besar melaksanakan hubungan kemitraan dengan Usaha Kecil, baik yang memiliki maupun yang tidak memiliki keterkaitan usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(2)Pelaksanan hubungan kemitraan sebagimana dimaksud dalam ayat (1) diupayakan kearah terwujudnya keterkaitan usaha.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;(3)Kemitraan dilaksanakan dengan disertai pembinaan dan pengembangan dalam salah satu atau lebih bidang produksi dan pengolahan, permodalan, sumber daya manusia, dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)Dalam melakukan hubungan kemitraan kedua belah pihak mempunyai kedudukan hukum yang setara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kemitraan dilaksanakan dengan pola :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.inti – plasma ;&lt;br /&gt;b.subkontrak;&lt;br /&gt;c.dagang umum;&lt;br /&gt;d.waralaba;&lt;br /&gt;e.keagenan; dan&lt;br /&gt;f.bentuk-bentuk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usaha kecil yang melaksanakan hubungan kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 adalah usaha yang telah terdata dan pengelolaannya sebagian besar dilakukan oleh Warga Negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hubungan kemitraan dituangkan dalam bentuk perjanjian tertulis yang sekurang-kurangnya mengatur bentuk dan lingkup kegiatan usaha kemitraan, hak dan kewajiban masing-masing pihak, bentuk pembinaan dan pengembangan, serta jangka waktu dan penyelesaian perselisihan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelaksanaan hubungan kemitraan yang berhasil antara Usaha Menengah atau Usaha Besar dengan Usaha Kecil ditindaklanjuti dengan kesempatan pemilikan saham Usaha Menengah datau Usaha Besar oleh Usaha Kecil mitra usahanya dengan harga yang wajar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pelasanaan hubungan kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, Usaha Menengah atau Usaha Besar dilarang memiliki dan/atau menguasai Usaha Kecil mitra usahanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan kemitran diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;KOORDINASI DAN&lt;br /&gt;PENGENDALIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1)Presiden menunjuk Menteri yang membidangi Usaha Kecil yang bertanggung Jawab atas, serta mengkoordinasikan dan mengendalikan Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Untuk memantapkan koordinasi dan pengendalian, Presiden dapat membentuk lembaga koordinasi dan pengendalian pemberdayaan Usaha Kecil yang dipimpin oleh Menteri sebagimana dimaksud dalam ayat (1) dengan anggota-anggotanya terdiri dari unsur Pemerintah, pengusaha, tenaga ahli, tokoh, dan lembaga swadaya masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(3)Koordinasi dan pengendalian sebagimana dimaksud dalam ayat (1), meliputi penyusunan kebijaksanaan dan program pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta pengendalian umum terhadap pelaksanaan pemberdayaan Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IX&lt;br /&gt;KETENTUAN PIDANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan mangaku atau memakai nama usaha kecil sehingga memperoleh fasilitas kemudahan dana keringanan tarif., tempat usaha, bidang dan kegiatan usaha, atau pengadaan barang dan jasa atau pemborong pekerjaan Pemerintah yang diperuntukan dan dicadangkan bagi Usaha Kecil yang secara langsung atau tidak langsung menimbulkan kerugian bagi usaha kecil diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling bayak Rp 2.000.000.000 ( dua milyar rupiah ).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbuatan sebagaiman dimaksud dalam Pasal 34 adalah tindak pidana kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB X&lt;br /&gt;SANKSI ADMINISTRATIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1)Usaha Menengah atau Usaha Besar yang dengan sengaja melanggar ketentuan Pasal 31 dikenakan sanksi administrative berupa pencabutan izin usaha dan atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) oleh instansi yang berwenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dilakukan oleh atau atas nama badan usaha, dapat dikenakan sanksi administrative berupa pencabutan sementara atau pencabutan izin usaha oleh instansi yang berwenang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan berlakunya Undang-undang ini, seluruh peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengaturan Usaha Kecil yang dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Undang-undang ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;Pada tanggal 26 Desember 1995&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEHARTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan Di Jakarta&lt;br /&gt;Pada tanggal 26 Desember 1995&lt;br /&gt;MENTERI NEGARA SEKERTARIS NEGARA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOERDIONO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1995 NOMOR 74&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1995&lt;br /&gt;TENTANG USAHA KECIL&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UMUM&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembangunan Nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdarakan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dalam wadah negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tentram, tertib dan dinamis dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan Nasional sebagai pengamalan Pancasila yang mencakup seluruh aspek kehidupan bangsa diselenggarakan bersama oleh masyarakat dan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat adalah pelaku utama pembangunan dan Pemerintah berkewajiban mengarahkan, membimbing , melindungi serta menumbuhkan suasana yang menunjang. Kegiatan masyarakat dan kegiatan Pemerintah saling menunjang, saling mengisi dan saling melengkapi dalam satu kesatuan langkah menuju tercapainya tujuan Pembangunan Nasinal. Untuk mencapai tujuan tersebut telah dilaksanakan Pembangunan disegala bidang dengan titik berat diletakan pada bidang ekonomi seiring dengan kualitas sumberdaya manusia tetap bertumpu pada aspek pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi selama Pembangunan Jangka Panjang Pertama, selain telah meningkatkan kesejahteraan rakyat juga telah menumbuh kembangkan Usaha Besar, Usaha Menengah, Usaha Kecil, dan Koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usaha Kecil, yang merupakan bagian integral dunia usaha nasional mempunyai kedudukan, potensi, dan peranan yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan tujuan Pembangunan Nasional pada umumnya dan tujuan pembangunan ekonomi pada khususnya. Usaha kecil merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi yang luas  pada masyarakat dapat berperan dalam proses pemerataan dan meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional pada umumnya dan stabilitas ekonomi pada khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan menunjukan bahwa Usaha Kecil masih belum dapat mewujudkan kemampuan dan peranannya secara optimal dalam perekonomian nasional. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa Usaha Kecil masih menghadapi berbagai hambatan dan kendala, baik yang bersifat eksternal maupun internal, dalam bidang produksi dan pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber daya manusia, dan tehnologi, serta iklim usaha yang belum mendukung bagi perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam upaya meningkatkan kesempatan dan kemampuan Usaha kecil, telah dikeluarkan berbagai kebijaksanaan oleh Pemerintah tentang penadangan usaha, pendanaan , dan pembinaan, tetapi belum berhasil sebagaimana diharapkan karena belum adanya kepastian hukum yang merupakan perlindungan bagi Usaha Kecil dan dipatuhi oleh semua pihak. Dihadaprkan pada era perdagangan bebas dalam rangka mengantisipasi keterbukaan perekonomian dunia, baik pada tingkat regional maupun tingkat dunia, Usaha Kecil dituntut menjadi tangguh dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehubungan dengan itu, Usaha Kecil perlu memberdayakan dirinya dan diberdayakan dengan berpijak pada kerangka hukum nasional yang berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 demi terwujudnya demokrasi ekonomi yang berdasarkan pada asas kekeluargaan. Pemberdayaan Usaha Kecil dilakukan melalui :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;a). Penumbuhan iklim usaha yang mendukung bagi pengembangan Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Pembinaan dan pengembangan Usaha Kecil serta kemitraan usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemberdayaan Usaha Kecil dilaksanakan oleh Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan memberdayakan Usaha Kecil, diharapkan Usaha Kecil menjadi tangguh, mandiri dan juga dapat berkembang menjadi Usaha Menengah. Usaha Kecil yang tangguh mandiri, dan berkembang dengan sendirinya akan meningkatkan produk nasional, kesempatan kerja, ekspor, serta pemerataan hasil-hasil Pembangunan, yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap penerimaan negara. Selanjutnya pemberdayaan usaha kecil akan meningkatkan kedudukan serta peran Usaha Kecil dalam perekonomian nasional sehingga akan terwujud tatanan perekonomian nasional yang sehat dan kukuh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam memberdayakan Usaha Kecil seluruh peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Usasha Kecil antara lian Undang-undang Nomor 5 tahun 1984 tentang Perindustrian, Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan hal-hal tersebut diatas Undang-undang ini disusun dengan maksud memberdayakan Usaha Kecil, mencakup berbagai aspek pemberdayaan Usaha Kecil tetapi tidak mengatur mekanisme internalnya. Didalamnya dimuat tentang pengertian dan kriteria Usaha Kecil serta landasan, asas dan tujuan . Selanjutnya diperjelas dan dipertegas pula segi-segi yang mencakup penumbuhan iklim usaha yang kondusif, pembinaan dan pengembangan, pembiayaan dan penjaminan, kemitraan, koordinasi dan pengendalian, serta ketentuan pidana dan saksi administrative.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;II.  PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Angka 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan Usaha Kecil dalam Pasal ini meliputi juga Usaha Kecil informal dan Usaha Kecil tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan Usaha Kecil informal adalah usaha yang belum terdaftar, belum tercatat dan belum berbadan hukum, antara lain, petani penggarap, industri rumah tangga, pedagang asongan, pedagang keliling, pedagang kaki lima, dan pemulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimkasud dengan Usaha Kecil tradisional adalah usaha yang menggunakan alat produksi sederhana yang telah digunakan secara turun-temurun, dan/atau berkaitan dengan seni dan budaya. Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil adalah kegiatan ekonomi berskala kecil yang dimiliki dan menghidupi sebagian besar rakyat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Angka 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan Usaha Menegah dan Usaha Besar meliputi usaha nasional (milik negara dan swasta), usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan usaha yang tangguh dan mandiri adalah usaha yang memiliki daya saing tinggi dan memiliki kemampuan memecahkan masalah dengan bertumpu pada kepercayaan dan kemampuan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Angka 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembinaan  dan Pengembangan yang dilakukan oleh Pemerintah, dunia Usaha, dan masyarakat dapat dilaksanakan, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan dana adalah sejumlah uang, surat-surat berharga, atau aktiva lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan permodalan adalah kekayaan usaha dalam bentuk uang atau harta lainnya, yang menjadi dasar untuk menjalankan dan mengembangkan usaha yang terdiri atas modal sendiri dan modal luar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Angka 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerja sama usaha dalam kemitraan hendaknya dilakukan dengan memperhatikan tanggung jawab moral dan etika bisnis yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam upaya memberdayakan Usaha Kecil, jiwa dan semangat usaha bersama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari asas kekeluargaan yang didalamnya terkandung nilai-nilai keadilan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan kekayaan bersih adalah nilai jual kekayaan usaha (asset) dikurangi kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan hasil penjualan tahunan adalah hasil penjualan bersih (netto) yang berasal dari penjualan barang dan jasa dari usahanya dalam satu tahun buku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walaupun Undang-undang ini menetapkan batas kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan tersebut, Usaha Kecil yang mendapatkan prioritas pemberdayaan adalah Usaha Kecil yang merupakan lampiran terbesar dari jumlah Usaha Kecil yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan milik Warga Negara Indonesia adalah Usaha Kecil yang sepenuhnya milik Warga Negara Indonesia. Pemilik Usaha Kecil tersebut dapat mengelolanyanya sendiri atau menyerahkan pengelolannya kepada pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menengah atau Usaha Besar adalah Usaha Kecil yang merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang sepenuhnya atau sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Usaha Menengah atau Usaha Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan Usaha Kecil yang berafiliasi dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar adalah Usaha Kecil yang dikendalikan secara langsung atau tidak langsung oleh Usaha Menengah atau Usaha Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a Yang dimaksud dengan berafiliasi langsung adalah jika anggota dewan komisaris, direksi, atau manajer Usaha Menengah atau Usaha Besar merupakan pemilik atau pengelola Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;b. Yang dimaksud dengan berafiliasi tidak langsung adalah jika :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Usaha Kecil dan Usaha Menengah atau Usaha Besar dimiliki atau dikuasai oleh orang atau pihak yang sama;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) pemilik atau pengelola Usaha kecil memiliki hubungan keluarga secara horizontal atau vertical, karena perkawinan atau keturunan sampai derajat kedua, dengan salah seorang anggota dewan komisaris, direksi atau yang mengendalikan Usaha Menengah atau Usaha Besar, jika terdapat keterkaitan Usaha baik horizontal maupun vertical, antara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dikecualikan dengan pengertian dimiliki, dikuasai atau berafiliasi ialah koperasi karyawan dari Usaha Menengah atau Usaha Besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang berwenang menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijkasanaan sebagimana yang dimaksud pasal ini paling rendah adalah menteri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan pendanaan dalam pasal ini adalah upaya yang terdiri atas penyediaan sumber dana, tata cara, dan persyaratan untuk pemenuhan kebutuhan dana bagi pemberdayaan usaha kecil&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan memperluas sumber pendanaan adalah berbagai upaya memperbanyak jenis dan meningkatkan alokasi pendanaan yang dapat dimanfaatkan Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan meningkatkan akses terhadap sumber pendanaan mencakup berbagai upaya penyederhanaan tata cara dalam memperoleh dana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan memberikan kemudahan dalam pendanaan mencakup berbagai upaya pemberian keringanan persyaratan dalam pendanaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerjasama sesama Usaha Kecil dimaksudkan untuk meningkatkan posisi tawar dalam melakukan transaksi bisnis dengan pihak lainnya agar mempunyai posisi yang sepadan. Selain itu kerjasama sesama Usaha Kecil akan meningkatkan pula skala ekonomi usahanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan mencegah adalah upaya berupa deregulasi, pengaturan tata niaga,penetapan harga, pengenaan sanksi, dan pembentukan komisi persaingan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan mengadakan prasarana umum dalam pasal ini adalah penyediaan prasarana yang memadai bagi pengembangan Usaha Kecil, antara lain meliputi pengadaan prasarana tranportasi, telekomunikasi, listrik, air bersih, lokasi usaha, tempat berusaha dan Pasar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan memberikan keringanan tarif prasarana tertentu dalam pasal ini adalah pengadaan pembedaan perlakuan tariff berdasarkan ketetapan Pemerintah baik yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan keringanan bagi Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan bank data dan jaringan informasi bisnis adalah berbagai pusat data bisnis dan system informasi bisnis yang dimiliki Pemerintah atau swasta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan mengadakan dan menyebarkan informasi mengenai pasar, teknologi, desain dan mutu adalah melakukan penyebaran informasi diseluruh wilayah tanah air agar Usaha Kecil dapat mengikuti perkembangan Pasar, teknologi atau desain, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan mewujudkan kemitraan adalah suatu usaha untuk meumbuhkan iklim usaha yang dapat mendorong Usaha Menengah dan Usaha Besar melakukan kemitraan, anatara lain, berupa stimulan tanpa adanya unsure paksaan sehingga terlaksananya alih tehnologi, manajemen, dan kesempatan berusaha bagi Usaha Kecil dapat terjadi secara wajar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan Usaha Kecil dalam pelaksanaan transaksi Usaha Kecil dengan Usah Menengah dan / atau Usaha Besar adalah upaya yang ditujukan agar usaha kecil tersebut tidak dirugikan oleh Usaha Menengah dan/ atau Usaha Besar, sebagai akibat penundaan  pembayaran, pengalihan resiko yang tidak adil dalam konsinyasi, dan pengenaan pungutan-pungutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Upaya mewjujudkan system pelayanan satu atap dilaksanakan secara bertahap.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan pemberian kemudahan persyaratan untuk memperoleh perijinan bagi Usaha Kecil, anatara lain adalah keringanan biaya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan menumbuhkan iklim usaha dalam aspek perlindungan mencakup aspek peruntukan tempat  usaha, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1)lokasi di pasar, yaitu pengadaan lokasi untuk pasar tradisional atau lokais pasar tertentu lainnya yang khusus diperuntukan bagin usaha kecil, pembangunan lokasi pasar bagi Usaha Menengah atau Usaha Besar diatur dengan memperhatikan jarak lokasi pasar yang telah diperuntukan bagi Usaha Kecil;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2)ruang pertokoan, yaitu ruang yang disediakan bagi pengusaha kecil dalam pusat perbelanjaan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3)lokasi senrta industri kecil,Yaitu pengadaan lahan khusus bagi Usaha Kecil atau pengadaan sebagian lahan pada kawasan industri yang dibangun oleh Pemerintah atau oleh Usaha Menengah dan / atau Usaha Besar;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4)lokasi pertanian rakyat dalam arti luas yaitu pencadangan lahan pertanian bagi Usaha Kecil dalam pembangunan pertanian oleh Pemerintah atau oleh Usaha Menegah dan/ atau Usaha Besar;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5)lokasi pertambangan rakyat, yaitu pengadaan lahan pertambangan bagi pengusaha kecil oleh Pemerintah;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6)lokasi untuk pedagang kaki lima, yang diatur melalui penetapan tata ruang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan mencadangkan bidang dan jenis kegiatan usaha adalah pemberian perlindungan, antara lain terhadap :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1)kegiatan usaha yang menggunakan teknologi yang mempunyai kekhususan proses;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2)kegiatan usaha yang bersifat padat karya yang merupakan mata pencaharian sebagian masyarakat setempat;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3)kegiatan usaha yang mempunyai nilai seni budaya yang bersifat khusus serta turun-temurun dan dikuasai oleh masyarakat secara turun-temurun pula.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan pengadaan barang atau jasa dan pemborongan kerja pemerintah adalah pengadaan dan pemborongan pekerjaan yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), serta dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan dalah menanamkan dan mengembangkan jiwa, semangat, serta perilaku kewirausahaan, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a.kemauan dan kemampuan untuk bekerja dengan semangat kemandirian;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b.kemauan dan kemampuan memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara sestematis, termasuk keberanian mengambil resiko usaha;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c.kemauan dan kemampuan berfikir dan bertindak secara kreatif dan inovatif;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;d.kemauan dan kemapuan untuk bekerja secara teliti, tekun dan produktif;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e.kemauan dan kemampuan untuk bekerja dalam kebersamaan dengan berlandaskan etika bisnis yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan klasifikasi dalam pasal ini adalah penggolongan Usaha Kecil yang dilakukan oleh Pemerintah berdasarkan nilai kekayaan bersih atau penjualan tahunan dengan memperhatikan kondisi nyata berbagai jenis dan lapisan Usaha Kecil termasuk Usaha Kecil informal, Usaha Kecil rumah tangga, dan usaha Kecil tradisional.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembinaan dan pengembangan Usaha Kecil yang telah berhasil berkembang menjadi Usaha Menegah masih dapat dilanjutkan dalam jangka waktu paling lama tiga tahun dimaksudkan agar selama kurun waktu tersebut dapat dimanfaatkan oleh Usaha Menengah itu untuk memantapkan usahanya karena jangka waktu tiga tahun merupakan jangka waktu yang memadai sebagai proses pemantapan usaha.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan jenis pembiayaan lainnya adalah dana sumbangan dari masyarakat, termasuk dana dari Usaha Besar swasta, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan penjaminan oleh lembaga penjamin, baik yang dimiliki oleh Pemerintah maupun swasta, Usasha Kecil diberi berbagai kemudahan berupa penyederhanaan tata cara dan persyaratan yang ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan penjaminan pembiayaan lainnya adalah pemberian jaminan, antara lain, dalam bentuk jaminan orang perseorangan dan jaminan perusahaan (avalis )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tata cara pembiayaan dan penjaminan Usaha Kecil diupayakan dengan sederhana dan mudah serta dengan persyaratan yang ringan. Prioritas pemberian pembiayaan dan penjaminan diberikan kepada kelompok atau lapisan Usaha Kecil yang  jumlahnya paling besar, sedangkan jangka waktu pembiayaan ditetapkan secara luwes, sesuai dengan kelayakan usaha dari Usaha Kecil yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelaksanaan hubungan kemitraan sebagiamana dimaksud dalam ayat ini diarahkan kepada perluasan dan pendalaman keterkaitan bagi Usaha Kecil yang memiliki keterkaitan usaha serta penumbuhan kerkaitan usaha bagi usaha kecil yang memiliki potensi keterkaitan usaha.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a.pola inti – plasma adalah hubungan kemitraan anatara Usaha Kecil dengan Usaha Mengah atau Usaha Besar, yang didalamnya Usaha Menengah atau usaha Besar bertindak sebagai inti dan Usaha Kecil selaku plasma, perusahaan inti melaksanakan pembinaan mulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis, sampai dengan pemasaran hasil produksi;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b.pola subkontrak adalah hubungan kemitraan antara Usah Kecil dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar, yang didalamnya Usaha Kecil memproduksi komponen yang diperlukan oleh Usaha Menengah atau Usaha Besar sebagai bagian dari produksinya;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c.pola dagang umum adalah hubungan kemitraan antara usaha Kecil dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar, yang didalamnya Usaha Menengah atau Usaha Besar memasarkan hasil produksi Usaha Kecil atau Usaha Kecil memasok kebutuhan yang diperlukan oleh besar mitranya;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d.pola waralaba adalah hubungan kemitraan yang didalamnya pemberi waralaba memberikan hak penggunaan lisensi, merek dagang, dan saluran distrtibusi perusahaannya kepada penerima waralaba dengan disertai bantuan bimbingan manajemen;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e.pola keagenan adalah hubungan kemitraan yang didalamnya Usaha Kecil diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa Usaha Menengah dan Usaha Besar mitranya;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;f.pola bentuk-bentuk lain diluar pola sebagaimana tertera dalam huruf a,b,c,d dan e pasal ini adalah pola kemitraan yang pada saat ini sudah berkembang, tetapi belum dibakukan, atau pola baru yang akan timbul dimasa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendataan dilakukan oleh Pemerintah dengan cara sederhana, mudah, dan tidak dipungut biaya. Jika Usaha kecil belum terdata, usaha tersebut tetap dapat melaksanakan hubungan kemitraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyelesaian perselisihan dalam hubungan kemitraan dilakukan secara musyawarah. Jika tidak tercapai kata mufakat, perselisihan itu diselesaikan melalui badan peradilan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saham dengan harga wajar dapat dibeli oleh Usaha Kecil dengan system pembayaran yang ringan dan tidak merugikan pengembangan Usaha Kecil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3611&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-6650849488851017268?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/6650849488851017268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=6650849488851017268' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/6650849488851017268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/6650849488851017268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2008/12/undang-undang-republik-indonesia-nomor_5141.html' title='UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1995'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-3881117216348443987</id><published>2008-12-18T17:01:00.003+07:00</published><updated>2008-12-31T04:51:08.298+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 135 TAHUN 2000</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         TATA CARA PENYITAAN DALAM RANGKA PENAGIHAN PAJAK&lt;br /&gt;                        DENGAN SURAT PAKSA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 24 Undang-undangNomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Penyitaan Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mengingat :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1. Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (2) Undang Undang Dasar 1945  sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3686) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3987);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                            MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENYITAAN DALAM RANGKA PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;1. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;2. Pejabat adalah pejabat yang berwenang mengangkat dan memberhentikan Jurusita Pajak, menerbitkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus, Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Surat Pencabutan Sita, Pengumuman Lelang, Surat Penentuan Harga Limit, Pembatalan Lelang, Surat Perintah Penyanderaan dan surat lain yang diperlukan untuk penagihan pajak    sehubungan dengan Penanggung Pajak tidak melunasi sebagian atau seluruh utang pajak menurut undang-undang dan peraturan daerah.&lt;br /&gt;3. Jurusita Pajak adalah pelaksana tindakan penagihan pajak yang meliputi penagihan seketika dan sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan dan penyanderaan.&lt;br /&gt;4. Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual barang yang telah disita.&lt;br /&gt;5. Utang Pajak adalah pajak yang masih harus dibayar termasuk sanksi administrasi berupa bunga, denda atau kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak atau surat sejenisnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;6. Biaya Penagihan Pajak adalah biaya pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Pengumuman Lelang, Pembatalan Lelang, Jasa Penilai dan biaya lainnya sehubungan dengan penagihan pajak.&lt;br /&gt;7. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan Biaya Penagihan Pajak.&lt;br /&gt;8. Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan adalah surat perintah yang diterbitkan oleh Pejabat untuk melaksanakan penyitaan.&lt;br /&gt;9. Objek Sita adalah barang Penanggung Pajak yang dapat dijadikan jaminan utang pajak.&lt;br /&gt;10.Barang adalah tiap benda atau hak yang dapat dijadikan objek sita.&lt;br /&gt;11.Pemblokiran adalah tindakan pengamanan harta kekayaan milik Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank dengan tujuan agar terhadap harta kekayaan dimaksud tidak terdapat perubahan apapun, selain penambahan jumlah atau nilai.&lt;br /&gt;12.Penyitaan adalah tindakan Jurusita Pajak untuk menguasai barang Penanggung Pajak, guna dijadikan jaminan untuk melunasi Utang pajak menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;13.Hari adalah hari kalender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PELAKSANAAN PENYITAAN&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak dilaksanakan oleh Jurusita Pajak berdasarkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan yang diterbitkan oleh Pejabat.&lt;br /&gt;(2) Penyitaan dilaksanakan apabila utang pajak tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam terhitung sejak tanggal Surat Paksa diberitahukan kepada Penanggung Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Barang milik Penanggung Pajak yang dapat disita adalah barang yang berada di tempat tinggal, tempat usaha, tempat kedudukan, atau di tempat lain termasuk yang penguasaannya berada di tangan pihak lain atau yang dijaminkan sebagai pelunasan utang tertentu yang dapat berupa:&lt;br /&gt;a. barang bergerak termasuk mobil, perhiasan, uang tunai, dan deposito    berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu, obligasi, saham, atau surat berharga lainnya, piutang, dan penyertaan modal pada perusahaan lain; dan atau&lt;br /&gt;b. barang tidak bergerak termasuk tanah, bangunan, dan kapal dengan isi kotor tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Terhadap Penanggung Pajak Orang Pribadi penyitaan dapat&lt;br /&gt;dilaksanakan atas barang milik pribadi yang bersangkutan, isteri, dan&lt;br /&gt;anak yang masih dalam tanggungan, kecuali dikehendaki secara tertulis&lt;br /&gt;oleh suami atau isteri berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan&lt;br /&gt;penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Terhadap Penanggung Pajak Badan penyitaan dapat dilaksanakan atas&lt;br /&gt;barang milik perusahaan, pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang,&lt;br /&gt;penanggung jawab, pemilik modal, baik di tempat kedudukan yang&lt;br /&gt;bersangkutan, di tempat tinggal mereka maupun di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Penyitaan dilaksanakan dengan mendahulukan barang bergerak kecuali&lt;br /&gt;dalam keadaan tertentu dapat dilaksanakan langsung terhadap barang&lt;br /&gt;tidak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Urutan barang bergerak dan atau barang tidak bergerak yang disita&lt;br /&gt;ditentukan oleh Jurusita Pajak dengan memperhatikan jumlah utang pajak&lt;br /&gt;dan biaya penagihan pajak, kemudahan penjualan atau pencairannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                             Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Penyitaan dilaksanakan oleh Jurusita Pajak dengan disaksikan oleh&lt;br /&gt;sekurang-kurangnya 2 (dua) orang yang telah dewasa, penduduk&lt;br /&gt;Indonesia, dikenal oleh Jurusita Pajak dan dapat dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Dalam melaksanakan penyitaan, Jurusita Pajak harus :&lt;br /&gt;a. memperlihatkan kartu tanda pengenal Jurusita Pajak;&lt;br /&gt;  b. memperlihatkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan; dan&lt;br /&gt;  c. memberitahukan tentang maksud dan tujuan penyitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Setiap melaksanakan penyitaan Jurusita Pajak harus membuat Berita&lt;br /&gt;Acara Pelaksanaan Sita yang ditandatangani oleh Jurusita Pajak,&lt;br /&gt;Penanggung Pajak dan saksi-saksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Dalam hal Penanggung Pajak menolak untuk menandatangani Berita&lt;br /&gt;Acara Pelaksanaan Sita, Jurusita Pajak harus mencantumkan penolakan&lt;br /&gt;tersebut dalam Berita Acara Pelaksanaan Sita, dan Berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Pelaksanaan Sita tersebut ditandatangani oleh Jurusita Pajak dan&lt;br /&gt;saksi-saksi, dan Berita Acara Pelaksanaan Sita tersebut tetap sah dan&lt;br /&gt;mempunyai kekuatan mengikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Penyitaan tetap dapat dilaksanakan walaupun Penanggung Pajak tidak&lt;br /&gt;hadir, sepanjang salah seorang saksi sebagaimana dimaksud dalam ayat&lt;br /&gt;(1) berasal dari Pemerintah Daerah setempat, sekurang-kurangnya&lt;br /&gt;setingkat Sekretaris Kelurahan atau Sekretaris Desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Dalam hal pelaksanaan penyitaan tidak dihadiri oleh Penanggung&lt;br /&gt;Pajak, Berita Acara Pelaksanaan Sita ditandatangani oleh Jurusita&lt;br /&gt;Pajak dan saksi-saksi, dan Berita Acara Pelaksanaan Sita tersebut&lt;br /&gt;tetap sah dan mempunyai kekuatan mengikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita dapat ditempelkan pada&lt;br /&gt;barang bergerak dan atau barang tidak bergerak yang disita, atau di&lt;br /&gt;tempat barang bergerak dan atau barang tidak bergerak yang disita&lt;br /&gt;berada, atau di tempat-tempat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8) Salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita disampaikan kepada:&lt;br /&gt;a. Penanggung Pajak;&lt;br /&gt;  b. Kepolisian untuk barang bergerak yang kepemilikannya terdaftar;&lt;br /&gt;  c. Badan Pertanahan Nasional, untuk tanah yang kepemilikannya&lt;br /&gt;  sudah terdaftar;&lt;br /&gt;  d. Pemerintah Daerah dan Pengadilan Negeri setempat, untuk tanah&lt;br /&gt;  yang kepemilikannya belum terdaftar;&lt;br /&gt;  e. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, untuk kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(1) Penyitaan terhadap perhiasan emas, permata dan sejenisnya&lt;br /&gt;dilaksanakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. membuat rincian tentang jenis, jumlah dan harga perhiasan yang&lt;br /&gt;  disita dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita Acara&lt;br /&gt;  Pelaksanaan Sita;&lt;br /&gt;  b. membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Penyitaan terhadap uang tunai termasuk mata uang asing&lt;br /&gt;dilaksanakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. menghitung terlebih dahulu uang tunai yang disita dan membuat&lt;br /&gt;  rinciannya dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita Acara&lt;br /&gt;  Pelaksanaan Sita;&lt;br /&gt;  b. membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita;&lt;br /&gt;  c. menyimpan uang tunai yang telah disita dalam tempat penyimpanan&lt;br /&gt;  yang selanjutnya ditempeli dengan segel sita dan kemudian&lt;br /&gt;  menitipkannya pada Penanggung Pajak atau menitipkannya pada bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Penyitaan terhadap kekayaan Penanggung Pajak yang disimpan di bank&lt;br /&gt;berupa deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro, atau&lt;br /&gt;bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dilaksanakan sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;a. Pejabat mengajukan permintaan pemblokiran kepada bank disertai&lt;br /&gt;  dengan penyampaian Salinan Surat Paksa dan Surat Perintah&lt;br /&gt;  Melaksanakan Penyitaan;&lt;br /&gt;  b. bank wajib memblokir seketika setelah menerima permintaan&lt;br /&gt;  pemblokiran dari Pejabat dan membuat berita acara pemblokiran&lt;br /&gt;  serta menyampaikan salinannya kepada Pejabat dan Penanggung Pajak;&lt;br /&gt;  c. Jurusita Pajak setelah menerima berita acara pemblokiran dari&lt;br /&gt;  bank memerintahkan Penanggung Pajak untuk memberi kuasa kepada&lt;br /&gt;  bank agar memberitahukan saldo kekayaannya yang tersimpan pada&lt;br /&gt;  bank tersebut kepada Jurusita Pajak;&lt;br /&gt;  d. dalam hal Penanggung Pajak tidak memberikan kuasa kepada bank&lt;br /&gt;  sebagaimana dimaksud dalam huruf c, Pejabat meminta Bank Indonesia&lt;br /&gt;  melalui Menteri Keuangan untuk memerintahkan bank untuk&lt;br /&gt;  memberitahukan saldo kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada&lt;br /&gt;  bank yang dimaksud;&lt;br /&gt;  e. setelah saldo kekayaan yang tersimpan pada bank diketahui,&lt;br /&gt;  Jurusita Pajak melaksanakan penyitaan dan membuat Berita Acara&lt;br /&gt;  Pelaksanaan Sita, dan menyampaikan salinan Berita Acara&lt;br /&gt;  Pelaksanaan Sita kepada Penanggung Pajak dan bank yang&lt;br /&gt;  bersangkutan;&lt;br /&gt;  f. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran kepada&lt;br /&gt;  bank setelah Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya&lt;br /&gt;  penagihan pajak;&lt;br /&gt;  g. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran terhadap&lt;br /&gt;  kekayaan Penanggung Pajak setelah dikurangi dengan jumlah yang&lt;br /&gt;  disita apabila utang pajak dan Biaya Penagihan Pajak tidak&lt;br /&gt;  dilunasi oleh Penanggung Pajak sekalipun telah dilakukan&lt;br /&gt;  pemblokiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Penyitaan terhadap surat berharga berupa obligasi, saham, dan&lt;br /&gt;sejenisnya yang diperdagangkan di bursa efek dilaksanakan sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;a. Pemblokiran Rekening Efek pada Kustodian dilakukan berdasarkan&lt;br /&gt;  permintaan tertulis dari Direktur Jenderal Pajak atau Pejabat yang&lt;br /&gt;  ditunjuknya kepada Ketua Badan Pengawas&lt;br /&gt;  Pasar Modal dengan menyebutkan nama Pemegang Rekening atau nomor&lt;br /&gt;  Pemegang Rekening sebagai Penanggung Pajak, sebab dan alasan&lt;br /&gt;  perlunya pemblokiran tersebut dilakukan;&lt;br /&gt;  b. Berdasarkan permintaan Direktur Jenderal Pajak atau Pejabat&lt;br /&gt;  yang ditunjuknya sebagaimana dimaksud pada huruf a, Ketua Badan&lt;br /&gt;  Pengawas Pasar Modal dapat menyampaikan perintah tertulis kepada&lt;br /&gt;  Kustodian untuk melakukan pemblokiran terhadap Rekening Efek&lt;br /&gt;  Penanggung Pajak;&lt;br /&gt;  c. Berdasarkan perintah tertulis dari Ketua Badan Pengawas Pasar&lt;br /&gt;  Modal sebagaimana dimaksud pada huruf b, Kustodian melakukan&lt;br /&gt;  pemblokiran;&lt;br /&gt;  d. Dalam hal permintaan pemblokiran tersebut disertai dengan&lt;br /&gt;  permintaan keterangan tentang Rekening Efek pada Kustodian, maka&lt;br /&gt;  permintaan tertulis dari Direktur Jenderal Pajak harus memuat nama&lt;br /&gt;  Pejabat yang berwenang mendapat keterangan tersebut;&lt;br /&gt;  e. Kustodian yang melakukan pemblokiran dan memberikan keterangan&lt;br /&gt;  tentang Rekening Efek Pemegang Rekening membuat Berita Acara&lt;br /&gt;  Pemblokiran dan Berita Acara Pemberian Keterangan;&lt;br /&gt;  f. Berita Acara Pemblokiran dan Berita Acara Pemberian Keterangan&lt;br /&gt;  tersebut disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak dan salinannya&lt;br /&gt;  disampaikan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Pemegang&lt;br /&gt;  Rekening sebagai Penanggung Pajak, selambat-lambatnya 2 (dua) hari&lt;br /&gt;  kerja setelah pemblokiran dan pemberian keterangan tersebut&lt;br /&gt;  dilakukan;&lt;br /&gt;  g. Jurusita Pajak melaksanakan penyitaan atas Efek dan atau dana&lt;br /&gt;  dalam Rekening Efek pada Kustodian segera setelah menerima Berita&lt;br /&gt;  Acara Pemblokiran dan Berita Acara Pemberian Keterangan;&lt;br /&gt;  h. Jurusita Pajak yang melakukan penyitaan harus membuat Berita&lt;br /&gt;  Acara Pelaksanaan Sita yang ditandatangani oleh Jurusita Pajak,&lt;br /&gt;  Penanggung Pajak dan saksi-saksi;&lt;br /&gt;  i. Dalam hal Penanggung Pajak tidak hadir, Berita Acara&lt;br /&gt;  Pelaksanaan Sita ditandatangani oleh Jurusita Pajak dan&lt;br /&gt;  saksi-saksi;&lt;br /&gt;  j. Berita Acara Pelaksanaan Sita disampaikan kepada Penanggung&lt;br /&gt;  Pajak, dan salinannya disampaikan kepada Ketua Badan Pengawas&lt;br /&gt;  Pasar Modal dan Kustodian;&lt;br /&gt;  k. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran terhadap&lt;br /&gt;  Rekening Efek Penanggung Pajak kepada Kustodian, setelah&lt;br /&gt;  Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak;&lt;br /&gt;  l. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran terhadap&lt;br /&gt;  Rekening Efek Penanggung Pajak setelah dikurangi dengan jumlah&lt;br /&gt;  yang disita apabila utang pajak dan Biaya Penagihan Pajak tidak&lt;br /&gt;  dilunasi oleh Penanggung Pajak sekalipun telah dilakukan&lt;br /&gt;  pemblokiran;&lt;br /&gt;  m. Efek yang diperdagangkan di bursa yang telah disita, dijual di&lt;br /&gt;  bursa melalui Perantara Pedagang Efek Anggota Bursa atas&lt;br /&gt;  permintaan Pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Penyitaan terhadap surat berharga berupa obligasi, saham, dan&lt;br /&gt;sejenisnya yang tidak diperdagangkan di bursa efek dilaksanakan&lt;br /&gt;sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. melakukan inventarisasi dan membuat rincian tentang jenis, jumlah&lt;br /&gt;  dan nilai nominal atau perkiraan nilai lainnya dari surat berharga&lt;br /&gt;  yang disita dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita&lt;br /&gt;  Acara Pelaksanaan Sita;&lt;br /&gt;  b. membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita;&lt;br /&gt;  c. membuat Berita Acara Pengalihan Hak Surat Berharga atas nama&lt;br /&gt;  dari Penanggung Pajak kepada Pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Penyitaan terhadap piutang dilaksanakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. melakukan inventarisasi dan membuat rincian tentang jenis dan&lt;br /&gt;  jumlah piutang yang disita dalam suatu daftar yang merupakan&lt;br /&gt;  lampiran Berita Acara Pelaksanaan Sita;&lt;br /&gt;  b. membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita;&lt;br /&gt;  c. membuat Berita Acara Persetujuan Pengalihan Hak Menagih Piutang&lt;br /&gt;  dari Penanggung Pajak kepada Pejabat, dan salinannya disampaikan&lt;br /&gt;  kepada Penanggung Pajak dan pihak yang berkewajiban membayar&lt;br /&gt;  utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Penyitaan terhadap penyertaan modal pada perusahaan lain yang&lt;br /&gt;tidak ada surat sahamnya dilaksanakan sebagi berikut :&lt;br /&gt;a. melakukan inventarisasi dan membuat rincian tentang jumlah&lt;br /&gt;  penyertaan modal pada perusahaan lain dalam suatu daftar yang&lt;br /&gt;  merupakan lampiran Berita Acara Pelaksanaan Sita;&lt;br /&gt;  b. membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita;&lt;br /&gt;  c. membuat Akte Persetujuan Pengalihan Hak Penyertaan Modal pada&lt;br /&gt;  perusahaan lain dari Penanggung Pajak kepada Pejabat, dan&lt;br /&gt;  salinannya disampaikan kepada perusahaan tempat penyertaan modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8) Tata cara pemblokiran diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                             Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyitaan terhadap barang yang telah disita oleh Kejaksaan atau&lt;br /&gt;Kepolisian sebagai barang bukti dalam kasus pidana, baru dapat&lt;br /&gt;dilaksanakan setelah barang bukti tersebut dikembalikan kepada&lt;br /&gt;Penanggung Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak dilaksanakan sampai&lt;br /&gt;dengan jumlah nilai barang yang disita diperkirakan cukup untuk&lt;br /&gt;melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   (1) Barang yang telah disita dititipkan kepada Penanggung Pajak,&lt;br /&gt;  kecuali apabila menurut pertimbangan Jurusita Pajak barang sitaan&lt;br /&gt;  tersebut perlu disimpan di kantor Pejabat atau di tempat lain.&lt;br /&gt;  (2) Dalam hal penyitaan tidak dihadiri oleh Penanggung Pajak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. barang bergerak yang telah disita dapat dititipkan kepada aparat&lt;br /&gt;  Pemerintah Daerah setempat yang menjadi saksi dalam pelaksanaan&lt;br /&gt;  sita;&lt;br /&gt;  b. barang tidak bergerak pengawasannya diserahkan kepada aparat&lt;br /&gt;  Pemerintah Daerah setempat yang menjadi saksi dalam pelaksanaan&lt;br /&gt;  sita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Tempat lain yang dapat digunakan sebagai tempat penitipan barang&lt;br /&gt;yang telah disita sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah Kantor&lt;br /&gt;Pegadaian, bank, Kantor Pos atau tempat lain yang ditetapkan oleh&lt;br /&gt;Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penyitaan tambahan dapat dilaksanakan apabila:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. nilai barang yang disita nilainya tidak cukup untuk melunasi biaya&lt;br /&gt;penagihan pajak dan utang pajak; atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. hasil lelang barang yang telah disita tidak cukup untuk melunasi&lt;br /&gt;biaya penagihan pajak dan utang pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Atas barang yang disita dapat ditempeli atau diberi segel sita.&lt;br /&gt;  (2) Penempelan segel sita dilaksanakan dengan memperhatikan jenis,&lt;br /&gt;  sifat dan bentuk barang sitaan.&lt;br /&gt;  (3) Segel sita sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memuat&lt;br /&gt;  sekurang-kurangnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. kata " DISITA";&lt;br /&gt;  b. nomor dan tanggal Berita Acara Pelaksanaan Sita;&lt;br /&gt;  c. larangan untuk memindahtangankan, memindahkan hak, meminjamkan,&lt;br /&gt;  merusak barang yang disita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(1) Pencabutan sita dilaksanakan apabila Penanggung Pajak telah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak atau berdasarkan&lt;br /&gt;putusan pengadilan atau berdasarkan putusan badan peradilan pajak atau&lt;br /&gt;ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan atau Gubernur atau&lt;br /&gt;Bupati/Walikota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Pencabutan sita sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan&lt;br /&gt;berdasarkan Surat Pencabutan Sita yang diterbitkan oleh Pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Surat Pencabutan Sita sekaligus berfungsi sebagai pencabutan&lt;br /&gt;Berita Acara Pelaksanaan Sita disampaikan oleh Jurusita Pajak kepada&lt;br /&gt;Penanggung Pajak dan instansi yang terkait, diikuti dengan&lt;br /&gt;pengembalian penguasaan barang yang disita kepada Penanggung Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Pencabutan sita terhadap :&lt;br /&gt;a. deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro atau yang&lt;br /&gt;  dipersamakan dengan itu dilaksanakan dengan menyampaikan Surat&lt;br /&gt;  Pencabutan Sita kepada Penanggung Pajak dan tembusannya&lt;br /&gt;  disampaikan kepada bank yang bersangkutan;&lt;br /&gt;  b. surat berharga berupa obligasi, saham atau sejenisnya baik yang&lt;br /&gt;  diperdagangkan maupun yang tidak diperdagangkan di bursa efek&lt;br /&gt;  dilaksanakan dengan menyampaikan Surat Pencabutan Sita kepada&lt;br /&gt;  Penanggung Pajak dan tembusannya disampaikan kepada pihak terkait&lt;br /&gt;  yang sekaligus berfungsi sebagai pembatalan Berita Acara&lt;br /&gt;  Pengalihan Hak Atas Surat Berharga tersebut;&lt;br /&gt;  c. piutang dilaksanakan dengan menyampaikan Surat Pencabutan Sita&lt;br /&gt;  kepada Penanggung Pajak dan tembusannya disampaikan kepada pihak&lt;br /&gt;  yang berutang yang sekaligus berfungsi sebagai pembatalan Berita&lt;br /&gt;  Acara Persetujuan Pengalihan Hak Menagih Piutang;&lt;br /&gt;  d. penyertaan modal pada perusahaan lain dilaksanakan dengan&lt;br /&gt;  menyampaikan Surat Pencabutan Sita kepada Penanggung Pajak dan&lt;br /&gt;  tembusannya disampaikan kepada pihak terkait serta membuat Akte&lt;br /&gt;  Pembatalan Pengalihan Hak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penanggung Pajak dilarang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. memindahkan hak, memindahtangankan, menyewakan, meminjamkan,&lt;br /&gt;menyembunyikan, menghilangkan, atau merusak barang yang telah disita;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. membebani barang tidak bergerak yang telah disita dengan hak&lt;br /&gt;tanggungan untuk pelunasan utang tertentu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. membebani barang bergerak yang telah disita dengan fidusia atau&lt;br /&gt;diagunkan untuk pelunasan utang tertentu; dan atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. merusak, mencabut, atau menghilangkan segel sita atau salinan&lt;br /&gt;Berita Acara Pelaksanaan Sita yang telah ditempel pada barang sitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 13&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(1) Pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan penyitaan atas&lt;br /&gt;barang-barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3) huruf b,&lt;br /&gt;huruf c, huruf d, huruf e dan huruf f Undang-undang Nomor 19 Tahun&lt;br /&gt;1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah&lt;br /&gt;diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000, wajib membantu&lt;br /&gt;pelaksanaan penyitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Setiap orang dilarang dengan sengaja untuk tidak menuruti perintah&lt;br /&gt;atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang, atau dengan&lt;br /&gt;sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan&lt;br /&gt;penagihan pajak yang dilakukan oleh Juru Sita Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(1) Apabila utang pajak dan atau biaya penagihan pajak tidak dilunasi&lt;br /&gt;setelah dilaksanakan penyitaan, Pejabat berwenang melaksanakan&lt;br /&gt;penjualan secara lelang atau tidak secara lelang, maupun menggunakan&lt;br /&gt;atau memindahbukukan barang yang disita untuk pelunasan utang pajak&lt;br /&gt;dan atau biaya penagihan pajak dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Penjualan secara lelang dilakukan melalui Kantor Lelang dan&lt;br /&gt;dilaksanakan paling cepat setelah jangka waktu 14 (empat belas) hari&lt;br /&gt;terhitung sejak Pengumuman Lelang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Pengumuman Lelang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2),&lt;br /&gt;dilaksanakan paling cepat setelah lewat jangka waktu 14 (empat belas)&lt;br /&gt;hari terhitung sejak penyitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Apabila hasil lelang sudah mencapai jumlah yang cukup untuk&lt;br /&gt;melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak, maka pelaksanaan&lt;br /&gt;lelang dihentikan dan sisa barang serta kelebihan uang hasil lelang&lt;br /&gt;dikembalikan oleh Pejabat kepada Penanggung Pajak paling lambat 3&lt;br /&gt;(tiga) hari setelah pelaksanaan lelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 15&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penanggung Pajak dapat melunasi utang pajak dan biaya yang timbul&lt;br /&gt;dalam rangka penagihan pajak selama barang yang telah disita belum&lt;br /&gt;dijual, digunakan atau dipindahbukukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   (1) Besarnya biaya penagihan pajak adalah Rp50.000,00 (lima puluh&lt;br /&gt;  ribu rupiah) untuk setiap pemberitahuan Surat Paksa dan&lt;br /&gt;  Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk setiap pelaksanaan Surat&lt;br /&gt;  Perintah Melaksanakan Penyitaan.&lt;br /&gt;  (2) Besarnya tambahan biaya penagihan pajak yang dibayar oleh&lt;br /&gt;  Penanggung Pajak dalam hal barang yang telah disita dijual adalah&lt;br /&gt;  sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. secara lelang, 1% (satu persen) dari pokok lelang.&lt;br /&gt;  b. tidak secara lelang, 1% (satu persen) dari hasil penjualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Biaya penagihan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan&lt;br /&gt;tambahan biaya penagihan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)&lt;br /&gt;merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Tata cara pengelolaan dan penggunaan biaya penagihan pajak dan&lt;br /&gt;tambahan biaya penagihan pajak diatur sesuai dengan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                             BAB III&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;                        KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                             Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi pelaksanaan Peraturan&lt;br /&gt;Pemerintah ini diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 18&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Peraturan Pemerintah&lt;br /&gt;Nomor 3 Tahun 1998 tentang Tata Cara Penyitaan Dalam Rangka Penagihan&lt;br /&gt;Pajak Dengan Surat Paksa (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun&lt;br /&gt;1998 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3725) dinyatakan tidak&lt;br /&gt;berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                              Pasal 19&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan&lt;br /&gt;Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABDURRAHMAN WAHID&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;   Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;  pada tanggal&lt;br /&gt;  SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  DJOHAN EFFENDI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000 NOMOR&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                            PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                        NOMOR 135 TAHUN 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                             TENTANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 TATA CARA PENYITAAN DALAM RANGKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UMUM&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Pasal 24 Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang&lt;br /&gt;Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan&lt;br /&gt;Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000, dengan Peraturan Pemerintah ini&lt;br /&gt;diatur tentang tata cara penyitaan barang milik Penanggung Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya masih dijumpai adanya tunggakan pajak sebagai&lt;br /&gt;akibat tidak dilunasinya utang pajak sebagaimana mestinya. Dalam&lt;br /&gt;rangka pencairan tunggakan pajak maka terhadap Penanggung Pajak yang&lt;br /&gt;belum melunasi utang pajaknya dilakukan Penagihan Pajak dengan Surat&lt;br /&gt;Paksa dalam bentuk tindakan penyitaan terhadap barang milik Penanggung&lt;br /&gt;Pajak untuk dijadikan jaminan pelunasan utang pajak dan biaya&lt;br /&gt;penagihan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melaksanakan penyitaan barang milik Penanggung Pajak tersebut&lt;br /&gt;diperlukan suatu prosedur yang mengatur secara rinci, jelas dan tegas&lt;br /&gt;yang meliputi status, nilai, serta tempat penyimpanan atau penitipan&lt;br /&gt;barang sitaan milik Penanggung Pajak dengan tetap memberikan&lt;br /&gt;perlindungan kepentingan pihak ketiga maupun masyarakat Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka upaya mengamankan penerimaan negara yang berasal dari&lt;br /&gt;pencairan tunggakan pajak, Peraturan Pemerintah ini mengatur sanksi&lt;br /&gt;pidana terhadap Penanggung Pajak yang melanggar ketentuan tentang&lt;br /&gt;penagihan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;  Pasal 1&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Pasal 2&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Pasal 3&lt;br /&gt;  Ayat (1)&lt;br /&gt;  Tujuan penyitaan adalah memperoleh jaminan pelunasan utang pajak&lt;br /&gt;  dari Penanggung Pajak. Oleh karena itu penyitaan dapat&lt;br /&gt;  dilaksanakan terhadap semua barang Penanggung Pajak, baik yang&lt;br /&gt;  berada di tempat tinggal, tempat usaha, tempat kedudukan&lt;br /&gt;  Penanggung Pajak atau di tempat lain termasuk yang penguasaanya&lt;br /&gt;  berada ditangan pihak lain atau yang dijaminkan sebagai pelunasan&lt;br /&gt;  utang tertentu, misalnya barang yang dihipotikkan, digadaikan atau&lt;br /&gt;  diagunkan.&lt;br /&gt;  Yang dimaksud dengan penguasaan berada ditangan pihak lain,&lt;br /&gt;  misalnya disewakan atau dipinjamkan.&lt;br /&gt;  Yang dimaksud dengan tabungan adalah simpanan sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;  dalam Undang-undang Perbankan.&lt;br /&gt;  Yang dimaksud dengan kapal dengan isi kotor tertentu adalah kapal&lt;br /&gt;  dengan isi kotor paling sedikit 20 (dua puluh) meter kubik.&lt;br /&gt;  Ayat (2)&lt;br /&gt;  Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak Orang Pribadi&lt;br /&gt;  termasuk penyitaan terhadap barang milik isteri, dan atau milik&lt;br /&gt;  anak-anak yang masih menjadi tanggungannya. Ketentuan ini&lt;br /&gt;  dimaksudkan untuk mengantisipasi penghindaran penyitaan terhadap&lt;br /&gt;  barang yang sebenarnya adalah milik Penanggung Pajak sendiri&lt;br /&gt;  tetapi diatasnamakan isteri atau anaknya. Sedangkan yang dimaksud&lt;br /&gt;  dengan perjanjian pemisahan harta adalah perjanjian yang dibuat&lt;br /&gt;  sebelum perkawinan dilakukan.&lt;br /&gt;  Ayat (3)&lt;br /&gt;  Ketentuan tentang penyitaan terhadap barang-barang milik&lt;br /&gt;  Penanggung Pajak Badan, pada dasarnya dilakukan terhadap barang&lt;br /&gt;  milik perusahaan. Namun apabila nilai barang tersebut tidak&lt;br /&gt;  mencukupi atau barang milik perusahaan tidak dapat ditemukan atau&lt;br /&gt;  karena kesulitan dalam melaksanakan penyitaan terhadap barang&lt;br /&gt;  milik perusahaan, maka penyitaan dapat dilakukan terhadap&lt;br /&gt;  barang-barang milik pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang,&lt;br /&gt;  penanggung jawab, pemilik modal atau ketua untuk yayasan kecuali&lt;br /&gt;  mereka dapat membuktikan bahwa tidak ikut bertanggung jawab&lt;br /&gt;  sehubungan dengan terjadinya utang pajak tersebut.&lt;br /&gt;  Ayat (4)&lt;br /&gt;  Pada dasarnya penyitaan dilaksanakan dengan mendahulukan barang&lt;br /&gt;  bergerak namun dalam keadaan tertentu penyitaan dapat dilaksanakan&lt;br /&gt;  langsung terhadap barang tidak bergerak tanpa melaksanakan&lt;br /&gt;  penyitaan terhadap barang bergerak. Keadaan tertentu misalnya&lt;br /&gt;  Jurusita Pajak tidak menjumpai barang bergerak yang dapat&lt;br /&gt;  dijadikan objek sita atau barang bergerak yang dijumpai tidak&lt;br /&gt;  mempunyai nilai atau harganya tidak memadai jika dibandingkan&lt;br /&gt;  dengan Utang pajaknya.&lt;br /&gt;  Ayat (5)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Pasal 4&lt;br /&gt;  Ayat (1)&lt;br /&gt;  Kehadiran para saksi dimaksudkan untuk menyakinkan bahwa&lt;br /&gt;  pelaksanaan penyitaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang&lt;br /&gt;  berlaku.&lt;br /&gt;  Ayat (2)&lt;br /&gt;  Ketentuan ini mengatur keharusan bagi Jurusita Pajak dalam&lt;br /&gt;  melaksanakan kewajibannya dilengkapi dengan kartu tanda pengenal&lt;br /&gt;  yang diterbitkan oleh Pejabat. Hal ini dimaksudkan sebagai bukti&lt;br /&gt;  diri bagi Jurusita Pajak bahwa yang bersangkutan adalah Jurusita&lt;br /&gt;  Pajak yang sah dan betul-betul bertugas untuk melaksanakan&lt;br /&gt;  tindakan penagihan pajak.&lt;br /&gt;  Ayat (3)&lt;br /&gt;  Berita Acara Pelaksanaan Sita merupakan pemberitahuan kepada&lt;br /&gt;  Penanggung Pajak dan masyarakat bahwa penguasaan barang Penanggung&lt;br /&gt;  Pajak telah berpindah dari Penanggung Pajak kepada Pejabat. Oleh&lt;br /&gt;  karena itu, dalam setiap penyitaan Jurusita Pajak harus membuat&lt;br /&gt;  Berita Acara Pelaksanaan Sita secara jelas dan lengkap yang&lt;br /&gt;  sekurang-kurangnya memuat hari dan tanggal, nomor, nama Jurusita&lt;br /&gt;  Pajak, nama Penanggung Pajak, nama saksi, nama dan jenis barang&lt;br /&gt;  yang disita dan tempat penyitaan.&lt;br /&gt;  Penandatanganan Berita Acara Pelaksanaan Sita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- untuk perseroan terbatas oleh pengurus meliputi Direksi, Komisaris,&lt;br /&gt;  pemegang saham tertentu, dan orang yang nyata-nyata mempunyai&lt;br /&gt;  wewenang ikut menentukan kebijaksanaan dan atau mengambil&lt;br /&gt;  keputusan dalam menjalankan perseroan.&lt;br /&gt;  Pengertian Komisaris meliputi Komisaris sebagai orang yang lazim&lt;br /&gt;  disebut Dewan Komisaris dan Komisaris sebagai orang perseroan yang&lt;br /&gt;  lazim disebut anggota Komisaris. Yang dimaksud dengan pemegang&lt;br /&gt;  saham tertentu adalah pemegang saham pengendali atau pemegang&lt;br /&gt;  saham mayoritas dari perseroan terbatas terbuka dan seluruh&lt;br /&gt;  pemegang saham dari perseroan terbatas tertutup;&lt;br /&gt;  - untuk Bentuk Usaha Tetap oleh kepala perwakilan, kepala cabang&lt;br /&gt;  atau penanggung jawab;&lt;br /&gt;  - untuk badan usaha lainnya seperti persekutuan, perseroan&lt;br /&gt;  komaditer, firma oleh direktur, pemilik modal atau orang yang&lt;br /&gt;  ditunjuk untuk melaksanakan dan mengendalikan serta bertanggung&lt;br /&gt;  jawab atas perusahaan dimaksud;&lt;br /&gt;  - untuk yayasan oleh ketua, atau orang yang melaksanakan dan&lt;br /&gt;  mengendalikan serta bertanggung jawab atas yayasan dimaksud.&lt;br /&gt;  Penandatanganan ini dimaksudkan untuk memberi pengertian bahwa&lt;br /&gt;  mereka turut bertanggung jawab atas kewajiban badan usaha tersebut&lt;br /&gt;  sehingga barang-barang milik mereka juga dapat dijadikan jaminan&lt;br /&gt;  utang pajak (dapat disita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan seorang saksi dari Pemerintah Daerah setempat&lt;br /&gt;setingkat Sekretaris Kelurahan atau Sekretaris Desa adalah pegawai&lt;br /&gt;Pemerintah Daerah setempat sekurang-kurangnya golongan II/a di Kantor&lt;br /&gt;Kelurahan/Desa atau di Kantor Kecamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan sita yang tidak dihadiri oleh Penanggung Pajak,&lt;br /&gt;Berita Acara Pelaksanaan Sita harus memuat alasan ketidakhadiran&lt;br /&gt;Penanggung Pajak. Saksi dari Pemerintah Daerah setempat diperlukan&lt;br /&gt;sebagai saksi legalisator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya terhadap barang yang disita harus ditempeli salinan&lt;br /&gt;Berita Acara Pelaksanaan Sita kecuali jika sesuai dengan sifatnya&lt;br /&gt;barang yang disita tidak dapat ditempeli salinan Berita Acara&lt;br /&gt;Pelaksanaan Sita, misalnya uang tunai atau sebidang tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tempat-tempat umum seperti kantor kelurahan/desa,&lt;br /&gt;papan pengumuman di kantor Pejabat dan instansi terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui nilai perhiasan yang disita Jurusita Pajak dapat&lt;br /&gt;meminta bantuan jasa penilai untuk mendapatkan taksiran harga&lt;br /&gt;perhiasan yang tidak diketahui harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memperkirakan nilai barang yang disita, harus memperhatikan&lt;br /&gt;jumlah dan jenis barang berdasarkan harga wajar sehingga Jurusita&lt;br /&gt;Pajak tidak dapat melakukan penyitaan secara berlebihan. Dalam hal&lt;br /&gt;tertentu Jurusita Pajak dimungkinkan untuk meminta bantuan Jasa&lt;br /&gt;Penilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;  Ayat (1)&lt;br /&gt;  Meskipun barang yang telah disita penguasaannya beralih dari&lt;br /&gt;  penanggung Pajak kepada Pejabat, penyimpanannya dititipkan kepada&lt;br /&gt;  Penanggung Pajak, misalnya tanah dan atau bangunan. Namun ada&lt;br /&gt;  barang karena sifatnya atau karena pertimbangan tertentu dari&lt;br /&gt;  Jurusita Pajak penyimpanannya dapat dititipkan pada bank atau&lt;br /&gt;  kantor pegadaian atau disimpan di kantor Pejabat seperti perhiasan&lt;br /&gt;  atau peralatan elektronik.&lt;br /&gt;  Dasar pertimbangan Jurusita Pajak untuk menentukan apakah barang&lt;br /&gt;  Penanggung Pajak yang telah disita perlu dititipkan di kantor&lt;br /&gt;  Pejabat atau tempat lain antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. resiko kehilangan, kecurian, atau kerusakan;&lt;br /&gt;  b. jenis, sifat, ukuran, atau jumlah barang yang disita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila diperkirakan hasil lelang barang yang disita tidak cukup untuk&lt;br /&gt;melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak, Jurusita Pajak dapat&lt;br /&gt;melaksanakan penyitaan tambahan terhadap barang milik Penanggung Pajak&lt;br /&gt;yang belum disita. Dengan demikian penyitaan dapat dilaksanakan lebih&lt;br /&gt;dari satu kali sampai dengan jumlah yang cukup untuk melunasi utang&lt;br /&gt;pajak dan biaya penagihan pajak baik sebelum diumumkan lelang maupun&lt;br /&gt;sesudah penjualan barang secara lelang atau tidak secara lelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;  Ayat (1)&lt;br /&gt;  Penempelan atau pemberian segel sita pada barang yang disita&lt;br /&gt;  dimaksudkan sebagai pengumuman bahwa penyitaan telah dilaksanakan,&lt;br /&gt;  baik dihadiri maupun tidak dihadiri oleh Penanggung Pajak.&lt;br /&gt;  Ayat (2)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Ayat (3)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Pasal 11&lt;br /&gt;  Ayat (1)&lt;br /&gt;  Yang dimaksud dengan putusan pengadilan adalah putusan hakim dari&lt;br /&gt;  peradilan umum.&lt;br /&gt;  Ayat (2)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Ayat (3)&lt;br /&gt;  Penyampaian Surat Pencabutan Sita kepada instansi terkait&lt;br /&gt;  dimaksudkan sebagai pemberitahuan bahwa penguasaan barang telah&lt;br /&gt;  beralih dari Pejabat kepada Penanggung Pajak, baik penguasaan&lt;br /&gt;  barang sitaan yang dititipkan kepada Penanggung Pajak maupun&lt;br /&gt;  barang sitaan yang dititipkan di tempat lain.&lt;br /&gt;  Ayat(4)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Pasal 12&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Pasal 13&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Pasal 14&lt;br /&gt;  Ayat (1)&lt;br /&gt;  Barang yang disita yang penjualannya dilakukan tidak secara lelang&lt;br /&gt;  adalah uang tunai, kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada&lt;br /&gt;  bank seperti deposito, tabungan, saldo rekening koran, giro, atau&lt;br /&gt;  bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu; obligasi, saham atau&lt;br /&gt;  surat berharga lainnya, piutang dan penyertaan modal pada&lt;br /&gt;  perusahaan lainnya.&lt;br /&gt;  Ayat (2)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Ayat (3)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Ayat (4)&lt;br /&gt;  Termasuk sebagai biaya penagihan pajak adalah biaya lelang, biaya&lt;br /&gt;  jasa penilai, biaya penitipan barang.&lt;br /&gt;  Pasal 15&lt;br /&gt;  Cukup Jelas&lt;br /&gt;  Pasal 16&lt;br /&gt;  Ayat (1)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Ayat (2)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Ayat (3)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;  Ayat (4)&lt;br /&gt;  Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku&lt;br /&gt;  dalam ketentuan ini adalah peraturan perundang-undangan yang&lt;br /&gt;  berlaku di bidang Penerimaan Negara Bukan Pajak.&lt;br /&gt;  Pasal 17&lt;br /&gt;  Cukup Jelas&lt;br /&gt;  Pasal 18&lt;br /&gt;  Cukup Jelas&lt;br /&gt;  Pasal 19&lt;br /&gt;  Cukup Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4049&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-3881117216348443987?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/3881117216348443987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=3881117216348443987' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/3881117216348443987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/3881117216348443987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2008/12/peraturan-pemerintah-republik-indonesia.html' title='PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 135 TAHUN 2000'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-3303480262681738605</id><published>2008-12-18T16:57:00.002+07:00</published><updated>2008-12-31T05:01:04.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR  17  TAHUN 2000</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG&lt;br /&gt;NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang  :  bahwa dalam upaya untuk lebih memberikan keadilan dan meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak serta agar lebih dapat diciptakan kepastian hukum, perlu dilakukan perubahan terhadap Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat :  1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2), dan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Pertama Tahun 1999;&lt;br /&gt;2. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3984);&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; 3. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan  Lembaran  Negara  Nomor  3263)   sebagaimana   telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3567);&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dengan Persetujuan&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;Menetapkan :  UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal  I&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3263) yang telah beberapa kali diubah dengan Undang-undang :&lt;br /&gt;a. Nomor 7 Tahun 1991 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3459);&lt;br /&gt;b. Nomor 10 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3567);&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;diubah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ketentuan Pasal 2 ayat (1) huruf b dan ayat (6) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 2 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (1) Yang menjadi Subjek Pajak adalah:&lt;br /&gt; a. 1) orang pribadi;&lt;br /&gt;  2) warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak;&lt;br /&gt; b. badan;&lt;br /&gt; c. bentuk usaha tetap.&lt;br /&gt;(2) Subjek Pajak terdiri dari Subjek Pajak dalam negeri dan Subjek Pajak luar negeri.&lt;br /&gt;(3) Yang dimaksud dengan Subjek Pajak dalam negeri adalah:&lt;br /&gt; a. orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  b. badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia;&lt;br /&gt; c. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.&lt;br /&gt;(4) Yang dimaksud dengan Subjek Pajak luar negeri adalah:&lt;br /&gt; a. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia;&lt;br /&gt; b. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (5) Yang dimaksud dengan bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  a. tempat kedudukan manajemen;&lt;br /&gt; b. cabang perusahaan;&lt;br /&gt; c. kantor perwakilan;&lt;br /&gt; d. gedung kantor;&lt;br /&gt; e. pabrik;&lt;br /&gt; f. bengkel;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  g. pertambangan dan penggalian sumber alam, wilayah kerja pengeboran yang digunakan untuk eksplorasi pertambangan;&lt;br /&gt; h. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;&lt;br /&gt; i. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;&lt;br /&gt; j. pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;&lt;br /&gt; k. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;&lt;br /&gt; l. agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia.&lt;br /&gt;(6) Tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak menurut keadaan yang sebenarnya.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.  Ketentuan Pasal 3 huruf  b, huruf c, dan huruf d diubah, sehingga keseluruhan Pasal 3 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Tidak termasuk Subjek Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah:&lt;br /&gt;a.  badan perwakilan negara asing;&lt;br /&gt;b.  pejabat-pejabat perwakilan diplomatik, dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing, dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;&lt;br /&gt;c.  organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, dengan syarat:&lt;br /&gt; 1) Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut;&lt;br /&gt; 2) tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  d.  pejabat-pejabat  perwakilan  organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan  usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Ketentuan Pasal 4 ayat (1) huruf k, huruf o, dan ayat (3) huruf a dan huruf f diubah, sehingga keseluruhan Pasal 4  berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (1) Yang menjadi Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  a. penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang ini;&lt;br /&gt; b. hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  c. laba usaha;&lt;br /&gt; d. keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   1) keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;&lt;br /&gt;  2) keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota;&lt;br /&gt;  3) keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha;&lt;br /&gt;  4) keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;&lt;br /&gt; e. penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai  biaya;&lt;br /&gt; f. bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;&lt;br /&gt; g. dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  h. royalti;&lt;br /&gt; i. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;&lt;br /&gt; j. penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;&lt;br /&gt; k. keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;&lt;br /&gt; l. keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;&lt;br /&gt; m. selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;&lt;br /&gt; n. premi asuransi;&lt;br /&gt; o. iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;&lt;br /&gt; p. tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.&lt;br /&gt;(2) Atas penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan-tabungan lainnya, penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek, penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan serta penghasilan tertentu lainnya, pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;(3) Yang tidak  termasuk sebagai Objek Pajak adalah:&lt;br /&gt; a. 1) bantuan sumbangan,  termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan para penerima zakat yang berhak;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    2) harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan;&lt;br /&gt;   sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;&lt;br /&gt;  b. warisan;&lt;br /&gt;   c. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal;&lt;br /&gt;  d. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    e. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;&lt;br /&gt;   f. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, Badan Usaha Milik Negara, atau Badan Usaha Milik Daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:&lt;br /&gt;   1) dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     2) bagi perseroan terbatas, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor dan harus mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut;&lt;br /&gt;  g. iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;&lt;br /&gt;   h. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf g, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;&lt;br /&gt;   i. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi;&lt;br /&gt;   j. bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksadana selama 5 (lima) tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian ijin usaha;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    k. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:&lt;br /&gt;   1) merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan; dan&lt;br /&gt;    2) sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf a, huruf e, dan  ayat (2) diubah, serta ditambah 1 (satu) huruf yaitu huruf h,  sehingga keseluruhan Pasal 6 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (1) Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi:&lt;br /&gt;  a. biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalti, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, premi asuransi, biaya administrasi, dan pajak kecuali Pajak Penghasilan;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   b. penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 11A;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   c. iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan;&lt;br /&gt;  d. kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;&lt;br /&gt;  e. kerugian dari selisih kurs mata uang asing;&lt;br /&gt;  f. biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;&lt;br /&gt;  g. biaya bea siswa, magang, dan pelatihan;&lt;br /&gt;  h. piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, dengan syarat:&lt;br /&gt;  1) telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;&lt;br /&gt;  2) telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     3) telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; dan&lt;br /&gt;  4) Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak, yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;(2) Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didapat kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun.&lt;br /&gt;(3) Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Ketentuan Pasal 7 ayat (1) dan ayat (3) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 7 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (1) Penghasilan Tidak Kena Pajak diberikan sebesar:&lt;br /&gt; a. Rp 2.880.000,00 (dua juta delapan ratus delapan puluh ribu rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  b. Rp 1.440.000,00 (satu juta empat ratus empat puluh ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  c. Rp 2.880.000,00 (dua juta delapan ratus delapan puluh ribu rupiah) tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1);&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  d. Rp 1.440.000,00 (satu juta empat ratus empat puluh ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.&lt;br /&gt;(2) Penerapan ayat (1) ditentukan oleh keadaan pada awal tahun pajak atau awal bagian tahun pajak.&lt;br /&gt;(3) Penyesuaian besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Ketentuan Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf e, dan huruf g diubah, sehingga keseluruhan Pasal 9 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (1) Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan:&lt;br /&gt; a. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;&lt;br /&gt; b. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota;&lt;br /&gt; c. pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi, cadangan untuk usaha asuransi, dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, yang ketentuan dan syarat-syaratnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  d. premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan;&lt;br /&gt;e. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;&lt;br /&gt;f. jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; g. harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan atau Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah;&lt;br /&gt; h. Pajak Penghasilan;&lt;br /&gt; i. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya;&lt;br /&gt; j. gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  k. sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (2) Pengeluaran  untuk  mendapatkan,  menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11 A."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;7. Ketentuan Pasal 11 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (7), ayat (9), dan ayat (11) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 11 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; (1) Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut.&lt;br /&gt;(2) Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) selain bangunan, dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat asas.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (3) Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta tersebut.&lt;br /&gt;(4) Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, Wajib Pajak diperkenankan melakukan penyusutan mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang bersangkutan mulai menghasilkan.&lt;br /&gt;(5) Apabila Wajib Pajak melakukan penilaian kembali aktiva berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, maka dasar penyusutan atas harta adalah nilai setelah dilakukan penilaian kembali aktiva tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (6) Untuk menghitung penyusutan, masa manfaat dan tarif penyusutan harta berwujud ditetapkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Harta&lt;br /&gt;Berwujud&lt;br /&gt;Masa Manfaat&lt;br /&gt;Tarif penyusutan sebagaimana dimaksud dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Bukan bangunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok 1&lt;br /&gt;4 tahun&lt;br /&gt;25%&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;Kelompok 2&lt;br /&gt;8 tahun&lt;br /&gt;12,5%&lt;br /&gt;25%&lt;br /&gt;Kelompok 3&lt;br /&gt;16 tahun&lt;br /&gt;6,25%&lt;br /&gt;12,5%&lt;br /&gt;Kelompok 4&lt;br /&gt;20 tahun&lt;br /&gt;5%&lt;br /&gt;10%&lt;br /&gt;II. Bangunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permanen&lt;br /&gt;20 tahun&lt;br /&gt;5%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Permanen&lt;br /&gt;10 tahun&lt;br /&gt;10%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Menyimpang dari ketentuan sebagaimana diatur dalam ayat (1), ketentuan tentang penyusutan atas harta berwujud yang dimiliki dan digunakan dalam usaha tertentu, ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (8) Apabila terjadi pengalihan atau penarikan harta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf d atau penarikan harta karena sebab lainnya, maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah harga jual atau penggantian asuransinya yang diterima atau diperoleh dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penarikan harta tersebut.&lt;br /&gt;(9) Apabila hasil penggantian asuransi yang akan diterima jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti di masa kemudian, maka dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak jumlah sebesar kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (8) dibukukan sebagai beban masa kemudian tersebut.&lt;br /&gt;(10) Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, yang berupa harta berwujud, maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan.&lt;br /&gt;(11) Kelompok harta berwujud sesuai dengan masa manfaat sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. Ketentuan  Pasal  11A  ayat (1),  ayat (3), ayat (5), ayat (6), dan ayat (7) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 11A berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 11A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (1) Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar atau dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat diamortisasi sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas.&lt;br /&gt;(2) Untuk menghitung amortisasi, masa manfaat dan tarif amortisasi ditetapkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Harta&lt;br /&gt;Tak Berwujud&lt;br /&gt;Masa Manfaat&lt;br /&gt;Tarif Amortisasi berdasarkan metode&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garis&lt;br /&gt;Lurus&lt;br /&gt;Saldo&lt;br /&gt;Menurun&lt;br /&gt;Kelompok 1&lt;br /&gt;4 tahun&lt;br /&gt;25%&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;Kelompok 2&lt;br /&gt;8 tahun&lt;br /&gt;12,5%&lt;br /&gt;25%&lt;br /&gt;Kelompok 3&lt;br /&gt;16 tahun&lt;br /&gt;6,25%&lt;br /&gt;12,5%&lt;br /&gt;Kelompok 4&lt;br /&gt;20 tahun&lt;br /&gt;5%&lt;br /&gt;10%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (3) Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran atau diamortisasi sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).&lt;br /&gt;(4) Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun di bidang penambangan minyak dan gas bumi dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi.&lt;br /&gt;(5) Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain yang dimaksud dalam ayat (4), hak pengusahaan hutan, dan hak pengusahaan sumber alam serta hasil alam lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi paling tinggi 20% (dua puluh persen) setahun.&lt;br /&gt;(6) Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dikapitalisasi dan kemudian diamortisasi sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (7) Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud atau hak-hak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (4), dan ayat (5), maka nilai sisa buku harta atau hak-hak tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah yang diterima sebagai penggantian merupakan penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan tersebut.&lt;br /&gt;(8) Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, yang berupa harta tak berwujud, maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan. "&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9. Ketentuan Pasal 14 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diubah, serta  ayat (6) dihapus, sehingga keseluruhan Pasal 14  berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; (1) Norma Penghitungan Penghasilan Neto untuk menentukan penghasilan neto, dibuat dan disempurnakan terus-menerus serta diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (2) Wajib Pajak orang pribadi yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah), boleh menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (3) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) yang menghitung penghasilan netonya dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, wajib menyelenggarakan pencatatan sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.&lt;br /&gt;(4) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) yang tidak memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan.&lt;br /&gt;(5) Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan, termasuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4), yang ternyata tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan pencatatan atau pembukuan atau tidak memperlihatkan pencatatan atau pembukuan atau bukti-bukti pendukungnya, maka penghasilan netonya dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atau cara lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; (6) dihapus.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (7) Besarnya peredaran bruto sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan ."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ketentuan Pasal 17  ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (6), dan ayat (7) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 17 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; (1) Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   a. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapisan Penghasilan Kena Pajak&lt;br /&gt;Tarif Pajak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai dengan  Rp 25.000.000,00&lt;br /&gt;(dua puluh lima juta rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5%&lt;br /&gt;(lima persen)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;di atas Rp 25.000.000,00&lt;br /&gt;(dua puluh lima juta rupiah)&lt;br /&gt;s.d. Rp50.000.000,00&lt;br /&gt;(lima puluh juta rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10%&lt;br /&gt;(sepuluh persen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di atas Rp 50.000.000,00&lt;br /&gt;(lima puluh juta rupiah)&lt;br /&gt;s.d. Rp 100.000.000,00&lt;br /&gt;(seratus juta rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15%&lt;br /&gt;(lima belas persen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di atas Rp 100.000.000,00&lt;br /&gt;(seratus juta rupiah)&lt;br /&gt;s.d. Rp 200.000.000,00&lt;br /&gt;(dua ratus juta rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25%&lt;br /&gt;(dua puluh lima&lt;br /&gt;persen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di atas Rp 200.000.000,00&lt;br /&gt;(dua ratus juta rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35%&lt;br /&gt;(tiga puluh lima&lt;br /&gt;persen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; b. Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapisan Penghasilan Kena Pajak&lt;br /&gt;Tarif Pajak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai dengan Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10%&lt;br /&gt;(sepuluh persen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di atas Rp 50.000.000,00&lt;br /&gt;(lima puluh juta rupiah)&lt;br /&gt;s.d. Rp 100.000.000,00&lt;br /&gt;(seratus juta rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15%&lt;br /&gt;(lima belas persen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di atas Rp 100.000.000,00&lt;br /&gt;(seratus juta rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30%&lt;br /&gt;(tiga puluh persen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (2) Dengan Peraturan Pemerintah, tarif tertinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dapat diturunkan menjadi paling rendah 25% (dua puluh lima persen).&lt;br /&gt; (3) Besarnya lapisan Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diubah dengan  Keputusan  Menteri  Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  (4) Untuk keperluan penerapan tarif pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh.&lt;br /&gt; (5) Besarnya pajak yang terutang bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang terutang pajak dalam bagian tahun pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (4) dihitung sebanyak jumlah hari dalam bagian tahun pajak tersebut dibagi 360 (tiga ratus enam puluh) dikalikan dengan pajak yang terutang untuk 1 (satu) tahun pajak.&lt;br /&gt; (6) Untuk keperluan penghitungan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (5), tiap bulan yang penuh dihitung 30 (tiga puluh) hari.&lt;br /&gt; (7) Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan tarif pajak tersendiri atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), sepanjang tidak melebihi tarif pajak tertinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;11. Ketentuan Pasal 18 ayat (2) dan ayat (4) diubah, ayat (5) dihapus, serta di antara ayat (3) dan ayat (4) disisipkan 1 (satu) ayat baru yaitu ayat (3a), sehingga keseluruhan Pasal 18 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  (1) Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan keputusan mengenai besarnya perbandingan antara utang dan modal perusahaan untuk keperluan penghitungan pajak berdasarkan Undang-undang ini.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  (2) Menteri Keuangan berwenang menetapkan saat diperolehnya dividen oleh Wajib Pajak dalam negeri atas penyertaan modal pada badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang menjual sahamnya di bursa efek, dengan ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   a. besarnya  penyertaan  modal  Wajib  Pajak  dalam  negeri  tersebut  paling rendah 50% (lima puluh persen) dari jumlah saham yang disetor; atau&lt;br /&gt;  b. secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya memiliki penyertaan modal paling rendah 50% (lima puluh persen) dari jumlah saham yang disetor.&lt;br /&gt; (3) Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung besarnya  Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  (3a) Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan perjanjian dengan Wajib Pajak dan bekerja sama dengan pihak otoritas pajak negara lain untuk menentukan harga transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), yang berlaku selama suatu periode tertentu dan mengawasi pelaksanaannya serta melakukan renegosiasi setelah periode tertentu tersebut berakhir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  (4) Hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (3a), Pasal 8 ayat (4), Pasal 9 ayat (1) huruf f, dan Pasal 10 ayat (1) dianggap ada apabila:&lt;br /&gt;  a.  Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada Wajib Pajak lain, atau hubungan antara Wajib Pajak dengan penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada dua Wajib Pajak atau lebih, demikian pula hubungan antara dua Wajib Pajak atau lebih yang disebut terakhir;  atau&lt;br /&gt;  b. Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau&lt;br /&gt;  c.  terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus dan atau ke samping satu derajat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  (5) dihapus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; 12. Ketentuan Pasal 21 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (8) diubah, serta ayat (6) dan ayat (7) dihapus, sehingga keseluruhan Pasal 21 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;"Pasal 21&lt;br /&gt;(1)  Pemotongan, penyetoran, dan pelaporan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, wajib dilakukan oleh:&lt;br /&gt; a.  pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai;&lt;br /&gt; b.  bendaharawan pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain, sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  c.  dana  pensiun atau  badan  lain yang membayarkan uang pensiun dan pembayaran lain dengan nama apapun dalam rangka pensiun;&lt;br /&gt; d. badan  yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan jasa termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas;&lt;br /&gt; e.  penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan.&lt;br /&gt;(2) Tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang wajib melakukan pemotongan, penyetoran,  dan  pelaporan pajak  sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a adalah badan perwakilan negara asing dan organisasi-organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.&lt;br /&gt;(3) Penghasilan pegawai tetap atau pensiunan yang dipotong pajak untuk setiap bulan adalah jumlah penghasilan bruto setelah dikurangi dengan biaya jabatan atau biaya pensiun yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, iuran pensiun, dan Penghasilan Tidak Kena Pajak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (4) Penghasilan  pegawai  harian,  mingguan, serta pegawai tidak tetap lainnya yang dipotong pajak adalah jumlah penghasilan bruto setelah dikurangi bagian penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;(5) Tarif pemotongan atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah tarif pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) kecuali ditetapkan lain dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;(6) dihapus.&lt;br /&gt; (7)  dihapus.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  (8) Petunjuk mengenai pelaksanaan pemotongan, penyetoran, dan pelaporan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;13. Ketentuan Pasal 23 ayat (1) huruf a, ayat (2), dan ayat (4) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 23 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  (1) Atas penghasilan tersebut di bawah ini dengan nama dan dalam bentuk apapun yang dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah, Subjek Pajak badan dalam negeri, penyelenggara  kegiatan,  bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang wajib membayarkan:&lt;br /&gt; a. sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto atas:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   1) dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf g;&lt;br /&gt;  2) bunga, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf f;&lt;br /&gt;  3) royalti;&lt;br /&gt;  4) hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf e;&lt;br /&gt; b.  sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto dan bersifat final atas bunga  simpanan yang dibayarkan oleh koperasi;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  c.   sebesar 15% (lima belas persen) dari perkiraan penghasilan neto atas:&lt;br /&gt;  1) sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;&lt;br /&gt;   2) imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.&lt;br /&gt;(2)  Besarnya perkiraan penghasilan neto dan jenis jasa lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;(3)  Orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri dapat ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak untuk memotong pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).&lt;br /&gt;(4)  Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dilakukan atas:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   a. penghasilan  yang  dibayar  atau  terutang kepada bank;&lt;br /&gt;  b. sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi;&lt;br /&gt;  c. dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f;&lt;br /&gt;  d. bunga obligasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf  j;&lt;br /&gt;  e. bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf  i;&lt;br /&gt;  f. sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;&lt;br /&gt;  g. bunga simpanan yang tidak melebihi batas yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;14.  Ketentuan Pasal 25 ayat (1), ayat (2), ayat (4), dan ayat (7) diubah, ayat (3) dan ayat (5) dihapus, serta ditambah 1 (satu) ayat baru yaitu ayat (9), sehingga keseluruhan Pasal 25 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pasal 25&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; (1) Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  a.  Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22; dan&lt;br /&gt; b.  Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24;&lt;br /&gt; dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.&lt;br /&gt;(2)  Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan-bulan sebelum batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, sama dengan besarnya angsuran pajak untuk bulan terakhir tahun pajak yang lalu.&lt;br /&gt;(3)  dihapus.&lt;br /&gt;(4)  Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak yang lalu, maka besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan surat ketetapan pajak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; (5)  dihapus.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  (6) Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal tertentu,  yaitu:&lt;br /&gt; a. Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian;&lt;br /&gt; b.  Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur;&lt;br /&gt; c. Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu disampaikan setelah lewat batas waktu yang ditentukan;&lt;br /&gt; d.  Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  e. Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang mengakibatkan angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum pembetulan;&lt;br /&gt; f.   terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.&lt;br /&gt;(7)  Penghitungan besarnya angsuran pajak bagi Wajib Pajak baru, bank, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Wajib Pajak tertentu lainnya termasuk Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu diatur dengan Keputusan  Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (8)  Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang bertolak ke luar negeri wajib membayar pajak yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (9) Pajak yang telah dibayar sendiri dalam tahun berjalan oleh Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu merupakan pelunasan pajak yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan, kecuali apabila Wajib Pajak yang bersangkutan menerima atau memperoleh penghasilan lain yang tidak dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final menurut Undang-undang ini."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;15. Ketentuan Pasal 26 ayat (1), ayat (3), dan ayat (4) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 26 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (1) Atas penghasilan tersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apapun, yang dibayarkan atau yang terutang oleh badan pemerintah, Subjek Pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan:&lt;br /&gt; a. dividen;&lt;br /&gt; b. bunga, termasuk premium, diskonto, premi swap dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang;&lt;br /&gt; c. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;&lt;br /&gt; d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;&lt;br /&gt; e. hadiah dan penghargaan;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya.&lt;br /&gt; (2) Atas penghasilan dari penjualan harta di Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2), yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dan premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri, dipotong pajak 20% (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto.&lt;br /&gt; (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt; (4) Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia dikenakan pajak sebesar 20% (dua puluh persen), kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt; (5) Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (4) bersifat final, kecuali:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   a. pemotongan atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b dan huruf c;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   b. pemotongan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan luar negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Ketentuan Pasal 31 A diubah, sehingga keseluruhan Pasal 31 A berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 31 A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  (1) Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan atau di daerah-daerah tertentu dapat diberikan fasilitas perpajakan dalam bentuk:&lt;br /&gt;  a.  pengurangan penghasilan neto paling tinggi 30% (tiga puluh persen) dari jumlah penanaman yang dilakukan;&lt;br /&gt;  b.  penyusutan dan amortisasi yang dipercepat;&lt;br /&gt;  c.  kompensasi kerugian yang lebih lama tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun; dan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   d.  pengenaan Pajak Penghasilan atas dividen sebagaimana dimaksud  dalam  Pasal  26 sebesar 10% (sepuluh persen), kecuali apabila tarif menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih rendah.&lt;br /&gt; (2) Fasilitas perpajakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Di antara Pasal 31 A dan Pasal 32 disisipkan 2 (dua) pasal baru yaitu Pasal 31 B dan Pasal 31 C, yang masuk dalam BAB VII KETENTUAN LAIN-LAIN, yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 31 B&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; (1)  Wajib Pajak yang melakukan restrukturisasi utang usaha melalui lembaga khusus yang dibentuk Pemerintah dapat memperoleh fasilitas pajak yang bersifat terbatas baik dalam jangka waktu maupun jenisnya berupa keringanan Pajak Penghasilan yang terutang atas:&lt;br /&gt; a.  pembebasan utang;&lt;br /&gt; b.  pengalihan harta kepada kreditur untuk penyelesaian utang;&lt;br /&gt; c.  perubahan utang menjadi penyertaan modal.&lt;br /&gt;(2)  Fasilitas pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 31 C&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; (1)  Penerimaan negara dari Pajak Penghasilan orang pribadi dalam negeri dan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dipotong oleh pemberi kerja dibagi dengan imbangan 80% untuk Pemerintah Pusat dan 20% untuk Pemerintah Daerah tempat Wajib Pajak terdaftar.&lt;br /&gt;(2)  Pembagian penerimaan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;18. Ketentuan Pasal 32 diubah sehingga menjadi berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Tata cara pengenaan pajak dan sanksi-sanksi berkenaan dengan pelaksanaan Undang-undang ini dilakukan sesuai dengan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;19. Di antara Pasal 32 dan Pasal 33 disisipkan 1 (satu) pasal yaitu Pasal 32 A yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 32 A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Pemerintah berwenang untuk melakukan perjanjian dengan pemerintah negara lain dalam rangka penghindaran pajak berganda dan pencegahan pengelakan pajak.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal  II&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Undang-undang ini dapat disebut “Undang-undang Perubahan Ketiga Undang-undang Pajak Penghasilan 1984”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal  III&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2001.&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 2 Agustus 2000&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;            ttd&lt;br /&gt;     ABDURRAHMAN WAHID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada tanggal 2 Agustus 2000&lt;br /&gt;SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;                                   ttd&lt;br /&gt;                     DJOHAN EFFENDI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000 NOMOR 127&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR  17  TAHUN 2000&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UMUM&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Peraturan perundang-undangan perpajakan yang mengatur tentang Pajak Penghasilan yang berlaku sejak 1 Januari 1984 adalah Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994. Undang-undang Pajak Penghasilan ini dilandasi falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang didalamnya tertuang ketentuan yang menjunjung tinggi hak warga negara dan menempatkan kewajiban perpajakan sebagai kewajiban kenegaraan dan merupakan sarana peran serta rakyat dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional.&lt;br /&gt;2. Dengan pesatnya perkembangan sosial ekonomi sebagai hasil pembangunan nasional dan globalisasi serta reformasi di berbagai bidang, dan setelah mengevaluasi perkembangan pelaksanaan undang-undang perpajakan selama lima tahun terakhir, khususnya Undang-undang Pajak Penghasilan, maka dipandang perlu untuk dilakukan perubahan undang-undang tersebut guna meningkatkan fungsi dan peranannya dalam rangka mendukung kebijakan pembangunan nasional khususnya di bidang ekonomi.&lt;br /&gt;3.   Perubahan Undang-undang Pajak Penghasilan dimaksud tetap berpegang pada prinsip-prinsip perpajakan yang dianut secara universal yaitu keadilan, kemudahan/efisiensi administrasi dan produktivitas penerimaan negara dan tetap mempertahankan sistem self assessment. Oleh karena itu, arah dan tujuan penyempurnaan Undang-undang Pajak Penghasilan ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Lebih meningkatkan keadilan pengenaan pajak;&lt;br /&gt;b. Lebih memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak;&lt;br /&gt;c. Menunjang kebijaksanaan pemerintah dalam rangka meningkatkan investasi langsung  di Indonesia baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri di bidang-bidang usaha tertentu dan daerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas.&lt;br /&gt;4.  Dengan berlandaskan pada arah dan tujuan penyempurnaan tersebut, perlu dilakukan perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994, meliputi pokok-pokok sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.  Dalam rangka meningkatkan keadilan pengenaan pajak maka dilakukan perluasan subjek dan objek pajak dalam hal-hal tertentu dan pembatasan pengecualian atau pembebasan pajak dalam hal lainnya. Struktur tarif pajak yang berlaku juga perlu diubah dan dibedakan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dan untuk Wajib Pajak Badan, guna memberikan beban pajak yang lebih proporsional bagi masing-masing golongan Wajib Pajak, disamping mempertahankan tingkat daya saing dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.&lt;br /&gt;b. Untuk lebih memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak, sistem self assessment tetap dipertahankan namun dengan penerapan yang terus menerus diperbaiki. Perbaikan terutama dilakukan pada sistem dan tatacara pembayaran pajak dalam tahun berjalan agar tidak mengganggu likuiditas Wajib Pajak yang menjalankan usaha. Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas perlu didorong untuk melaksanakan kewajiban pembukuan dengan tertib dan taat asas, namun untuk membantu dan membina para Wajib Pajak pengusaha dengan jumlah peredaran tertentu, masih diperkenankan penggunaan norma penghitungan penghasilan neto dengan syarat wajib menyelenggarakan pencatatan.&lt;br /&gt;c. Dalam rangka mendorong investasi langsung di Indonesia baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri dan sejalan dengan kesepakatan ASEAN yang dideklarasikan di Hanoi pada tahun 1999, diatur kembali bentuk-bentuk insentif Pajak Penghasilan yang dapat diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;Angka 1&lt;br /&gt;Pasal  2&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;  Pengertian Subjek Pajak meliputi orang pribadi, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, badan, dan bentuk usaha tetap.&lt;br /&gt;  Huruf  a&lt;br /&gt;   Orang pribadi sebagai Subjek Pajak dapat bertempat tinggal atau berada di Indonesia ataupun di luar Indonesia. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan Subjek Pajak pengganti, menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris. Penunjukan warisan yang belum terbagi sebagai Subjek Pajak pengganti dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut tetap dapat dilaksanakan.&lt;br /&gt;  Huruf  b&lt;br /&gt;   Sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan, pengertian Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer,  perseroan  lainnya,  Badan  Usaha  Milik  Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya termasuk reksadana. Dalam Undang-undang ini (lihat huruf c berikut), bentuk usaha tetap ditentukan sebagai Subjek Pajak tersendiri, terpisah dari badan. Oleh karena itu, walaupun perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan Subjek Pajak badan, untuk pengenaan Pajak Penghasilan, bentuk usaha tetap mempunyai eksistensinya sendiri dan tidak termasuk dalam pengertian badan.&lt;br /&gt;   Badan Usaha Milik Negara dan Daerah merupakan Subjek Pajak tanpa memperhatikan nama dan bentuknya, sehingga setiap unit tertentu dari badan Pemerintah, misalnya lembaga, badan, dan sebagainya yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan merupakan Subjek Pajak.&lt;br /&gt;   Unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria berikut tidak termasuk sebagai Subjek Pajak, yaitu:&lt;br /&gt;   1) dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;&lt;br /&gt;   2) dibiayai dengan dana yang bersumber dari APBN atau APBD;&lt;br /&gt;   3) penerimaan lembaga tersebut dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Daerah; dan&lt;br /&gt;   4) pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara.&lt;br /&gt;   Sebagai Subjek Pajak, perusahaan reksadana baik yang berbentuk perseroan terbatas maupun bentuk lainnya termasuk dalam pengertian badan.&lt;br /&gt;   Dalam pengertian perkumpulan termasuk pula asosiasi, persatuan, perhimpunan, atau ikatan dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama.&lt;br /&gt;  Huruf  c&lt;br /&gt;   Lihat ketentuan dalam  ayat (5) dan penjelasannya.&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Subjek Pajak dibedakan antara Subjek Pajak dalam negeri dan Subjek Pajak luar negeri. Subjek Pajak dalam negeri menjadi Wajib Pajak apabila telah menerima atau memperoleh penghasilan yang besarnya melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak, sedangkan Subjek Pajak luar negeri sekaligus menjadi Wajib Pajak, sehubungan dengan penghasilan yang diterima dari sumber penghasilan di Indonesia atau diperoleh melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. Dengan perkataan lain Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang telah memenuhi kewajiban subjektif dan objektif. Sehubungan dengan pemilikan NPWP, Wajib Pajak orang pribadi yang menerima penghasilan di bawah PTKP tidak perlu mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.&lt;br /&gt;  Perbedaan yang penting antara Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain:&lt;br /&gt;  a.  Wajib Pajak dalam negeri dikenakan pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh dari Indonesia dan dari luar Indonesia, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenakan pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia.&lt;br /&gt;  b.  Wajib Pajak dalam negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif umum, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak sepadan.&lt;br /&gt;  c.  Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak, sedangkan Wajib Pajak luar negeri tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan, karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.&lt;br /&gt;  Bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, pemenuhan kewajiban perpajakannya dipersamakan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dalam negeri sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini dan Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.&lt;br /&gt; Ayat  (3)&lt;br /&gt;  Huruf  a&lt;br /&gt;   Pada prinsipnya orang pribadi yang menjadi Subjek Pajak dalam negeri adalah orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia. Termasuk dalam pengertian orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia adalah mereka yang mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. Apakah seseorang mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia ditimbang menurut keadaan.&lt;br /&gt;   Keberadaan orang pribadi di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari tidaklah harus berturut-turut, tetapi ditentukan oleh jumlah hari orang tersebut berada di Indonesia dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak kedatangannya di Indonesia.&lt;br /&gt;  Huruf  b&lt;br /&gt;   Cukup jelas&lt;br /&gt;  Huruf  c&lt;br /&gt;   Warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh orang pribadi Subjek Pajak dalam negeri dianggap sebagai Subjek Pajak dalam negeri dalam pengertian Undang-undang ini mengikuti status pewaris. Adapun untuk pelaksanaan pemenuhan kewajiban perpajakannya, warisan tersebut menggantikan kewajiban ahli waris yang berhak. Apabila warisan tersebut telah dibagi, maka kewajiban perpajakannya beralih kepada ahli waris.&lt;br /&gt;   Warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh orang pribadi sebagai Subjek Pajak luar negeri yang tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia, tidak dianggap sebagai Subjek Pajak pengganti karena pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi dimaksud melekat pada objeknya.&lt;br /&gt; Ayat  (4)&lt;br /&gt;  Huruf   a dan huruf   b&lt;br /&gt;   Subjek Pajak luar negeri adalah orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau bertempat kedudukan di luar Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia, baik melalui ataupun tanpa melalui bentuk usaha tetap. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, tetapi berada di Indonesia kurang dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, maka orang tersebut adalah Subjek Pajak luar negeri.&lt;br /&gt;   Apabila penghasilan diterima atau diperoleh melalui bentuk usaha tetap, maka terhadap orang pribadi atau badan tersebut dikenakan pajak melalui bentuk usaha tetap, dan orang pribadi atau badan tersebut statusnya tetap sebagai Subjek Pajak luar negeri. Dengan demikian bentuk usaha tetap tersebut menggantikan orang pribadi atau badan sebagai Subjek Pajak luar negeri dalam memenuhi kewajiban perpajakannya di Indonesia.&lt;br /&gt;   Dalam hal penghasilan tersebut diterima atau diperoleh tanpa melalui bentuk usaha tetap, maka pengenaan pajaknya dilakukan langsung kepada Subjek Pajak luar negeri tersebut.&lt;br /&gt; Ayat  (5)&lt;br /&gt;  Suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin dan peralatan.&lt;br /&gt;  Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.&lt;br /&gt;  Pengertian bentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan selaku agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan atas nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia tidak dapat dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila orang pribadi atau badan dalam menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia menggunakan agen, broker atau perantara yang mempunyai kedudukan bebas, asalkan agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak sepenuhnya dalam rangka menjalankan perusahaannya sendiri.&lt;br /&gt;  Perusahaan asuransi yang didirikan dan bertempat kedudukan di luar Indonesia dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila perusahaan asuransi tersebut menerima pembayaran premi asuransi di Indonesia atau menanggung risiko di Indonesia melalui pegawai, perwakilan atau agennya di Indonesia. Menanggung risiko di Indonesia tidak berarti bahwa peristiwa yang mengakibatkan risiko tersebut terjadi di Indonesia. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pihak tertanggung bertempat tinggal, berada atau bertempat kedudukan di Indonesia.&lt;br /&gt; Ayat  (6)&lt;br /&gt;  Penentuan tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan penting untuk menetapkan Kantor Pelayanan Pajak mana yang mempunyai yurisdiksi pemajakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan tersebut.&lt;br /&gt;  Pada dasarnya tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan ditentukan menurut keadaan yang sebenarnya. Dengan demikian penentuan tempat tinggal atau tempat kedudukan tidak hanya didasarkan pada pertimbangan yang bersifat formal, tetapi lebih didasarkan pada kenyataan.&lt;br /&gt;  Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh Direktur Jenderal Pajak dalam menentukan tempat tinggal seseorang atau tempat kedudukan badan tersebut antara lain domisili, alamat tempat tinggal, tempat tinggal keluarga, tempat menjalankan usaha pokok atau hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk memudahkan pelaksanaan pemenuhan kewajiban pajak.&lt;br /&gt;Angka 2&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt; Huruf  a dan huruf  b&lt;br /&gt;  Sesuai dengan kelaziman internasional, badan perwakilan negara asing beserta pejabat-pejabat perwakilan diplomatik, konsulat dan pejabat-pejabat lainnya, dikecualikan sebagai Subjek Pajak di tempat mereka mewakili negaranya.&lt;br /&gt;   Pengecualian sebagai Subjek Pajak bagi pejabat-pejabat tersebut tidak berlaku apabila mereka memperoleh penghasilan lain di luar jabatannya atau mereka adalah Warga Negara Indonesia.&lt;br /&gt;  Dengan demikian apabila pejabat perwakilan suatu negara asing memperoleh penghasilan lain di Indonesia di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut, maka ia termasuk Subjek Pajak yang dapat dikenakan pajak atas penghasilan lain tersebut.&lt;br /&gt; Huruf  c&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Huruf  d&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 3&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Undang-undang ini menganut prinsip pemajakan atas penghasilan dalam pengertian yang luas, yaitu bahwa pajak dikenakan atas setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dari manapun asalnya yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak tersebut.&lt;br /&gt;   Pengertian penghasilan dalam Undang-undang ini tidak memperhatikan adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan kemampuan ekonomis. Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan Wajib Pajak tersebut untuk ikut bersama-sama memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin dan pembangunan.&lt;br /&gt;  Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib Pajak, penghasilan dapat dikelompokkan menjadi:&lt;br /&gt;  - penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter, notaris, aktuaris, akuntan, pengacara, dan sebagainya;&lt;br /&gt;  -  penghasilan dari usaha dan kegiatan;&lt;br /&gt;  - penghasilan dari modal, yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti bunga, dividen, royalti, sewa, keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha, dan lain sebagainya;&lt;br /&gt;  - penghasilan lain-lain, seperti pembebasan utang, hadiah, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;  Dilihat dari penggunaannya, penghasilan dapat dipakai untuk konsumsi dan dapat pula ditabung untuk menambah kekayaan Wajib Pajak.&lt;br /&gt;   Karena Undang-undang ini menganut pengertian penghasilan yang luas maka semua jenis penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun pajak digabungkan untuk mendapatkan dasar pengenaan pajak. Dengan demikian, apabila dalam satu tahun pajak suatu usaha atau kegiatan menderita kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan lainnya (kompensasi horisontal), kecuali kerugian yang diderita di luar negeri. Namun demikian, apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak dengan tarif yang bersifat final atau dikecualikan dari Objek Pajak, maka penghasilan tersebut tidak boleh digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenakan tarif umum.&lt;br /&gt;  Contoh-contoh penghasilan yang disebut dalam ketentuan ini dimaksudkan untuk memperjelas pengertian tentang penghasilan yang luas yang tidak terbatas pada contoh-contoh dimaksud.&lt;br /&gt;  Huruf  a&lt;br /&gt;   Semua pembayaran atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan, seperti upah, gaji, premi asuransi jiwa, dan asuransi kesehatan yang dibayar oleh pemberi kerja, atau imbalan dalam bentuk lainnya adalah Objek Pajak.&lt;br /&gt;   Pengertian imbalan dalam bentuk lainnya termasuk imbalan dalam bentuk natura yang pada hakekatnya merupakan penghasilan.&lt;br /&gt;  Huruf  b&lt;br /&gt;   Dalam pengertian hadiah termasuk hadiah dari undian, pekerjaan, dan kegiatan seperti hadiah undian tabungan, hadiah dari pertandingan olahraga dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;   Yang dimaksud dengan penghargaan adalah imbalan yang diberikan sehubungan dengan kegiatan tertentu, misalnya imbalan yang diterima sehubungan dengan penemuan benda-benda purbakala.&lt;br /&gt;  Huruf  c&lt;br /&gt;   Cukup jelas&lt;br /&gt;  Huruf  d&lt;br /&gt;   Apabila Wajib Pajak menjual harta dengan harga yang lebih tinggi dari nilai sisa buku atau lebih tinggi dari harga atau nilai perolehan, maka selisih harga tersebut merupakan keuntungan. Dalam hal penjualan harta tersebut terjadi antara badan usaha dengan pemegang sahamnya, maka harga jual yang dipakai sebagai dasar untuk penghitungan keuntungan dari penjualan tersebut adalah harga pasar.&lt;br /&gt;   Misalnya PT S memiliki sebuah mobil yang digunakan dalam kegiatan usahanya dengan nilai sisa buku sebesar                  Rp 40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah). Mobil tersebut dijual dengan harga Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). Dengan demikian keuntungan PT S yang diperoleh karena penjualan mobil tersebut adalah Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah). Apabila mobil tersebut dijual kepada salah seorang pemegang sahamnya dengan harga                  Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), maka nilai jual mobil tersebut tetap dihitung berdasarkan harga pasar sebesar Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). Selisih sebesar Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) merupakan keuntungan bagi PT S. dan bagi pemegang saham yang membeli mobil tersebut selisih sebesar                                 Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) merupakan penghasilan.&lt;br /&gt;   Apabila suatu badan dilikuidasi, keuntungan dari penjualan harta, yaitu selisih antara harga jual berdasarkan harga pasar dengan nilai sisa buku harta tersebut, merupakan Objek Pajak. Demikian juga selisih lebih antara harga pasar dengan nilai sisa buku dalam hal terjadi penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, dan pengambilalihan usaha merupakan penghasilan.&lt;br /&gt;   Dalam hal terjadi pengalihan harta sebagai pengganti saham atau penyertaan modal, maka keuntungan berupa selisih antara harga pasar dari harta yang diserahkan dengan nilai bukunya merupakan penghasilan.&lt;br /&gt;   Keuntungan berupa selisih antara harga pasar dengan nilai perolehan atau nilai sisa buku atas pengalihan harta berupa hibah,     bantuan     atau     sumbangan    dianggap     sebagai&lt;br /&gt;   penghasilan bagi pihak yang mengalihkan, kecuali harta tersebut dialihkan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, serta badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial termasuk yayasan atau pengusaha kecil  termasuk  koperasi  yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.&lt;br /&gt;  Huruf  e&lt;br /&gt;   Pengembalian pajak yang telah dibebankan sebagai biaya pada saat menghitung Penghasilan Kena Pajak, merupakan Objek Pajak.&lt;br /&gt;   Sebagai contoh, Pajak Bumi dan Bangunan yang sudah dibayar dan dibebankan sebagai biaya, yang karena sesuatu sebab dikembalikan, maka jumlah sebesar pengembalian tersebut merupakan penghasilan.&lt;br /&gt;  Huruf  f&lt;br /&gt;   Dalam pengertian bunga termasuk pula premium, diskonto dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang.&lt;br /&gt;   Premium terjadi apabila misalnya surat obligasi dijual di atas nilai nominalnya sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli di bawah nilai nominalnya. Premium tersebut merupakan penghasilan bagi yang menerbitkan obligasi dan diskonto merupakan penghasilan bagi yang membeli obligasi.&lt;br /&gt;  Huruf  g&lt;br /&gt;   Dividen merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham atau pemegang polis asuransi atau pembagian sisa hasil usaha koperasi yang diperoleh anggota koperasi. Termasuk dalam pengertian dividen adalah:&lt;br /&gt;   1) pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama dan dalam bentuk apapun;&lt;br /&gt;   2) pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor;&lt;br /&gt;   3) pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham;&lt;br /&gt;   4) pembagian laba dalam bentuk saham;&lt;br /&gt;   5) pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran;&lt;br /&gt;   6) jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang bersangkutan;&lt;br /&gt;   7) pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetorkan, jika dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika pembayaran kembali itu adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan secara sah;&lt;br /&gt;   8) pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut;&lt;br /&gt;   9) bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi;&lt;br /&gt;   10) bagian laba yang diterima oleh pemegang polis;&lt;br /&gt;   11) pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi;&lt;br /&gt;   12) pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan.&lt;br /&gt;   Dalam praktek sering dijumpai pembagian atau pembayaran dividen secara terselubung, misalnya dalam hal pemegang saham yang telah menyetor penuh modalnya dan memberikan pinjaman kepada perseroan dengan imbalan bunga yang melebihi kewajaran. Apabila terjadi hal yang demikian maka selisih lebih antara bunga yang dibayarkan dengan tingkat bunga yang berlaku di pasar, diperlakukan sebagai dividen. Bagian bunga yang diperlakukan sebagai dividen tersebut tidak boleh dibebankan sebagai biaya oleh perseroan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;  Huruf  h&lt;br /&gt;   Pada dasarnya imbalan berupa royalti terdiri dari tiga kelompok, yaitu imbalan sehubungan dengan penggunaan:&lt;br /&gt;   1) hak atas harta tak berwujud, misalnya hak pengarang, paten, merek dagang, formula, atau rahasia perusahaan;&lt;br /&gt;   2) hak atas harta berwujud, misalnya hak atas alat-alat industri, komersial, dan ilmu pengetahuan. Yang dimaksud dengan alat-alat industri, komersial dan ilmu pengetahuan adalah setiap peralatan yang mempunyai nilai intelektual, misalnya peralatan-peralatan yang digunakan di beberapa industri khusus seperti anjungan pengeboran minyak (drilling rig), dan sebagainya;&lt;br /&gt;   3) informasi, yaitu informasi yang belum diungkapkan secara umum, walaupun mungkin belum dipatenkan, misalnya pengalaman di bidang industri, atau bidang usaha lainnya. Ciri dari informasi dimaksud adalah bahwa informasi tersebut telah tersedia sehingga pemiliknya tidak perlu lagi melakukan riset untuk menghasilkan informasi tersebut. Tidak termasuk dalam pengertian informasi  di sini  adalah   informasi  yang  diberikan  oleh&lt;br /&gt;    misalnya akuntan publik, ahli hukum, atau ahli teknik sesuai dengan bidang keahliannya, yang dapat diberikan oleh setiap orang yang mempunyai latar belakang disiplin ilmu yang sama.&lt;br /&gt;  Huruf  i&lt;br /&gt;   Dalam pengertian sewa termasuk imbalan yang diterima atau diperoleh dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan penggunaan harta gerak atau harta tak gerak, misalnya sewa mobil, sewa kantor, sewa rumah, dan sewa gudang.&lt;br /&gt;  Huruf  j&lt;br /&gt;   Penerimaan berupa pembayaran berkala, misalnya "alimentasi" atau tunjangan seumur hidup yang dibayar secara berulang-ulang dalam waktu tertentu.&lt;br /&gt;  Huruf  k&lt;br /&gt;   Pembebasan utang oleh pihak yang berpiutang dianggap sebagai penghasilan bagi pihak yang semula berutang, sedangkan bagi pihak yang berpiutang dapat dibebankan sebagai biaya. Namun demikian, dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan bahwa pembebasan utang debitur kecil misalnya Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra), Kredit Usaha Tani (KUT), kredit untuk perumahan sangat sederhana, serta kredit kecil lainnya sampai dengan jumlah tertentu dikecualikan sebagai Objek Pajak.&lt;br /&gt;  Huruf  l&lt;br /&gt;   Keuntungan karena selisih kurs dapat disebabkan fluktuasi kurs mata uang asing atau adanya kebijaksanaan Pemerintah di bidang moneter. Atas keuntungan yang diperoleh karena fluktuasi kurs mata uang asing, pengenaan pajaknya dikaitkan dengan sistem pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak dengan syarat dilakukan secara taat asas.&lt;br /&gt;  Huruf  m&lt;br /&gt;   Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 merupakan penghasilan.&lt;br /&gt;  Huruf  n&lt;br /&gt;   Dalam pengertian premi asuransi termasuk premi reasuransi.&lt;br /&gt;  Huruf  o&lt;br /&gt;   Cukup jelas&lt;br /&gt;  Huruf  p&lt;br /&gt;   Tambahan kekayaan neto pada hakekatnya merupakan akumulasi penghasilan baik yang telah dikenakan pajak dan yang bukan Objek Pajak serta yang belum dikenakan pajak. Apabila diketahui adanya tambahan kekayaan neto yang melebihi akumulasi penghasilan yang telah dikenakan pajak dan yang bukan Objek Pajak, maka tambahan kekayaan neto tersebut merupakan penghasilan.&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Sesuai dengan ketentuan dalam ayat (1), penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek, penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan, serta penghasilan tertentu lainnya merupakan Objek Pajak. Tabungan masyarakat yang disalurkan melalui perbankan dan bursa efek merupakan sumber dana bagi pelaksanaan pembangunan, sehingga pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari tabungan masyarakat tersebut perlu diberikan perlakuan tersendiri dalam pengenaan pajaknya.&lt;br /&gt;  Pertimbangan-pertimbangan yang mendasari diberikannya perlakuan tersendiri dimaksud antara lain adalah kesederhanaan dalam pemungutan pajak, keadilan dan pemerataan dalam pengenaan pajaknya serta memperhatikan perkembangan ekonomi dan  moneter.  Pertimbangan  tersebut  juga   mendasari   perlunya pemberian perlakuan tersendiri terhadap pengenaan pajak atas penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan, serta jenis-jenis penghasilan tertentu lainnya. Oleh karena itu pengenaan Pajak Penghasilan termasuk sifat, besarnya, dan tata cara pelaksanaan pembayaran, pemotongan, atau pemungutan atas jenis-jenis penghasilan tersebut diatur tersendiri dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;  Dengan mempertimbangkan kemudahan dalam pelaksanaan pengenaan serta agar tidak menambah beban administrasi baik bagi Wajib Pajak maupun Direktorat Jenderal Pajak, maka pengenaan Pajak Penghasilan dalam ketentuan ini dapat bersifat final.&lt;br /&gt; Ayat  (3)&lt;br /&gt;  Huruf  a&lt;br /&gt;   Bantuan atau sumbangan bagi pihak yang menerima bukan merupakan Objek Pajak sepanjang diterima tidak dalam rangka hubungan kerja, hubungan usaha, hubungan kepemilikan, atau hubungan penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. Zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan para penerima zakat yang berhak diperlakukan sama seperti bantuan atau sumbangan. Yang dimaksud dengan zakat adalah zakat sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat.&lt;br /&gt;   Hubungan usaha antara pihak yang memberi dan yang menerima dapat terjadi, misalnya PT A sebagai produsen suatu jenis barang yang bahan baku utamanya diproduksi oleh PT B. Apabila PT B memberikan sumbangan bahan baku kepada PT A, maka sumbangan bahan baku yang diterima oleh PT A merupakan Objek Pajak.&lt;br /&gt;   Harta hibahan bagi pihak yang menerima bukan merupakan Objek Pajak apabila diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial termasuk yayasan atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang diterima tidak dalam rangka hubungan kerja, hubungan usaha, hubungan kepemilikan, atau hubungan penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.&lt;br /&gt;  Huruf  b&lt;br /&gt;   Cukup jelas&lt;br /&gt;  Huruf  c&lt;br /&gt;   Pada prinsipnya harta, termasuk setoran tunai, yang diterima oleh badan merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi badan tersebut. Namun karena harta tersebut diterima sebagai pengganti saham atau penyertaan modal, maka berdasarkan ketentuan ini, harta yang diterima tersebut bukan merupakan Objek Pajak.&lt;br /&gt;  Huruf  d&lt;br /&gt;   Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa merupakan tambahan kemampuan ekonomis yang diterima bukan dalam bentuk uang. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura seperti beras, gula dan sebagainya, dan imbalan dalam bentuk kenikmatan seperti penggunaan mobil, rumah, fasilitas pengobatan dan lain sebagainya, bukan merupakan Objek Pajak.&lt;br /&gt;   Apabila yang memberi imbalan berupa natura atau kenikmatan tersebut bukan Wajib Pajak atau Wajib Pajak yang  dikenakan  Pajak  Penghasilan  yang  bersifat  final  dan&lt;br /&gt;   yang dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan norma penghitungan khusus deemed profit, maka imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan tersebut merupakan penghasilan bagi yang menerima atau memperolehnya.&lt;br /&gt;   Misalnya, seorang penduduk Indonesia menjadi pegawai pada suatu perwakilan diplomatik asing di Jakarta. Pegawai tersebut memperoleh kenikmatan menempati rumah yang disewa oleh perwakilan diplomatik tersebut atau kenikmatan-kenikmatan lainnya. Kenikmatan-kenikmatan tersebut merupakan penghasilan bagi pegawai tersebut, sebab perwakilan diplomatik yang bersangkutan bukan merupakan Wajib Pajak.&lt;br /&gt;  Huruf  e&lt;br /&gt;   Penggantian atau santunan yang diterima oleh orang pribadi dari perusahaan asuransi sehubungan dengan polis asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, bukan  merupakan Objek Pajak. Hal ini selaras dengan ketentuan dalam Pasal 9 ayat (1) huruf d, yaitu bahwa premi asuransi yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi untuk kepentingan dirinya tidak boleh dikurangkan dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak.&lt;br /&gt;  Huruf  f&lt;br /&gt;   Berdasarkan ketentuan ini, dividen yang dananya berasal dari laba setelah dikurangi pajak dan diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, dan Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, dari penyertaannya pada badan usaha lainnya yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia, dengan penyertaan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima  persen),   dan  penerima  dividen  tersebut  memperoleh&lt;br /&gt;   penghasilan dari usaha riil di luar penghasilan yang berasal dari penyertaan tersebut, tidak termasuk Objek Pajak. Yang dimaksud dengan Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah dalam ayat ini antara lain adalah perusahaan perseroan (Persero), bank pemerintah, bank pembangunan daerah, dan Pertamina.&lt;br /&gt;   Perlu ditegaskan bahwa dalam hal penerima dividen atau bagian laba adalah Wajib Pajak selain badan-badan tersebut di atas, seperti orang pribadi baik dalam negeri maupun luar negeri, firma, perseroan komanditer, yayasan dan organisasi sejenis dan sebagainya, maka penghasilan berupa dividen atau bagian laba tersebut tetap merupakan Objek Pajak.&lt;br /&gt;  Huruf  g&lt;br /&gt;   Pengecualian sebagai Objek Pajak berdasarkan ketentuan ini hanya berlaku bagi dana pensiun yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan. Yang dikecualikan dari Objek Pajak adalah iuran yang diterima dari peserta pensiun, baik atas beban sendiri maupun yang ditanggung pemberi kerja. Pada dasarnya iuran yang diterima oleh dana pensiun tersebut merupakan dana milik dari peserta pensiun, yang akan dibayarkan kembali kepada mereka pada waktunya. Pengenaan pajak atas iuran tersebut berarti mengurangi hak para peserta pensiun, dan oleh karena itu iuran tersebut dikecualikan sebagai Objek Pajak.&lt;br /&gt;  Huruf  h&lt;br /&gt;   Sebagaimana tersebut dalam huruf g, pengecualian sebagai Objek Pajak berdasarkan ketentuan ini hanya berlaku bagi dana pensiun yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan. Yang dikecualikan dari Objek Pajak dalam hal ini adalah penghasilan dari modal yang ditanamkan     di    bidang-bidang       tertentu     berdasarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Keputusan Menteri Keuangan. Penanaman modal oleh dana pensiun dimaksudkan untuk pengembangan dan pemupukan dana untuk pembayaran kembali kepada peserta pensiun di kemudian hari, sehingga penanaman modal tersebut perlu diarahkan pada bidang-bidang yang tidak bersifat spekulatif atau yang berisiko tinggi. Oleh karena itu penentuan bidang-bidang tertentu dimaksud ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;  Huruf  i&lt;br /&gt;   Untuk kepentingan pengenaan pajak, badan-badan sebagaimana disebut dalam ketentuan ini yang merupakan himpunan para anggotanya dikenakan pajak sebagai satu kesatuan, yaitu pada tingkat badan tersebut. Oleh karena itu, bagian laba yang diterima oleh para anggota badan tersebut bukan lagi merupakan Objek Pajak.&lt;br /&gt;  Huruf  j&lt;br /&gt;   Perusahaan reksadana adalah perusahaan yang kegiatan utamanya melakukan investasi, investasi kembali, atau jual beli sekuritas. Bagi pemodal khususnya pemodal kecil, perusahaan reksadana merupakan salah satu pilihan yang aman untuk menanamkan modalnya.&lt;br /&gt;   Dalam rangka mendorong tumbuhnya perusahaan reksadana, maka bunga obligasi yang diterima oleh perusahaan reksadana dikecualikan sebagai Objek Pajak selama lima tahun pertama sejak perusahaan reksadana tersebut didirikan atau sejak diperolehnya izin usaha.&lt;br /&gt;  Huruf  k&lt;br /&gt;   Perusahaan modal ventura adalah suatu perusahaan yang kegiatan usahanya membiayai badan usaha (sebagai pasangan usaha) dalam bentuk penyertaan modal untuk suatu jangka waktu tertentu. Berdasarkan ketentuan ini, bagian  laba  yang diterima atau diperoleh dari perusahaan pasangan usaha tidak termasuk sebagai Objek Pajak, dengan syarat perusahaan pasangan usaha tersebut merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dalam sektor-sektor tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, dan saham perusahaan tersebut tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.&lt;br /&gt;   Apabila pasangan usaha perusahaan modal ventura memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf f, maka dividen yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura bukan merupakan Objek Pajak.&lt;br /&gt;    Agar kegiatan perusahaan modal ventura dapat diarahkan kepada sektor-sektor kegiatan ekonomi yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan, misalnya untuk meningkatkan ekspor non migas, maka usaha atau kegiatan dari perusahaan pasangan usaha tersebut diatur oleh Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;   Mengingat perusahaan modal ventura merupakan alternatif pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal, maka penyertaan modal yang akan dilakukan oleh perusahaan modal ventura diarahkan pada perusahaan-perusahaan yang belum mempunyai akses ke bursa efek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  4&lt;br /&gt;Pasal  6 &lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Beban-beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dapat dibagi dalam 2 (dua) golongan, yaitu beban atau biaya yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun dan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. Beban yang mempunyai   masa   manfaat   tidak   lebih   dari   1   (satu)   tahun&lt;br /&gt;  merupakan biaya pada tahun yang bersangkutan, misalnya gaji, biaya administrasi dan bunga, biaya rutin pengolahan limbah dan sebagainya. Sedangkan pengeluaran yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau melalui amortisasi. Disamping itu apabila dalam suatu tahun pajak didapat kerugian karena penjualan harta atau karena selisih kurs, maka kerugian-kerugian tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.&lt;br /&gt;  Huruf  a&lt;br /&gt;   Biaya-biaya yang dimaksud dalam ayat ini lazim disebut biaya sehari-hari yang boleh dibebankan pada tahun pengeluaran. Untuk dapat dibebankan sebagai biaya, pengeluaran-pengeluaran tersebut harus mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek Pajak.&lt;br /&gt;  Dengan demikian pengeluaran-pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak, tidak boleh dibebankan sebagai biaya.&lt;br /&gt;   Contoh:&lt;br /&gt;   Dana Pensiun A yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan memperoleh penghasilan bruto yang terdiri dari:&lt;br /&gt;   a. penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak sesuai dengan Pasal 4 ayat (3) huruf h sebesar Rp 100.000.000,00&lt;br /&gt;   b. penghasilan bruto lainnya sebesar         Rp 300.000.000,00&lt;br /&gt;        Jumlal penghasilan bruto                       Rp 400.000.000,00&lt;br /&gt;   Apabila seluruh biaya adalah sebesar Rp 200.000.000,00, maka biaya yang boleh dikurangkan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan adalah sebesar 3/4 x Rp 200.000.000,00 = Rp 150.000.000,00.&lt;br /&gt;   Demikian pula bunga atas pinjaman yang dipergunakan untuk membeli saham tidak dapat dibebankan sebagai biaya sepanjang dividen yang diterimanya tidak merupakan Objek Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f. Bunga pinjaman yang tidak boleh dibiayakan tersebut dapat dikapitalisasi sebagai penambah harga perolehan saham.&lt;br /&gt;   Pengeluaran-pengeluaran yang tidak ada hubungannya dengan upaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, misalnya pengeluaran-pengeluaran untuk keperluan pribadi pemegang saham, pembayaran bunga atas pinjaman yang dipergunakan untuk keperluan pribadi peminjam serta pembayaran premi asuransi untuk kepentingan pribadi, tidak boleh dibebankan sebagai biaya.&lt;br /&gt;   Pembayaran premi asuransi oleh pemberi kerja untuk kepentingan pegawainya boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan, namun bagi pegawai yang bersangkutan premi tersebut merupakan penghasilan.&lt;br /&gt;   Pengeluaran-pengeluaran sehubungan dengan pekerjaan yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto harus dilakukan dalam bentuk uang. Pengeluaran yang dilakukan dalam bentuk natura atau kenikmatan, misalnya fasilitas menempati rumah dengan cuma-cuma, tidak boleh dibebankan sebagai biaya, dan bagi pihak yang menerima atau menikmati bukan merupakan penghasilan. Namun demikian, pengeluaran dalam bentuk natura atau kenikmatan tertentu sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (1) huruf e, boleh dibebankan sebagai biaya dan bagi pihak yang menerima atau menikmati bukan merupakan penghasilan.&lt;br /&gt;   Pengeluaran-pengeluaran yang dapat dikurangkan dari penghasilan  bruto  harus  dilakukan  dalam  batas-batas yang&lt;br /&gt;   wajar sesuai dengan adat kebiasaan pedagang yang baik. Dengan demikian apabila pengeluaran yang melampaui batas kewajaran tersebut dipengaruhi oleh hubungan istimewa, maka jumlah yang melampaui batas kewajaran tersebut tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto.&lt;br /&gt;   Selanjutnya lihat ketentuan dalam Pasal 9 ayat (1) huruf f dan Pasal 18 beserta penjelasannya.&lt;br /&gt;   Pajak-pajak yang menjadi beban perusahaan dalam rangka usahanya selain Pajak Penghasilan, misalnya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Meterai (BM), Pajak Hotel dan Restoran, dapat dibebankan sebagai biaya.&lt;br /&gt;   Mengenai pengeluaran untuk promosi, perlu dibedakan antara biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk promosi dengan biaya yang pada hakekatnya merupakan sumbangan. Biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk promosi boleh dikurangkan dari penghasilan bruto.&lt;br /&gt;  Huruf  b&lt;br /&gt;   Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan harta tak berwujud serta pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau amortisasi.&lt;br /&gt;   Selanjutnya lihat ketentuan Pasal 9 ayat (2), Pasal 11, dan Pasal 11A beserta penjelasannya.&lt;br /&gt;   Pengeluaran yang menurut sifatnya merupakan pembayaran di muka, misalnya sewa untuk beberapa tahun yang dibayar sekaligus, pembebanannya dapat dilakukan melalui alokasi.&lt;br /&gt;  Huruf   c&lt;br /&gt;   Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan boleh dibebankan sebagai biaya, sedangkan iuran yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya tidak atau belum disahkan oleh Menteri Keuangan tidak boleh dibebankan sebagai biaya.&lt;br /&gt;  Huruf  d&lt;br /&gt;   Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang menurut tujuan semula tidak dimaksudkan untuk dijual atau dialihkan yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.&lt;br /&gt;   Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki tetapi tidak digunakan dalam perusahaan, atau yang dimiliki tetapi tidak digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan, tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto.&lt;br /&gt;  Huruf  e&lt;br /&gt;   Kerugian karena selisih kurs mata uang asing dapat disebabkan oleh adanya fluktuasi kurs yang terjadi sehari-hari, atau oleh adanya kebijaksanaan Pemerintah di bidang moneter. Kerugian selisih kurs mata uang asing yang disebabkan oleh fluktuasi kurs, pembebanannya dilakukan berdasarkan sistem pembukuan yang dianut, dan harus dilakukan secara taat asas. Apabila Wajib Pajak menggunakan sistem pembukuan berdasarkan kurs tetap (kurs historis), pembebanan kerugian selisih kurs dilakukan pada saat terjadinya realisasi atas perkiraan mata uang asing tersebut. Apabila Wajib Pajak menggunakan sistem pembukuan  berdasarkan  kurs  tengah  Bank  Indonesia  atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun, pembebanannya dilakukan pada setiap akhir tahun berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun.&lt;br /&gt;   Rugi selisih kurs karena kebijaksanaan Pemerintah di bidang moneter dapat dibukukan dalam perkiraan sementara di neraca dan pembebanannya dilakukan bertahap berdasarkan realisasi mata uang asing tersebut.&lt;br /&gt;  Huruf  f&lt;br /&gt;   Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia dalam  jumlah yang wajar untuk menemukan teknologi atau sistem baru bagi pengembangan perusahaan boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan.&lt;br /&gt;  Huruf  g&lt;br /&gt;   Biaya yang dikeluarkan untuk keperluan beasiswa, magang dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan, dengan memperhatikan kewajaran dan kepentingan perusahaan.&lt;br /&gt;  Huruf  h&lt;br /&gt;   Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat dibebankan sebagai biaya sepanjang Wajib Pajak telah mengakuinya sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial dan telah melakukan upaya-upaya penagihan yang maksimal atau terakhir.&lt;br /&gt;   Yang dimaksud dengan penerbitan tidak hanya berarti penerbitan berskala nasional, namun dapat juga penerbitan internal asosiasi dan sejenisnya.&lt;br /&gt;   Tata cara pelaksanaan persyaratan yang ditentukan dalam ayat (1) huruf h ini diatur lebih lanjut  oleh Direktur Jenderal Pajak.&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Jika pengeluaran-pengeluaran yang diperkenankan berdasarkan ketentuan dalam ayat (1) setelah dikurangkan dari penghasilan bruto didapat kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan neto atau laba fiskal selama 5 (lima) tahun berturut-turut dimulai sejak tahun berikutnya sesudah tahun didapatnya kerugian tersebut.&lt;br /&gt;  Contoh :&lt;br /&gt;  PT A dalam tahun 1995 menderita kerugian fiskal sebesar           Rp 1.200.000.000,00. Dalam 5 (lima) tahun berikutnya laba rugi fiskal PT A sebagai berikut :&lt;br /&gt;  1996 : laba fiskal Rp 200.000.000,00&lt;br /&gt;  1997 : rugi fiskal (Rp 300.000.000,00)&lt;br /&gt;  1998 : laba fiskal Rp  N I H I L&lt;br /&gt;  1999 : laba fiskal Rp 100.000.000,00&lt;br /&gt;  2000 : laba fiskal Rp 800.000.000,00&lt;br /&gt;  Kompensasi kerugian dilakukan sebagai berikut :&lt;br /&gt;  Rugi fiskal tahun 1995 (Rp  1.200.000.000,00)&lt;br /&gt;  Laba fiskal tahun 1996 Rp       200.000.000,00 (+)&lt;br /&gt;  Sisa rugi fiskal tahun 1995 (Rp  1.000.000.000,00)&lt;br /&gt;  Rugi fiskal tahun 1997 (Rp 300.000.000,00)&lt;br /&gt;  Sisa rugi fiskal tahun 1995 (Rp  1.000.000.000,00)&lt;br /&gt;  Laba fiskal tahun 1998 Rp       N I H I L           (+)&lt;br /&gt;  Sisa rugi fiskal tahun 1995 (Rp 1.000.000.000,00)&lt;br /&gt;  Laba fiskal tahun 1999  Rp      100.000.000,00 (+)&lt;br /&gt;  Sisa rugi fiskal tahun 1995 (Rp    900.000.000,00)&lt;br /&gt;  Laba fiskal tahun 2000  Rp      800.000.000,00 (+)&lt;br /&gt;  Sisa rugi fiskal tahun 1995 (Rp    100.000.000,00)&lt;br /&gt;  Rugi fiskal tahun 1995 sebesar Rp 100.000.000,00 yang masih tersisa pada akhir tahun 2000 tidak boleh dikompensasikan lagi dengan laba fiskal  tahun  2001,  sedangkan  rugi  fiskal  tahun  1997 sebesar Rp 300.000.000,00 hanya boleh dikompensasikan dengan laba fiskal tahun 2001 dan tahun 2002, karena jangka waktu lima tahun yang dimulai sejak tahun 1998 berakhir pada akhir tahun 2002.&lt;br /&gt; Ayat  (3)&lt;br /&gt;  Dalam menghitung Laba Kena Pajak Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, kepadanya diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  5&lt;br /&gt;Pasal  7&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak dari Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, penghasilan netonya dikurangi dengan jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak. Disamping untuk dirinya, kepada Wajib Pajak yang sudah kawin diberikan tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak.&lt;br /&gt;  Bagi Wajib Pajak yang isterinya menerima atau memperoleh penghasilan yang digabung dengan penghasilannya, maka Wajib Pajak tersebut mendapat tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk seorang isteri sebesar Rp 2.880.000,00 (dua juta delapan ratus delapan puluh ribu rupiah).&lt;br /&gt;  Wajib Pajak yang mempunyai anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus yang menjadi tanggungan sepenuhnya, misalnya orang tua, mertua, anak kandung, anak angkat,  diberikan  tambahan  Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk paling banyak 3 (tiga) orang. Yang dimaksud dengan anggota keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya adalah anggota keluarga yang tidak mempunyai penghasilan dan seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh Wajib Pajak.&lt;br /&gt;  Contoh:&lt;br /&gt;  Wajib Pajak A mempunyai seorang isteri dengan tanggungan 4 (empat) orang anak. Apabila isterinya memperoleh penghasilan dari satu pemberi kerja yang sudah  dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha suami atau anggota keluarga lainnya, maka besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan kepada Wajib Pajak A adalah sebesar Rp 8.640.000,00 {Rp 2.880.000,00 +               Rp 1.440.000,00 + (3 x Rp 1.440.000,00)}. Sedangkan untuk isterinya, pada saat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 oleh pemberi kerja diberikan Penghasilan Tidak Kena Pajak sebesar      Rp 2.880.000,00. Apabila penghasilan isteri harus digabung dengan penghasilan suami, maka besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan kepada Wajib Pajak A adalah sebesar           Rp 11.520.000,00 (Rp 8.640.000,00 + Rp 2.880.000,00).&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Penghitungan besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditentukan menurut keadaan Wajib Pajak pada awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak.&lt;br /&gt;  Misalnya, pada tanggal 1 Januari 2001 Wajib Pajak B berstatus kawin dengan tanggungan 1 (satu) orang anak. Apabila anak yang kedua lahir setelah tanggal 1 Januari 2001, maka besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan kepada Wajib Pajak B untuk tahun pajak 2001 tetap dihitung berdasarkan status kawin dengan 1 (satu) anak.&lt;br /&gt; Ayat  (3)&lt;br /&gt;  Berdasarkan ketentuan ini Menteri Keuangan diberikan wewenang untuk mengubah besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan moneter serta perkembangan harga kebutuhan pokok setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  6&lt;br /&gt;Pasal  9&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan Wajib Pajak dapat dibedakan antara pengeluaran yang boleh dan yang tidak boleh dibebankan sebagai biaya.&lt;br /&gt;  Pada prinsipnya biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto adalah biaya yang mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek Pajak yang pembebanannya dapat dilakukan dalam tahun pengeluaran atau selama masa manfaat dari pengeluaran tersebut. Pengeluaran yang tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto meliputi pengeluaran yang sifatnya adalah pemakaian penghasilan, atau yang jumlahnya melebihi kewajaran.&lt;br /&gt;  Huruf  a&lt;br /&gt;   Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk pembayaran dividen kepada pemilik modal, pembagian sisa hasil usaha koperasi kepada anggotanya, dan pembayaran dividen oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, tidak boleh dikurangkan dari penghasilan badan yang membagikannya karena pembagian laba tersebut merupakan bagian dari penghasilan badan tersebut yang akan dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini.&lt;br /&gt;  Huruf  b&lt;br /&gt;   Tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan atau dibebankan oleh perusahaan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu atau anggota, seperti perbaikan rumah pribadi, biaya perjalanan, biaya premi asuransi yang dibayar oleh perusahaan untuk kepentingan pribadi para pemegang saham atau keluarganya.&lt;br /&gt;  Huruf  c&lt;br /&gt;   Pembentukan atau pemupukan dana cadangan pada prinsipnya tidak dapat dibebankan sebagai biaya dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak. Namun untuk jenis-jenis usaha tertentu yang secara ekonomis memang diperlukan adanya cadangan untuk menutup beban atau kerugian yang akan terjadi di kemudian hari, yang terbatas pada piutang tak tertagih untuk usaha bank, dan sewa guna usaha dengan hak opsi, cadangan untuk usaha asuransi dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, maka perusahaan yang bersangkutan dapat melakukan pembentukan dana cadangan yang ketentuan dan syarat-syaratnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;  Huruf  d&lt;br /&gt;   Premi untuk asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak orang pribadi tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto, dan pada saat orang pribadi dimaksud menerima penggantian atau santunan asuransi, penerimaan tersebut bukan merupakan Objek Pajak.&lt;br /&gt;   Apabila premi asuransi tersebut dibayar atau ditanggung oleh pemberi kerja, maka bagi pemberi kerja pembayaran tersebut boleh   dibebankan   sebagai biaya dan bagi pegawai  yang bersangkutan merupakan penghasilan yang merupakan Objek Pajak.&lt;br /&gt;  Huruf  e&lt;br /&gt;   Sebagaimana telah diuraikan dalam penjelasan Pasal 4 ayat (3) huruf d, penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan dianggap bukan merupakan Objek Pajak. Selaras dengan hal tersebut maka dalam ketentuan ini, penggantian atau imbalan dimaksud dianggap bukan merupakan pengeluaran yang dapat dibebankan sebagai biaya bagi pemberi kerja. Namun, dalam rangka menunjang kebijaksanaan pemerintah untuk mendorong pembangunan di daerah terpencil, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan, penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tersebut, boleh dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja.&lt;br /&gt;   Dalam hal pemberian kepada pegawai berupa penyediaan makanan/minuman ditempat kerja bagi seluruh pegawai, secara bersama-sama, atau yang merupakan keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena sifat pekerjaan tersebut mengharuskannya, seperti pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja, pakaian seragam petugas keamanan (Satpam), antar jemput karyawan serta penginapan untuk awak kapal dan yang sejenisnya, maka pemberian tersebut bukan merupakan imbalan bagi karyawan tetapi boleh dibebankan sebagai biaya bagi pemberi kerja.&lt;br /&gt;  Huruf  f&lt;br /&gt;   Dalam hubungan pekerjaan, kemungkinan dapat terjadi pembayaran  imbalan  yang  diberikan  kepada  pegawai yang juga pemegang saham. Karena pada dasarnya pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto adalah pengeluaran yang jumlahnya wajar sesuai dengan kelaziman usaha, maka berdasarkan ketentuan ini, jumlah yang melebihi kewajaran tersebut tidak boleh dibebankan sebagai biaya.&lt;br /&gt;   Misalnya seorang tenaga ahli yang adalah pemegang saham dari suatu badan, memberikan jasa kepada badan tersebut dengan memperoleh imbalan sebesar Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) .&lt;br /&gt;   Apabila untuk jasa yang sama yang diberikan oleh tenaga ahli lain yang setara hanya dibayar sebesar Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah), maka jumlah sebesar Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Bagi tenaga ahli yang juga sebagai pemegang saham tersebut jumlah sebesar Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) dimaksud dianggap sebagai dividen.&lt;br /&gt;  Huruf  g&lt;br /&gt;   Berbeda dengan pengeluaran hibah, pemberian bantuan, sumbangan dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, yang tidak boleh dikurangkan dari Penghasilan Kena Pajak, zakat atas penghasilan boleh dikurangkan dari Penghasilan Kena Pajak. Zakat atas penghasilan yang dapat dikurangkan tersebut harus nyata-nyata dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan atau Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah    sebagaimana    diatur   dalam   Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, dan sepanjang berkenaan dengan penghasilan yang menjadi Objek Pajak dapat dikurangkan dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak pada tahun zakat tersebut dibayarkan.&lt;br /&gt;  Huruf  h&lt;br /&gt;   Yang dimaksudkan dengan Pajak Penghasilan dalam ketentuan ini adalah Pajak Penghasilan yang terutang oleh Wajib Pajak yang bersangkutan.&lt;br /&gt;  Huruf  i&lt;br /&gt;   Biaya untuk keperluan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya, pada hakekatnya merupakan penggunaan penghasilan oleh Wajib Pajak yang bersangkutan. Oleh karena itu biaya tersebut tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan.&lt;br /&gt;  Huruf  j&lt;br /&gt;   Anggota firma, persekutuan dan perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham diperlakukan sebagai satu kesatuan, sehingga tidak ada imbalan sebagai gaji. Dengan demikian gaji yang diterima oleh anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham, bukan merupakan pembayaran yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto badan tersebut.&lt;br /&gt;  Huruf  k&lt;br /&gt;   Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Sesuai dengan kelaziman usaha, pengeluaran yang mempunyai peranan terhadap penghasilan untuk beberapa tahun, pembebanannya dilakukan sesuai dengan jumlah tahun lamanya pengeluaran tersebut berperan terhadap penghasilan. Sejalan dengan    prinsip    penyelarasan    antara    pengeluaran     dengan penghasilan, dalam ketentuan ini pengeluaran untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dapat dikurangkan sebagai biaya perusahaan sekaligus pada tahun pengeluaran, melainkan dibebankan melalui penyusutan dan amortisasi selama masa manfaatnya sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 11A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  7&lt;br /&gt;Pasal  11&lt;br /&gt; Ayat  (1) dan ayat  (2)&lt;br /&gt;  Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun harus dibebankan sebagai biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan dengan cara mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta tersebut melalui penyusutan. Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh tanah hak milik, termasuk tanah berstatus hak guna bangunan, hak guna usaha dan hak pakai yang pertama kali tidak boleh disusutkan, kecuali apabila tanah tersebut dipergunakan dalam perusahaan atau dimiliki untuk memperoleh penghasilan dengan syarat nilai tanah tersebut berkurang karena penggunaannya untuk memperoleh penghasilan, misalnya tanah dipergunakan untuk perusahaan genteng, perusahaan keramik atau perusahaan batu bata.&lt;br /&gt;  Yang dimaksud dengan pengeluaran untuk memperoleh tanah hak guna bangunan, hak guna usaha dan hak pakai yang pertama kali adalah biaya perolehan tanah berstatus hak guna bangunan, hak guna usaha atau hak pakai dari pihak ketiga dan pengurusan hak-hak tersebut dari instansi yang berwenang untuk pertama kalinya. Sedangkan biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak guna usaha dan hak pakai diamortisasikan selama jangka waktu hak-hak  tersebut.&lt;br /&gt;  Metode penyusutan yang dibolehkan berdasarkan ketentuan ini adalah:&lt;br /&gt;  a. dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut (metode garis lurus atau straight-line method); atau&lt;br /&gt;  b. dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku (metode saldo menurun atau declining balance method).&lt;br /&gt;  Penggunaan metode penyusutan atas harta harus dilakukan secara taat azas.&lt;br /&gt;  Untuk harta berwujud berupa bangunan hanya dapat disusutkan dengan metode garis lurus. Harta berwujud selain bangunan dapat disusutkan dengan metode garis lurus atau metode saldo menurun.&lt;br /&gt;  Dalam hal Wajib Pajak memilih menggunakan metode saldo menurun, nilai sisa buku pada akhir masa manfaat harus disusutkan sekaligus.&lt;br /&gt;  Sesuai dengan pembukuan Wajib Pajak, alat-alat kecil (small tools) yang sama atau sejenis dapat disusutkan dalam satu golongan.&lt;br /&gt;  Contoh penggunaan metode garis lurus:&lt;br /&gt;  Sebuah gedung yang harga perolehannya Rp 100.000.000,00 dan masa manfaatnya 20 (dua puluh) tahun, penyusutannya setiap tahun adalah sebesar Rp 5.000.000,00 (Rp 100.000.000,00  20).&lt;br /&gt;  Contoh penggunaan metode saldo menurun:&lt;br /&gt;  Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Januari 2000 dengan harga perolehan sebesar Rp 150.000.000,00. Masa manfaat dari mesin tersebut adalah 4 (empat) tahun. Kalau tarif penyusutan misalnya ditetapkan 50% (lima puluh persen), maka penghitungan penyusutannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun&lt;br /&gt;Tarif&lt;br /&gt;Penyusutan&lt;br /&gt;Nilai Sisa Buku&lt;br /&gt;Harga Perolehan&lt;br /&gt;150.000.000,00&lt;br /&gt;2000&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;75.000.000,00&lt;br /&gt;75.000.000,00&lt;br /&gt;2001&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;37.500.000,00&lt;br /&gt;37.500.000,00&lt;br /&gt;2002&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;18.750.000,00&lt;br /&gt;18.750.000,00&lt;br /&gt;2003&lt;br /&gt;Disusutkan&lt;br /&gt;sekaligus&lt;br /&gt;18.750.000,00&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat  (3) dan ayat  (4)&lt;br /&gt;   Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran, atau pada bulan selesainya pengerjaan suatu harta sehingga penyusutan pada tahun pertama dihitung secara pro-rata. Namun berdasarkan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, saat mulainya penyusutan dapat dilakukan pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan.&lt;br /&gt;   Yang dimaksud dengan mulai menghasilkan dalam ketentuan ini dikaitkan dengan saat mulai berproduksi dan tidak dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya penghasilan.&lt;br /&gt;  Contoh 1.&lt;br /&gt;  Pengeluaran untuk pembangunan sebuah gedung adalah sebesar Rp 100.000.000,00. Pembangunan dimulai pada bulan Oktober 2000 dan selesai untuk digunakan pada bulan Maret 2001. Penyusutan atas harga perolehan bangunan gedung tersebut dimulai pada bulan Maret tahun pajak 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Contoh 2.&lt;br /&gt;  Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Juli 2000 dengan harga perolehan sebesar Rp 100.000.000,00. Masa manfaat dari mesin tersebut adalah 4 (empat) tahun. Kalau tarif penyusutan misalnya ditetapkan 50% (lima puluh persen), maka penghitungan penyusutannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun&lt;br /&gt;Tarif&lt;br /&gt;Penyusutan&lt;br /&gt;Nilai Sisa Buku&lt;br /&gt;Harga Perolehan&lt;br /&gt;100.000.000,00&lt;br /&gt;2000&lt;br /&gt;½  X  50%&lt;br /&gt;25.000.000,00&lt;br /&gt;75.000.000,00&lt;br /&gt;2001&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;37.500.000,00&lt;br /&gt;37.500.000,00&lt;br /&gt;2002&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;18.750.000,00&lt;br /&gt;18.750.000,00&lt;br /&gt;2003&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;9.375.000,00&lt;br /&gt;9.375.000,00&lt;br /&gt;2004&lt;br /&gt;Disusutkan&lt;br /&gt;sekaligus&lt;br /&gt;9.375.000,00&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Contoh 3.&lt;br /&gt;  PT X yang bergerak di bidang perkebunan membeli traktor pada tahun 1999. Perkebunan tersebut mulai menghasilkan (panen) pada tahun 2000. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, penyusutan traktor tersebut dapat dilakukan mulai tahun 2000.&lt;br /&gt; Ayat  (5)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (6)&lt;br /&gt;  Untuk memberikan kepastian hukum bagi Wajib Pajak dalam melakukan penyusutan atas pengeluaran harta berwujud, ketentuan ini mengatur kelompok masa manfaat harta dan tarif penyusutan baik menurut metode garis lurus maupun saldo menurun.&lt;br /&gt;  Yang dimaksud dengan bangunan tidak permanen adalah bangunan yang bersifat sementara dan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan, yang masa manfaatnya tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun. Misalnya, barak atau asrama yang dibuat dari kayu untuk karyawan.&lt;br /&gt; Ayat  (7)&lt;br /&gt;  Dalam rangka menyesuaikan dengan karakteristik bidang-bidang usaha tertentu, seperti pertambangan minyak dan gas bumi, perkebunan tanaman keras, perlu diberikan pengaturan tersendiri untuk peyusutan harta berwujud yang digunakan dalam usaha tersebut yang ketentuannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt; Ayat  (8) dan ayat  (9)&lt;br /&gt;  Pada dasarnya keuntungan atau kerugian karena pengalihan harta dikenakan pajak dalam tahun dilakukannya pengalihan harta tersebut.&lt;br /&gt;  Apabila harta tersebut dijual atau terbakar, maka penerimaan neto dari penjualan harta tersebut, yaitu selisih antara harga penjualan dengan biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan penjualan tersebut dan atau penggantian asuransinya dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penjualan atau tahun diterimanya penggantian asuransi, dan nilai sisa buku dari harta tersebut dibebankan sebagai kerugian dalam tahun pajak yang bersangkutan.&lt;br /&gt; Ayat  (10)&lt;br /&gt;  Dalam hal penggantian asuransi yang diterima jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti di masa kemudian, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak agar Jumlah sebesar kerugian tersebut dapat dibebankan dalam tahun penggantian asuransi tersebut.&lt;br /&gt;  Menyimpang dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (8), dalam hal pengalihan harta berwujud yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, nilai sisa bukunya tidak boleh dibebankan sebagai kerugian oleh pihak yang mengalihkan.&lt;br /&gt; Ayat  (11)&lt;br /&gt;  Dalam rangka memberikan keseragaman kepada Wajib Pajak untuk melakukan penyusutan, Menteri Keuangan diberi wewenang menetapkan jenis-jenis harta yang termasuk dalam setiap kelompok masa manfaat yang harus diikuti oleh Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka   8&lt;br /&gt;Pasal   11 A&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Harga perolehan harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk perpanjangan hak-hak atas tanah (seperti hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai) yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, diamortisasi dengan metode:&lt;br /&gt;  a. dalam bagian-bagian yang sama setiap tahun selama masa manfaat, atau;&lt;br /&gt;  b. dalam bagian-bagian yang menurun setiap tahun dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas nilai sisa buku.&lt;br /&gt;  Khusus untuk amortisasi harta tak berwujud yang menggunakan metode saldo menurun, pada akhir masa manfaat nilai sisa buku harta tak berwujud atau hak-hak tersebut diamortisasi sekaligus.&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Penentuan masa manfaat dan tarif amortisasi atas pengeluaran harta tak berwujud dimaksudkan untuk memberikan keseragaman bagi  Wajib  Pajak  dalam melakukan amortisasi. Wajib Pajak dapat melakukan amortisasi sesuai dengan metode yang dipilihnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berdasarkan masa manfaat yang sebenarnya dari tiap harta tak berwujud. Tarif amortisasi yang diterapkan didasarkan pada kelompok masa manfaat sebagaimana yang diatur dalam ketentuan ini. Untuk harta tidak berwujud yang masa manfaatnya tidak tercantum pada kelompok masa manfaat yang ada, maka Wajib Pajak menggunakan masa manfaat yang terdekat. Misalnya harta tak berwujud dengan masa manfaat yang sebenarnya 6 (enam) tahun dapat menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun atau 8 (delapan) tahun. Dalam hal masa manfaat yang sebenarnya 5 (lima) tahun, maka harta tak berwujud tersebut diamortisasi dengan menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun.&lt;br /&gt; Ayat  (3)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (4)&lt;br /&gt;  Metode satuan produksi dilakukan dengan menerapkan persentase amortisasi yang besarnya setiap tahun sama dengan persentase perbandingan antara realisasi penambangan minyak dan gas bumi pada tahun yang bersangkutan dengan taksiran jumlah seluruh kandungan minyak dan gas bumi di lokasi tersebut yang dapat diproduksi.&lt;br /&gt;  Apabila ternyata jumlah produksi yang sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan, sehingga masih terdapat sisa pengeluaran untuk memperoleh hak atau pengeluaran lain, maka atas sisa pengeluaran tersebut boleh dibebankan sekaligus dalam tahun pajak yang bersangkutan.&lt;br /&gt; Ayat  (5)&lt;br /&gt;  Pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan gas bumi, hak pengusahaan hutan, atau hasil alam lainnya seperti  hak   pengusahaan   hasil   laut   diamortisasi   berdasarkan metode satuan produksi dengan jumlah paling tinggi 20% (dua puluh persen) setahun.&lt;br /&gt;  Contoh:&lt;br /&gt;  Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan, yang mempunyai potensi 10.000.000 (sepuluh juta) ton kayu, sebesar Rp 500.000.000,00 diamortisasi sesuai dengan persentase satuan produksi yang direalisasikan dalam tahun yang bersangkutan. Jika dalam satu tahun pajak ternyata jumlah produksi mencapai 3.000.000 (tiga juta) ton yang berarti 30% (tiga puluh persen) dari potensi yang tersedia, maka walaupun jumlah produksi pada tahun tersebut mencapai 30% (tiga puluh persen) dari jumlah potensi yang tersedia, besarnya amortisasi yang diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto pada tahun tersebut adalah 20% (dua puluh persen) dari pengeluaran atau                 Rp 100.000.000,00.&lt;br /&gt; Ayat  (6)&lt;br /&gt;  Dalam pengertian pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial, adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum operasi komersial, misalnya biaya studi kelayakan dan biaya produksi percobaan tetapi tidak termasuk biaya-biaya operasional yang sifatnya rutin, seperti gaji pegawai, biaya rekening listrik dan telepon, dan biaya kantor lainnya. Untuk pengeluaran operasional yang rutin ini tidak boleh dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.&lt;br /&gt; Ayat  (7)&lt;br /&gt;  Contoh:&lt;br /&gt;  PT X mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp 500.000.000,00. Taksiran jumlah kandungan minyak di daerah tersebut adalah sebanyak 200.000.000 (dua ratus juta) barel. Setelah produksi minyak  dan  gas bumi mencapai 100.000.000 (seratus juta) barel,&lt;br /&gt;  PT X menjual hak penambangan tersebut kepada pihak lain dengan harga sebesar Rp 300.000.000,00. Penghitungan penghasilan dan kerugian dari penjualan hak tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;  Harga perolehan             Rp 500.000.000,00&lt;br /&gt;  Amortisasi yang telah dilakukan&lt;br /&gt;  100.000.000/200.000.000 barel (50%)  Rp 250.000.000,00&lt;br /&gt;  Nilai buku harta             Rp 250.000.000,00&lt;br /&gt;  Harga jual harta              Rp 300.000.000,00&lt;br /&gt;  Dengan demikian jumlah nilai sisa buku sebesar                          Rp 250.000.000,00 dibebankan sebagai kerugian dan jumlah sebesar Rp 300.000.000,00 dibukukan sebagai penghasilan.&lt;br /&gt; Ayat  (8)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  9&lt;br /&gt;Pasal  14&lt;br /&gt; Informasi yang benar dan lengkap tentang penghasilan Wajib Pajak sangat penting untuk dapat mengenakan pajak yang adil dan wajar sesuai dengan kemampuan ekonomis Wajib Pajak. Untuk dapat menyajikan informasi dimaksud, Wajib Pajak harus menyelenggarakan pembukuan. Namun disadari bahwa tidak semua Wajib Pajak mampu menyelenggarakan pembukuan. Semua Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap diwajibkan menyelenggarakan pembukuan. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas dengan jumlah peredaran tertentu, tidak diwajibkan untuk menyelenggarakan pembukuan.&lt;br /&gt; Untuk memberikan kemudahan dalam menghitung besarnya penghasilan neto bagi Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto tertentu, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan norma penghitungan.&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Norma penghitungan adalah pedoman untuk menentukan besarnya penghasilan neto yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak dan disempurnakan terus menerus. Penggunaan Norma penghitungan tersebut pada dasarnya dilakukan dalam hal-hal:&lt;br /&gt;  a. tidak terdapat dasar penghitungan yang lebih baik, yaitu pembukuan yang lengkap, atau&lt;br /&gt;  b. pembukuan atau catatan peredaran bruto Wajib Pajak ternyata diselenggarakan secara tidak benar.&lt;br /&gt;  Norma penghitungan disusun sedemikian rupa berdasarkan hasil penelitian atau data lain, dan dengan memperhatikan kewajaran.&lt;br /&gt;  Norma penghitungan akan sangat membantu Wajib Pajak yang belum mampu menyelenggarakan pembukuan untuk menghitung penghasilan neto.&lt;br /&gt; Ayat  (2), ayat  (3) dan ayat  (4)&lt;br /&gt;  Norma Penghitungan Penghasilan Neto hanya boleh digunakan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang peredaran brutonya kurang dari jumlah Rp 600.000.000,00. Untuk dapat menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto tersebut Wajib Pajak orang pribadi harus memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan. Wajib Pajak orang pribadi yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto tersebut wajib menyelenggarakan pencatatan tentang peredaran brutonya sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Pencatatan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan penerapan norma dalam menghitung penghasilan neto.&lt;br /&gt;  Apabila Wajib Pajak orang pribadi yang berhak bermaksud untuk menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, tetapi tidak memberitahukannya kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu yang ditentukan, maka Wajib Pajak tersebut dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan.&lt;br /&gt; Ayat   (5)&lt;br /&gt;   Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan dan atau wajib menyelenggarakan pencatatan dan atau dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan, tetapi :&lt;br /&gt;  a. tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan kewajiban pencatatan atau pembukuan;&lt;br /&gt;  b. tidak bersedia memperlihatkan pembukuan atau pencatatan atau bukti-bukti pendukungnya pada waktu dilakukan pemeriksaan;&lt;br /&gt;  sehingga karena itu mengakibatkan peredaran bruto yang sebenarnya tidak diketahui, maka penghasilan netonya dapat dihitung dengan cara lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt; Ayat  (6)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (7)&lt;br /&gt;  Menteri Keuangan dapat menyesuaikan besarnya batas peredaran bruto sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dengan memperhatikan perkembangan ekonomi dan kemampuan masyarakat Wajib Pajak untuk menyelenggarakan pembukuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  10&lt;br /&gt;Pasal  17&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Huruf  a&lt;br /&gt;   Contoh penghitungan pajak terutang untuk Wajib Pajak orang pribadi&lt;br /&gt;   Jumlah Penghasilan Kena Pajak  Rp 250.000.000,00&lt;br /&gt;   Pajak Penghasilan terutang:&lt;br /&gt;   5%  X Rp  25.000.000,00 =          Rp   1.250.000,00&lt;br /&gt;   10% x Rp  25.000.000,00 =  Rp   2.500.000,00&lt;br /&gt;   15% x Rp  50.000.000,00 =  Rp   7.500.000,00&lt;br /&gt;   25% x Rp100.000.000,00 =  Rp 25.000.000,00&lt;br /&gt;   35% x Rp 50.000.000,00 =   Rp 17.500.000,00  (+)&lt;br /&gt;                                                Rp 53.750.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Huruf  b&lt;br /&gt;  Contoh penghitungan pajak terutang untuk Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap:&lt;br /&gt;   Jumlah Penghasilan Kena Pajak  Rp 250.000.000,00&lt;br /&gt;   Pajak Penghasilan terutang:&lt;br /&gt;   10% x Rp   50.000.000,00 =  Rp   5.000.000,00&lt;br /&gt;   15% x Rp   50.000.000,00 =  Rp   7.500.000,00&lt;br /&gt;   30% x Rp 150.000.000,00 = Rp 45.000.000,00  (+)&lt;br /&gt;                                                            Rp 57.500.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Perubahan tarif sebagaimana dimaksud dalam ayat ini akan diberlakukan secara nasional, dimulai per 1 (satu) Januari dan diumumkan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum tarif baru itu berlaku efektif, serta dikemukakan oleh Pemerintah kepada Dewan  Perwakilan  Rakyat  Republik   Indonesia,   untuk   dibahas dalam rangka penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.&lt;br /&gt; Ayat  (3)&lt;br /&gt;  Besarnya lapisan Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tersebut akan disesuaikan dengan faktor penyesuaian, antara lain tingkat inflasi. Menteri Keuangan diberi wewenang mengeluarkan keputusan yang mengatur tentang faktor penyesuaian tersebut.&lt;br /&gt; Ayat  (4)&lt;br /&gt;  Contoh:&lt;br /&gt;  Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 5.050.900,00 untuk penerapan tarif dibulatkan ke bawah menjadi Rp 5.050.000,00.&lt;br /&gt; Ayat  (5) dan ayat  (6)&lt;br /&gt;  Contoh&lt;br /&gt;  Penghasilan Kena Pajak  setahun (dihitung sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 16 ayat (4)) Rp 34.816.000,00&lt;br /&gt;  Pajak Penghasilan setahun:&lt;br /&gt;  5% x Rp 25.000.000,00 =   Rp 1.250.000,00&lt;br /&gt;  10% x Rp   9.816.000,00 =  Rp    981.600,00  (+)&lt;br /&gt;                                              Rp 2.231.600,00&lt;br /&gt;  Pajak Penghasilan terutang dalam bagian tahun pajak (3 bulan)&lt;br /&gt;  (3x30)  360 x Rp 2.231.600,00 =  Rp 557.900,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat  (7)&lt;br /&gt;  Ketentuan dalam ayat ini memberi wewenang kepada Pemerintah untuk menentukan tarif pajak tersendiri yang dapat bersifat final atas jenis penghasilan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), sepanjang tidak lebih tinggi dari tarif pajak tertinggi sebagaimana diatur dalam ayat (1). Penentuan tarif pajak tersendiri tersebut didasarkan atas pertimbangan kesederhanaan, keadilan dan pemerataan dalam pengenaan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  11&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Undang-undang ini memberi wewenang kepada Menteri Keuangan untuk memberi keputusan tentang besarnya perbandingan antara utang dan modal perusahaan yang dapat dibenarkan untuk keperluan penghitungan pajak. Dalam dunia usaha terdapat tingkat perbandingan tertentu yang wajar mengenai besarnya perbandingan antara utang dan modal (debt to equity ratio). Apabila perbandingan antara utang dan modal sangat besar melebihi batas-batas kewajaran, maka pada umumnya perusahaan tersebut dalam keadaan tidak sehat. Dalam hal demikian, untuk penghitungan Penghasilan Kena Pajak, Undang-undang ini menentukan adanya modal terselubung.&lt;br /&gt;  Istilah modal disini menunjuk kepada istilah atau pengertian ekuitas menurut standar akuntansi sedangkan yang dimaksud dengan kewajaran atau kelaziman usaha adalah adat kebiasaan atau praktik menjalankan usaha atau melakukan kegiatan yang sehat dalam dunia usaha.&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Dengan semakin berkembangnya ekonomi dan perdagangan internasional sejalan dengan era globalisasi, dapat terjadi bahwa Wajib Pajak dalam negeri menanamkan modalnya di luar negeri. Untuk mengurangi kemungkinan penghindaran pajak, maka terhadap penanaman modal di luar negeri selain pada badan usaha yang menjual sahamnya di bursa efek, Menteri Keuangan berwenang untuk menentukan saat diperolehnya dividen.&lt;br /&gt;  Contoh:&lt;br /&gt;  PT A dan PT B masing-masing memiliki saham sebesar 40% dan 20% pada X Ltd. yang bertempat kedudukan di negara Q. Saham X Ltd. tersebut tidak diperdagangkan di bursa efek. Dalam tahun 2000 X Ltd. memperoleh laba setelah pajak sejumlah Rp100.000.000,00.&lt;br /&gt;  Dalam hal demikian, Menteri Keuangan berwenang menetapkan saat diperolehnya dividen dan dasar penghitungannya.&lt;br /&gt; Ayat  (3)&lt;br /&gt;  Maksud diadakannya ketentuan ini adalah untuk mencegah terjadinya penghindaran pajak, yang dapat terjadi karena adanya hubungan istimewa. Apabila terdapat hubungan istimewa, kemungkinan dapat terjadi penghasilan dilaporkan kurang dari semestinya ataupun pembebanan biaya melebihi dari yang seharusnya. Dalam hal demikian, Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan atau biaya sesuai dengan keadaan seandainya di antara para Wajib Pajak tersebut tidak terdapat hubungan istimewa. Dalam menentukan kembali jumlah penghasilan dan atau biaya tersebut dapat dipakai beberapa pendekatan, misalnya data pembanding, alokasi laba berdasar fungsi atau peran serta dari Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dan indikasi serta data lainnya.&lt;br /&gt;  Demikian pula kemungkinan terdapat penyertaan modal secara terselubung, dengan menyatakan penyertaan modal tersebut sebagai utang, maka Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan utang tersebut sebagai modal perusahaan. Penentuan tersebut dapat dilakukan misalnya melalui indikasi mengenai perbandingan antara modal dengan utang yang lazim terjadi antara para pihak yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa atau berdasar data atau indikasi lainnya.&lt;br /&gt;  Dengan demikian bunga yang dibayarkan sehubungan dengan utang yang dianggap sebagai penyertaan modal itu tidak diperbolehkan untuk dikurangkan, sedangkan bagi pemegang saham yang menerima atau memperolehnya dianggap sebagai dividen yang dikenakan pajak.&lt;br /&gt; Ayat  (3a)&lt;br /&gt;  Kesepakatan harga transfer (Advance Pricing Agreement/APA) adalah kesepakatan antara Wajib Pajak dengan Direktur Jenderal Pajak mengenai harga jual wajar produk yang dihasilkannya kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa  (related parties) dengannya. Tujuan diadakannya APA adalah untuk mengurangi terjadinya praktik penyalahgunaan transfer pricing oleh perusahaan multi nasional. Persetujuan antara Wajib Pajak dengan Direktur Jenderal Pajak tersebut dapat mencakup beberapa hal antara lain harga jual produk yang dihasilkan, jumlah royalti dan lain-lain, tergantung pada kesepakatan. Keuntungan dari APA selain memberikan kepastian hukum dan kemudahan penghitungan pajak, Fiskus tidak perlu melakukan koreksi atas harga jual dan keuntungan produk yang dijual Wajib Pajak  kepada perusahaan dalam grup yang sama. APA dapat bersifat unilateral, yaitu merupakan kesepakatan antara Direktur Jenderal Pajak dengan Wajib Pajak atau bilateral, yaitu kesepakatan antara Direktur Jenderal Pajak dengan otoritas perpajakan negara lain yang menyangkut Wajib Pajak yang berada di wilayah yurisdiksinya.&lt;br /&gt; Ayat  (4)&lt;br /&gt;  Hubungan istimewa di antara Wajib Pajak dapat terjadi karena ketergantungan atau keterikatan satu dengan yang lain yang disebabkan karena:&lt;br /&gt;  a. kepemilikan atau penyertaan modal;&lt;br /&gt;  b. adanya penguasaan melalui manajemen atau penggunaan teknologi.&lt;br /&gt;  Selain karena hal-hal tersebut di atas, hubungan istimewa di antara Wajib Pajak orang pribadi dapat pula terjadi karena adanya hubungan darah atau karena perkawinan.&lt;br /&gt;  Huruf  a&lt;br /&gt;   Hubungan istimewa dianggap ada apabila terdapat hubungan kepemilikan yang berupa penyertaan modal sebesar 25% (dua puluh lima persen) atau lebih secara langsung ataupun tidak langsung.&lt;br /&gt;   Misalnya, PT A mempunyai 50% (lima puluh persen) saham PT B. Pemilikan saham oleh PT A merupakan penyertaan langsung.&lt;br /&gt;   Selanjutnya apabila PT B tersebut mempunyai 50% (lima puluh persen) saham PT C, maka PT A sebagai pemegang saham PT B secara tidak langsung mempunyai penyertaan pada PT C sebesar 25% (dua puluh lima persen). Dalam hal demikian antara PT A, PT B dan PT C dianggap terdapat hubungan istimewa. Apabila PT A juga memiliki 25% (dua puluh lima persen) saham PT D, maka antara PT B, PT C dan PT D dianggap terdapat hubungan istimewa.&lt;br /&gt;   Hubungan kepemilikan seperti tersebut di atas dapat juga terjadi antara orang pribadi dan badan.&lt;br /&gt;  Huruf  b&lt;br /&gt;   Hubungan istimewa antara Wajib Pajak dapat juga terjadi karena penguasaan melalui manajemen atau penggunaan teknologi, walaupun tidak terdapat hubungan kepemilikan.&lt;br /&gt;   Hubungan istimewa dianggap ada apabila satu atau lebih perusahaan berada di bawah penguasaan yang sama. Demikian juga hubungan antara beberapa perusahaan yang berada dalam penguasaan yang sama tersebut.&lt;br /&gt;  Huruf  c&lt;br /&gt;   Yang dimaksud dengan hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat adalah ayah, ibu, dan anak, sedangkan hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan ke samping satu derajat adalah saudara.&lt;br /&gt;   Yang dimaksud dengan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus satu derajat adalah mertua dan anak tiri, sedangkan hubungan keluarga semenda dalam garis keturunan ke samping satu derajat adalah ipar.&lt;br /&gt; Ayat  (5)&lt;br /&gt;   Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  12&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Ketentuan ini mengatur tentang pembayaran pajak dalam tahun berjalan melalui pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan. Pihak yang wajib melakukan pemotongan, penyetoran dan pelaporan pajak adalah pemberi kerja, bendaharawan pemerintah, dana pensiun, badan, perusahaan, dan penyelenggara kegiatan.&lt;br /&gt;  Huruf  a&lt;br /&gt;   Pemberi kerja yang wajib melakukan pemotongan, penyetoran dan pelaporan pajak adalah orang pribadi ataupun badan yang merupakan induk, cabang, perwakilan atau unit perusahaan, yang membayar atau terutang gaji, upah, tunjangan, honorarium, dan pembayaran lain dengan nama apapun kepada pengurus, pegawai atau bukan pegawai, sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa,   atau   kegiatan   yang   dilakukan.   Dalam    pengertian pemberi kerja termasuk juga organisasi internasional yang tidak dikecualikan dari kewajiban memotong pajak.&lt;br /&gt;   Yang dimaksud dengan pembayaran lain adalah pembayaran dengan nama apapun selain gaji, upah, tunjangan, dan honorarium, dan pembayaran lain seperti bonus, gratifikasi, tantiem.&lt;br /&gt;   Yang dimaksud dengan bukan pegawai adalah orang pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan dari pemberi kerja sehubungan dengan ikatan kerja tidak tetap, misalnya artis yang menerima atau memperoleh honorarium dari pemberi kerja.&lt;br /&gt;  Huruf  b&lt;br /&gt;   Bendaharawan pemerintah termasuk bendaharawan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah, lembaga-lembaga negara lainnya dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri yang membayar gaji, upah, tunjangan, honorarium, dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.&lt;br /&gt;  Huruf  c&lt;br /&gt;   Dana pensiun atau badan lain seperti badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja yang membayarkan uang pensiun, tunjangan hari tua, tabungan hari tua, dan pembayaran lain yang sejenis dengan nama apapun.&lt;br /&gt;   Dalam pengertian uang pensiun atau pembayaran lain termasuk tunjangan-tunjangan baik yang dibayarkan secara berkala ataupun tidak, yang dibayarkan kepada penerima pensiun, penerima tunjangan hari tua, penerima tabungan hari tua.&lt;br /&gt;  Huruf  d&lt;br /&gt;   Dalam pengertian badan termasuk organisasi internasional yang tidak dikecualikan berdasarkan ayat (2). Termasuk tenaga ahli orang pribadi misalnya dokter, pengacara, akuntan, yang melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas namanya sendiri, bukan untuk dan atas nama persekutuannya.&lt;br /&gt;  Huruf  e&lt;br /&gt;   Penyelenggara kegiatan wajib memotong pajak atas pembayaran hadiah atau penghargaan dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan. Dalam pengertian penyelenggara kegiatan termasuk antara lain badan, badan pemerintah, organisasi termasuk organisasi internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya yang menyelenggarakan kegiatan. Kegiatan yang diselenggarakan misalnya kegiatan olah raga, keagamaan, kesenian dan kegiatan lain.&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;    Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (3)&lt;br /&gt;  Bagi pegawai tetap besarnya penghasilan yang dipotong pajak adalah penghasilan bruto dikurangi dengan biaya jabatan, iuran pensiun, dan Penghasilan Tidak Kena Pajak. Dalam pengertian iuran pensiun termasuk juga iuran tunjangan hari tua atau tabungan hari tua yang dibayar oleh pegawai.&lt;br /&gt;  Bagi pensiunan besarnya penghasilan yang dipotong pajak adalah jumlah penghasilan bruto dikurangi dengan biaya pensiun dan Penghasilan Tidak Kena Pajak. Dalam pengertian pensiunan termasuk juga penerima tunjangan hari tua atau tabungan hari tua.&lt;br /&gt; Ayat  (4)&lt;br /&gt;  Besarnya penghasilan yang dipotong pajak bagi pegawai harian, mingguan, serta pegawai tidak tetap lainnya adalah jumlah penghasilan bruto dikurangi dengan bagian penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, dengan memperhatikan Penghasilan Tidak Kena Pajak yang berlaku.&lt;br /&gt; Ayat  (5)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (6)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (7)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (8)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  13&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Ketentuan dalam ayat ini mengatur pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap yang berasal dari modal, pemberian jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf e, yang dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah atau Subjek Pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.&lt;br /&gt;  Dasar pemotongan pajak dalam ayat ini dibedakan antara penghasilan bruto dan perkiraan penghasilan neto. Dasar pemotongan pajak untuk pembayaran penghasilan dalam bentuk dividen,  bunga,  royalti,  hadiah,  dan penghargaan adalah jumlah penghasilan bruto. Dasar pemotongan untuk sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta adalah perkiraan penghasilan neto.&lt;br /&gt;  Penghasilan berupa imbalan jasa yang wajib dilakukan pemotongan pajak adalah jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.&lt;br /&gt;  Atas penghasilan berupa bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi dipotong pajak sebesar 15% (lima belas persen) dan bersifat final. Atas penghasilan berupa bunga simpanan koperasi yang tidak melebihi batas yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dibayarkan koperasi kepada anggotanya tidak dipotong Pajak Penghasilan Pasal 23.&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Agar ketentuan ini dapat dilaksanakan dengan baik dan dinamis sesuai dengan perkembangan dunia usaha, maka Direktur Jenderal Pajak diberi wewenang untuk menetapkan jenis-jenis jasa lain dan besarnya perkiraan penghasilan neto. Dalam menetapkan besarnya perkiraan penghasilan neto, Direktur Jenderal Pajak selain memanfaatkan data dan informasi intern, dapat memperhatikan pendapat dan informasi dari pihak-pihak yang terkait.&lt;br /&gt; Ayat  (3)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (4)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;Angka  14&lt;br /&gt;Pasal  25&lt;br /&gt; Ketentuan ini mengatur tentang penghitungan besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar oleh Wajib Pajak sendiri dalam tahun berjalan.&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;  Contoh 1:&lt;br /&gt;  Pajak Penghasilan yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2000 Rp 50.000.000,00&lt;br /&gt;  dikurangi:&lt;br /&gt;  a. Pajak Penghasilan yang dipotong pemberi kerja&lt;br /&gt;   (Pasal 21)                                      Rp  15.000.000,00&lt;br /&gt;  b. Pajak Penghasilan yang dipungut oleh pihak lain&lt;br /&gt;   (Pasal 22)                                      Rp  10.000.000,00&lt;br /&gt;  c. Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pihak lain&lt;br /&gt;    (Pasal 23)                                      Rp  2.500.000,00&lt;br /&gt;  d. Kredit Pajak Penghasilan luar negeri&lt;br /&gt;   (Pasal 24) Rp   7.500.000,00 (+)&lt;br /&gt;   Jumlah kredit pajak                      Rp  35.000.000.00 ()&lt;br /&gt;   Selisih  Rp 15.000.000,00&lt;br /&gt;  Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2001 adalah sebesar Rp1.250.000,00 (Rp15.000.000,00 dibagi 12).&lt;br /&gt;  Contoh 2:&lt;br /&gt;  Apabila Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam contoh di atas berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh untuk bagian tahun pajak yang meliputi masa 6 (enam) bulan dalam tahun 2000, maka besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar sendiri setiap bulan dalam tahun 2001 adalah sebesar Rp 2.500.000,00 (Rp 15.000.000,00 dibagi 6).&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Mengingat batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan adalah 3 (tiga) bulan setelah tahun pajak berakhir, maka besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh  Wajib  Pajak sebelum batas waktu penyampaian Surat  Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan belum dapat dihitung sesuai dengan ketentuan ayat (1).&lt;br /&gt;  Berdasarkan ketentuan ini, besarnya angsuran pajak untuk bulan-bulan sebelum batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tersebut adalah sama dengan angsuran pajak untuk bulan terakhir dari tahun pajak yang lalu.&lt;br /&gt;  Contoh:&lt;br /&gt;  Apabila Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan oleh Wajib Pajak pada bulan Maret 2001, maka besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib Pajak untuk bulan Januari dan Pebruari 2001 adalah sebesar angsuran pajak bulan Desember 2000, misalnya sebesar Rp 1.000.000,00.&lt;br /&gt;  Apabila dalam bulan September 2000 diterbitkan keputusan pengurangan angsuran pajak menjadi nihil, sehingga angsuran pajak sejak bulan Oktober sampai dengan Desember 2000 menjadi nihil, maka besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib Pajak setiap bulan untuk bulan Januari dan Pebruari 2001 tetap sama dengan angsuran bulan Desember, yaitu nihil.&lt;br /&gt; Ayat  (3)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (4)&lt;br /&gt;  Apabila dalam tahun berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak yang lalu maka angsuran pajak dihitung berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut. Perubahan angsuran pajak tersebut berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan diterbitkannya surat ketetapan pajak.&lt;br /&gt;  Contoh:&lt;br /&gt;  Berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak 2000 yang disampaikan Wajib Pajak dalam bulan Maret  2001,  perhitungan  besarnya  angsuran  pajak  yang  harus&lt;br /&gt;              dibayar adalah sebesar Rp 1.250.000,00. Dalam bulan Juni 2001 telah diterbitkan surat ketetapan pajak tahun pajak 2000 yang menghasilkan besarnya angsuran pajak setiap bulan sebesar         Rp 2.000.000,00.&lt;br /&gt;  Berdasarkan ketentuan dalam ayat ini, maka besarnya angsuran pajak mulai bulan Juli 2001 adalah sebesar Rp 2.000.000,00. Penetapan besarnya angsuran pajak berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut bisa sama, lebih besar atau lebih kecil dari angsuran pajak sebelumnya berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan.&lt;br /&gt; Ayat  (5)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat  (6)&lt;br /&gt;  Pada dasarnya besarnya pembayaran angsuran pajak oleh Wajib Pajak sendiri dalam tahun berjalan sedapat mungkin diupayakan mendekati jumlah pajak yang akan terutang pada akhir tahun. Oleh karena itu berdasarkan ketentuan ini, dalam hal-hal tertentu Direktur Jenderal Pajak diberikan wewenang untuk menyesuaikan penghitungan besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dalam tahun berjalan, apabila terdapat kompensasi kerugian, Wajib Pajak menerima atau memperoleh penghasilan tidak teratur, atau terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.&lt;br /&gt;  Contoh 1:&lt;br /&gt;  Penghasilan PT X tahun 2000   Rp 120.000.000,00&lt;br /&gt;  Sisa kerugian tahun sebelumnya&lt;br /&gt;  yang masih dapat dikompensasikan                Rp 150.000.000,00&lt;br /&gt;  Sisa kerugian yang belum&lt;br /&gt;  dikompensasikan tahun 2000   Rp   30.000.000,00&lt;br /&gt;  Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 tahun 2001 adalah:&lt;br /&gt;  Penghasilan yang dipakai dasar penghitungan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 = Rp 120.000.000,00 - Rp 30.000.000,00 = Rp 90.000.000,00.&lt;br /&gt;  Pajak Penghasilan terutang:&lt;br /&gt;  10% x Rp 50.000.000,00 =  Rp   5.000.000,00&lt;br /&gt;  15% x Rp 40.000.000,00 =  Rp   6.000.000,00 (+)&lt;br /&gt;                                                   Rp 11.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Apabila pada tahun 2000 tidak ada Pajak Penghasilan yang dipotong atau dipungut oleh pihak lain dan pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 24, maka besarnya angsuran pajak bulanan PT X tahun 2001 = 1/12 x Rp 11.000.000,00 = Rp 916.666,67 (dibulatkan              Rp 916.666,00).&lt;br /&gt;  Contoh 2:&lt;br /&gt;  Penghasilan teratur Wajib Pajak A dari usaha dagang dalam tahun 2000 Rp 48.000.000,00 dan penghasilan tidak teratur dari mengontrakkan rumah selama 3 (tiga) tahun yang dibayar sekaligus pada tahun 2000 sebesar Rp 72.000.000,00. Mengingat penghasilan yang tidak teratur tersebut sekaligus diterima pada tahun 2000, maka penghasilan yang dipakai sebagai dasar penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 dari Wajib Pajak A pada tahun 2001 adalah hanya dari penghasilan teratur tersebut.&lt;br /&gt;  Contoh 3:&lt;br /&gt;  Perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak dapat terjadi karena penurunan atau peningkatan usaha. PT B yang bergerak di bidang produksi benang dalam tahun 2000 membayar angsuran bulanan sebesar Rp 15.000.000,00.&lt;br /&gt;  Dalam bulan Juni 2000 pabrik milik PT B terbakar, oleh karena itu berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak mulai bulan Juli 2000 angsuran bulanan PT B dapat disesuaikan menjadi lebih kecil dari Rp15.000.000,00.&lt;br /&gt;  Sebaliknya apabila PT B mengalami peningkatan usaha, misalnya adanya peningkatan penjualan dan diperkirakan Penghasilan Kena Pajaknya akan lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka kewajiban angsuran bulanan PT B dapat disesuaikan oleh Direktur Jenderal Pajak.&lt;br /&gt; Ayat  (7)&lt;br /&gt;  Pada prinsipnya penghitungan besarnya angsuran bulanan dalam tahun berjalan didasarkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu. Namun berdasarkan ketentuan ini, Menteri Keuangan diberi wewenang untuk menetapkan dasar penghitungan besarnya angsuran bulanan selain berdasarkan prinsip tersebut dengan tujuan agar lebih mendekati kewajaran berdasarkan data yang dapat dipakai untuk menentukan besarnya pajak yang akan terutang pada akhir tahun serta sebagai dasar penghitungan jumlah (besarnya) angsuran pajak dalam tahun berjalan.&lt;br /&gt;  Bagi Wajib Pajak baru yang mulai menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dalam tahun pajak berjalan, perlu diatur untuk menentukan besarnya angsuran pajak, karena Wajib Pajak belum memasukkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;  Penentuan besarnya angsuran pajak didasarkan atas kenyataan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.&lt;br /&gt;  Bagi Wajib Pajak yang bergerak dalam bidang perbankan, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, terdapat kewajiban menyampaikan kepada Pemerintah laporan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan dalam suatu periode tertentu, yang dapat dipakai sebagai dasar penghitungan untuk menentukan besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan.&lt;br /&gt;  Dalam perkembangan dunia usaha, kemungkinan terdapat bidang usaha atau Wajib Pajak tertentu termasuk Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu yaitu Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai tempat usaha tersebar di beberapa tempat, misalnya pedagang elektronik yang mempunyai toko di beberapa pusat perbelanjaan, yang angsuran pajaknya dapat dihitung berdasarkan data atau kenyataan yang ada, sehingga mendekati kewajaran.&lt;br /&gt; Ayat  (8)&lt;br /&gt;  Pajak yang dibayar Wajib Pajak orang pribadi yang bertolak ke luar negeri merupakan pembayaran angsuran pajak dalam tahun berjalan yang dapat dikreditkan dengan jumlah Pajak Penghasilan yang terutang pada akhir tahun. Berdasarkan pertimbangan tertentu, misalnya tugas negara, pertimbangan sosial, budaya, pendidikan, keagamaan, dan kelaziman internasional, dengan Peraturan Pemerintah diatur tentang pengecualian dari kewajiban membayar pajak sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini.&lt;br /&gt; Ayat  (9)&lt;br /&gt;  Sebagaimana dimaksud dalam ayat (7), besarnya angsuran pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu yaitu Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai tempat usaha tersebar di beberapa tempat, misalnya pedagang elektronik yang mempunyai toko di beberapa pusat perbelanjaan, ditetapkan tersendiri dengan Keputusan Menteri Keuangan. Angsuran pokok bagi Wajib Pajak tersebut,  merupakan  pelunasan  pajak yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan, sepanjang Wajib Pajak tersebut tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain yang tidak dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final. Apabila Wajib Pajak tersebut juga menerima atau memperoleh penghasilan lain yang tidak dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final, maka dalam menghitung pajaknya, seluruh penghasilannya digunggungkan dan dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan umum, sedangkan pajak yang telah dibayar merupakan kredit pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  15&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt; Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri dari Indonesia, Undang-undang ini menganut dua sistem pengenaan pajak, yaitu pemenuhan sendiri kewajiban perpajakannya bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia, dan pemotongan oleh pihak yang wajib membayar bagi Wajib Pajak luar negeri lainnya.&lt;br /&gt; Ketentuan ini mengatur tentang pemotongan atas penghasilan yang bersumber di Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap.&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Pemotongan pajak berdasarkan ketentuan ini wajib dilakukan oleh badan pemerintah, Subjek Pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya yang melakukan pembayaran kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dengan tarif sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto.&lt;br /&gt;  Jenis-jenis penghasilan yang wajib dilakukan pemotongan dapat digolongkan dalam:&lt;br /&gt;  1) penghasilan yang bersumber dari modal dalam bentuk dividen, bunga termasuk premium, diskonto, premi swap sehubungan dengan interest swap dan imbalan karena jaminan pengembalian utang, royalti, dan sewa serta penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;&lt;br /&gt;  2) imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, atau kegiatan;&lt;br /&gt;  3) hadiah dan penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun;&lt;br /&gt;  4) pensiun dan pembayaran berkala lainnya.&lt;br /&gt;  Sesuai dengan ketentuan ini, misalnya suatu badan Subjek Pajak dalam negeri membayarkan royalti sebesar Rp 100.000.000,00 kepada Wajib Pajak luar negeri, maka Subjek Pajak dalam negeri tersebut berkewajiban untuk memotong Pajak Penghasilan sebesar 20% (dua puluh persen) dari Rp 100.000.000,00.&lt;br /&gt;  Sebagai contoh lain misalnya seorang atlit dari luar negeri yang ikut mengambil bagian dalam perlombaan lari maraton di Indonesia, dan kemudian merebut hadiah uang, maka atas hadiah tersebut dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan sebesar 20% (dua puluh persen).&lt;br /&gt; Ayat  (2) dan ayat  (3)&lt;br /&gt;  Ketentuan ini mengatur tentang pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri yang bersumber di Indonesia, selain dari penghasilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), yaitu penghasilan dari penjualan harta dan premi asuransi, termasuk premi reasuransi. Atas penghasilan tersebut dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto dan bersifat final. Menteri Keuangan diberikan wewenang untuk menetapkan besarnya perkiraan penghasilan neto dimaksud, serta hal-hal lain dalam rangka pelaksanaan pemotongan pajak tersebut.&lt;br /&gt;  Ketentuan ini tidak diterapkan dalam hal Wajib Pajak luar negeri tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia, atau apabila penghasilan dari penjualan harta tersebut telah dikenakan pajak berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (2).&lt;br /&gt; Ayat  (4)&lt;br /&gt;  Atas Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen).&lt;br /&gt;  Contoh:&lt;br /&gt;  Penghasilan Kena Pajak bentuk usaha tetap&lt;br /&gt;  di Indonesia Rp 17.500.000.000,00&lt;br /&gt;  Pajak Penghasilan:&lt;br /&gt;  10% x Rp        50.000.000,00 = Rp 5.000.000,00&lt;br /&gt;  15% x Rp        50.000.000,00 = Rp 7.500.000,00&lt;br /&gt;  30% x Rp 17.400.000.000,00 = Rp 5.220.000.000,00 (+)&lt;br /&gt;     Rp   5.232.500.000,00 (-)&lt;br /&gt;  Penghasilan Kena Pajak&lt;br /&gt;  setelah dikurangi pajak    Rp 12.267.500.000,00&lt;br /&gt;  Pajak Penghasilan Pasal 26 yang terutang&lt;br /&gt;  20% X 12.267.500.000 = Rp 2.453.500.000,00&lt;br /&gt;  Namun apabila penghasilan setelah dikurangi pajak sebesar Rp12.267.500.000,00 tersebut ditanamkan kembali di Indonesia sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan, maka atas penghasilan tersebut tidak dipotong pajak.&lt;br /&gt; Ayat  (5)&lt;br /&gt;   Pada prinsipnya pemotongan pajak atas Wajib Pajak luar negeri adalah bersifat final, namun atas penghasilan sebagaimana dimaksud  dalam  Pasal  5  ayat (1)  huruf  b  dan huruf c, dan atas penghasilan Wajib Pajak orang pribadi atau badan luar negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap, pemotongan pajaknya tidak bersifat final sehingga potongan pajak tersebut dapat dikreditkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;  Contoh:&lt;br /&gt;  A sebagai tenaga asing orang pribadi membuat perjanjian kerja dengan PT B sebagai Wajib Pajak dalam negeri untuk bekerja di Indonesia untuk jangka waktu 5 (lima) bulan terhitung mulai tanggal 1 Januari 2001. Pada tanggal 20 April 2001 perjanjian kerja tersebut diperpanjang menjadi 8 (delapan) bulan sehingga akan berakhir pada tanggal 31 Agustus 2001.&lt;br /&gt;  Jika perjanjian kerja tersebut tidak diperpanjang maka status A adalah tetap sebagai Wajib Pajak luar negeri. Dengan diperpanjangnya perjanjian kerja tersebut maka status A berubah dari Wajib Pajak luar negeri menjadi Wajib Pajak dalam negeri terhitung sejak tanggal 1 Januari 2001. Selama bulan Januari sampai dengan Maret 2001 atas penghasilan bruto A telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 26 oleh PT B.&lt;br /&gt;  Berdasarkan ketentuan ini, maka untuk menghitung Pajak Penghasilan yang terutang atas penghasilan A untuk masa Januari sampai dengan Agustus 2001, Pajak Penghasilan Pasal 26 yang telah dipotong dan disetor PT B atas penghasilan A sampai dengan Maret tersebut, dapat dikreditkan terhadap pajak A sebagai Wajib Pajak dalam negeri.&lt;br /&gt;Angka  16&lt;br /&gt;Pasal  31 A&lt;br /&gt; Ayat  (1)&lt;br /&gt;  Salah satu prinsip yang perlu dipegang teguh di dalam undang-undang    perpajakan   adalah   diberlakukan   dan   diterapkannya perlakuan yang sama terhadap semua Wajib Pajak atau terhadap kasus-kasus dalam bidang perpajakan yang hakekatnya sama, dengan berpegang pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Karena itu setiap kemudahan dalam bidang perpajakan jika benar-benar diperlukan harus mengacu pada kaidah di atas dan perlu dijaga agar di dalam penerapannya tidak menyimpang dari maksud dan tujuan diberikannya kemudahan tersebut.&lt;br /&gt;  Tujuan diberikannya kemudahan pajak ini adalah untuk mendorong kegiatan investasi langsung di Indonesia baik melalui penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri di  bidang-bidang usaha tertentu dan daerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional, khususnya penggalakan ekspor. Selain itu kemudahan pajak juga diberikan untuk mendorong pengembangan daerah terpencil, seperti yang banyak terdapat di kawasan timur Indonesia, dalam rangka pemerataan pembangunan.&lt;br /&gt;  Fasilitas perangsang penanaman ini dapat dinikmati selama 6 (enam) tahun, sehingga setiap tahunnya Wajib Pajak berhak mengurangkan dari penghasilan neto sebesar 5% (lima persen) dari jumlah  realisasi penanaman.&lt;br /&gt;  Demikian pula ketentuan ini dapat digunakan untuk menampung kemungkinan perjanjian dengan negara-negara lain dalam bidang perdagangan, investasi, dan bidang lainnya.&lt;br /&gt; Ayat  (2)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  17&lt;br /&gt;   Pasal  31 B&lt;br /&gt; Krisis ekonomi dan moneter yang terjadi sejak tahun 1997 telah menimbulkan  dampak  negatif  yang  luas  terhadap  sektor perbankan, usaha investasi, kesempatan kerja, dan makro ekonomi. Hal tersebut terjadi terutama karena banyaknya utang luar negeri dan dalam negeri (dalam valuta asing) yang mengalami kenaikan drastis sebagai akibat terdepresiasinya secara signifikan nilai rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat. Dalam rangka upaya pemulihan kegiatan perekonomian nasional Pemerintah perlu menempuh kebijakan khusus restrukturisasi utang. Restrukturisasi tersebut dapat dilakukan dalam bentuk pembebasan (sebagian atau seluruh) utang, pengalihan harta untuk penyelesaian utang, dan perubahan utang menjadi modal. Restrukturisasi utang yang diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi tersebut, perlu didorong dengan pemberian fasilitas perpajakan. Pemberian fasilitas dimaksud sifatnya terbatas baik jenis maupun jangka waktunya. Agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan oleh mereka yang betul-betul berhak, terarah dan terkendali sesuai dengan maksud dan tujuannya, fasilitas hanya diberikan terhadap restrukturisasi utang yang dilakukan melalui lembaga khusus yang dibentuk Pemerintah, yaitu Satuan Tugas Prakarsa Jakarta.&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;  Fasilitas pajak yang diberikan masa berlakunya terbatas hanya untuk tahun-tahun pajak 2000, 2001 dan 2002. Adapun fasilitas pajak yang dimaksud  adalah berupa keringanan Pajak Penghasilan dalam bentuk :&lt;br /&gt;  a. pembebasan sebagian serta pengangsuran pembayaran Pajak Penghasilan yang terutang atas pembebasan utang yang diberikan oleh kreditur;&lt;br /&gt;  b. pembebasan Pajak Penghasilan yang terutang atas pengalihan harta kepada kreditur untuk penyelesaian utang sepanjang harta tersebut dinilai sebesar nilai buku pihak yang mengalihkan;&lt;br /&gt;  c. pembebasan Pajak Penghasilan yang terutang atas perubahan utang menjadi penyertaan modal sepanjang penyertaan modal tersebut dinilai sebesar utang.&lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal  31 C&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;  Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  18&lt;br /&gt;Pasal  32&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka  19&lt;br /&gt;Pasal 32 A&lt;br /&gt; Dalam rangka peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara lain diperlukan suatu perangkat hukum yang berlaku khusus (lex-spesialis)  yang mengatur hak-hak pemajakan dari masing-masing negara guna memberikan kepastian hukum dan menghindarkan pengenaan pajak berganda serta mencegah pengelakan pajak. Adapun bentuk dan materinya mengacu pada konvensi internasional dan ketentuan lainnya serta ketentuan perpajakan nasional masing-masing negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASAL II&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASAL III&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3985&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-3303480262681738605?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/3303480262681738605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=3303480262681738605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/3303480262681738605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/3303480262681738605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2008/12/undang-undang-republik-indonesia-nomor_1659.html' title='UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR  17  TAHUN 2000'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-8314051804897206644</id><published>2008-12-18T16:56:00.003+07:00</published><updated>2008-12-31T05:04:17.590+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2000</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 18 TAHUN 1997&lt;br /&gt;TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;Menimbang :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a.Bahwa dengan berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, maka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilakukan dengan memberikan kewenangan yang lebih luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada Daerah;&lt;br /&gt;b.bahwa dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah, dipandang perlu menekankan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, dan akuntabilitas serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah;&lt;br /&gt;c.bahwa pajak Daerah dan Reptribusi Daerah merupakan salah satu sumber pendapatan Daerah yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan Daerah dan pembangunan Daerah untuk memantapkan Otonomi Daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab;&lt;br /&gt;d.bahwa Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah perlu disesuaikan dengan perkembangan keadaan;&lt;br /&gt;e.bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut pada huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d di atas, maka perlu dilakukan perubahan atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;&lt;br /&gt;Mengingat :&lt;br /&gt;1.Pasal 1 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 20 ayat (2), dan Pasal 23 Undang-undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945;&lt;br /&gt;2.Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685);&lt;br /&gt;3.Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);&lt;br /&gt;4.Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dengan Persetujuan&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 1997 TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH.&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Beberapa ketentuan dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685), diubah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Ketentuan Pasal 1 angka 1, angka 2, angka 3, angka 7, angka 9, angka 10, angka 11, angka 12, angka 14, angka 15, angka 16, angka 17, angka 18, angka 19, angka 20, angka 22, angka 24, angka 25, angka 33, angka 34, angka 35, dan angka 37 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 1 berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam Undang-undang ini, yang dimaksud dengan :&lt;br /&gt;1.Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas Daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;2.Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai badan eksekutif Daerah.&lt;br /&gt;3.Kepala Daerah adalah Gubernur bagi Daerah Propinsi atau Daerah Bupati bagi Daerah Kabupaten atau Walikota bagi Daerah Kota.&lt;br /&gt;4.Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang perpajakan Daerah dan/atau Retribusi Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;5.Peraturan Daerah adalah peraturan yang ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.&lt;br /&gt;6.Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan Daerah dan pembangunan Daerah.&lt;br /&gt;7.Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.&lt;br /&gt;8.Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak Daerah.&lt;br /&gt;9.Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang, termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu.&lt;br /&gt;10.Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan 1 (satu) bulan takwim atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah.&lt;br /&gt;11.Tahun Pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) tahun takwim kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwim.&lt;br /&gt;12.Pajak terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak, atau dalam bagian Tahun Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah.&lt;br /&gt;13.Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak atau Retribusi, penentuan besarnya pajak atau Retribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak atau Retribusi kepada Wajib Pajak atau Wajib Retribusi serta pengawasan penyetorannya.&lt;br /&gt;14.Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, yang dapat disingkat SPTPD, adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, Objek Pajak dan/atau bukan Objek Pajak, dan/atau harta dan kewajiban, menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah.&lt;br /&gt;15.Surat Setoran Pajak Daerah, yang dapat disingkat SSPD, adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak terutang ke Kas Daerah atau ke tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Kepala Daerah.&lt;br /&gt;16.Surat Ketetapan Pajak Daerah, Yang dapat disingkat SKPD, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak.&lt;br /&gt;17.Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, yang dapat disingkat SKPDKB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah yang masih harus dibayar.&lt;br /&gt;18.Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, yang dapat disingkat SKPDKBT, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;19.Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih bayar, yang dapat disingkat SKPDLB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang.&lt;br /&gt;20.Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, yang dapat disingkat SKPDN, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.&lt;br /&gt;21.Surat Tagihan Pajak Daerah, yang dapat disingkat STPD, adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung dan/atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah yang terdapat dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil atau Surat Tagihan Pajak Daerah.&lt;br /&gt;23.Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak.&lt;br /&gt;24.Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak.&lt;br /&gt;25.Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada setiap Tahun Pajak berakhir.&lt;br /&gt;26.Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.&lt;br /&gt;27.Jasa adalah kegiatan Pemerintah Daerah berupa usaha dan pelayanan yang menyebabkan barang, atau kemanfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.&lt;br /&gt;28.Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.&lt;br /&gt;29.Jasa Usaha adalah jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta.&lt;br /&gt;30.Perizinan tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;31.Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi, termasuk pemungut atau pemotong Retribusi tertentu.&lt;br /&gt;32.Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;33.Surat Setoran Retribusi Daerah, yang dapat disingkat SSRD, adalah surat yang oleh Wajib Retribusi digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran Retribusi yang terutang ke Kas Daerah atau ke tempat pembayaran lain yang ditetapkan oleh Kepala Daerah.&lt;br /&gt;34.Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang dapat disingkat SKRD, adalah surat ketetapan Retribusi yang menentukan besarnya pokok Retribusi.&lt;br /&gt;35.Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, yang dapat disingkat SKRDLB, adalah surat ketetapan Retribusi yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran Retribusi karena jumlah kredit Retribusi lebih besar daripada Retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang.&lt;br /&gt;36.Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang dapat disingkat STRD, adalah surat untuk melakukan tagihan Retribusi dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.&lt;br /&gt;37.Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, mengolah data dan/atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Daerah dan Retribusi dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah dan Retribusi.&lt;br /&gt;38.Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi yang terjadi serta menemukan tersangkanya."&lt;br /&gt;2. Ketentuan Pasal 2 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diubah, serta ayat (5) dan ayat (6) dihapus, sehingga keseluruhan Pasal 2 berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 2&lt;br /&gt;(1) Jenis Pajak Propinsi Terdiri dari :&lt;br /&gt;a.Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;&lt;br /&gt;b.Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;&lt;br /&gt;c.Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;&lt;br /&gt;d.Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.&lt;br /&gt;(2) Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri dari :&lt;br /&gt;a.Pajak Hotel;&lt;br /&gt;b.Pajak Restoran;&lt;br /&gt;c.Pajak Hiburan;&lt;br /&gt;d.Pajak Reklame;&lt;br /&gt;e.Pajak Penerangan Jalan;&lt;br /&gt;f.Pajak pengambilan Bahan Galian Golongan C;&lt;br /&gt;g.Pajak Parkir.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan tentang objek, subjek, dan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;(4) Dengan Peraturan Daerah dapat ditetapkan jenis pajak Kabupaten/Kota selain yang ditetapkan dalam ayat (2) yang memenuhi kriteria sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.bersifat pajak dan bukan Retribusi;&lt;br /&gt;b.objek pajak terletak atau terdapat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan;&lt;br /&gt;c.objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum;&lt;br /&gt;d.objek pajak bukan merupakan objek pajak Propinsi dan/atau objek pajak Pusat;&lt;br /&gt;e.potensinya memadai;&lt;br /&gt;f.tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif;&lt;br /&gt;g.memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat; dan&lt;br /&gt;h.menjaga kelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;(5) dihapus.&lt;br /&gt;(6)Dihapus."&lt;br /&gt;3. Di antara Pasal 2 dan Pasal 3 disisipkan 2 (dua) Pasal yaitu Pasal 2A dan Pasal 2B, yang berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Pasal 2 A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Hasil penerimaan pajak Propinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) sebagian diperuntukan bagi Daerah Kabupaten/Kota di wilayah Propinsi yang bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 30 % (tiga puluh persen);&lt;br /&gt;b.Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen);&lt;br /&gt;c.Hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 70 % (Tujuh puluh persen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Hasil penerimaan pajak Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dan ayat (4) diperuntukan paling sedikit 10 % (sepuluh persen) bagi Desa di wilayah daerah kabupaten yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(3) Bagian Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Daerah Propinsi dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar Daerah Kabupaten/Kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Bagian Desa sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar Desa.&lt;br /&gt;(5) Penggunaan bagian Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan sepenuhnya oleh Daerah Kabupaten/Kota."&lt;br /&gt;"Pasal 2B&lt;br /&gt;(1) Dalam hal hasil penerimaan pajak Kabupaten/Kota dalam suatu Propinsi terkonsentrasi pada sejumlah kecil Daerah Kabupaten/Kota, Gubernur berwenang merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada Kabupaten/Kota dalam Propinsi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal objek pajak Kabupaten/Kota dalam satu Propinsi yang bersifat lintas Daerah Kabupaten/Kota, Gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada Daerah Kabupaten/Kota yang terkait.&lt;br /&gt;(3) Realokasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh Gubernur atas dasar kesepakatan yang dicapai antar Daerah Kabupaten/Kota yang terkait dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan."&lt;br /&gt;(4) Ketentuan Pasal 3 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 3 berbunyi sebagai beikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Tarif jenis pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan paling tinggi sebesar :&lt;br /&gt;a.Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen);&lt;br /&gt;b.Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen);&lt;br /&gt;c.Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen);&lt;br /&gt;d.Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen);&lt;br /&gt;e.Pajak Hotel 10% (sepuluh persen);&lt;br /&gt;f.Pajak Restoran 10% (sepuluh persen);&lt;br /&gt;g.Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen);&lt;br /&gt;h.Pajak Reklame 25% (dua puluh lima persen)&lt;br /&gt;i.Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen);&lt;br /&gt;j.Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen);&lt;br /&gt;k.Pajak Parkir 20% (dua puluh persen).&lt;br /&gt;(2) Tarif pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d ditetapkan seragam di seluruh Indonesia dan diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;(3) Tarif pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, huruf i, huruf j, dan huruf k ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;(4) Besarnya pokok pajak dihitung dengan mangalikan tarif pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan dasar pengenaan pajak."&lt;br /&gt;(5) Ketentuan Pasal 4 diubah dengan menambah 2 (dua) ayat, yaitu ayat (5) dan ayat (6), sehingga keseluruhan Pasal 4 berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Pajak ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;(2) Peraturan Daerah tentang Pajak tidak dapat berlaku surut.&lt;br /&gt;(3) Peraturan Daerah tentang Pajak sekurang-kurangnya mengatur ketentuan mengenai :&lt;br /&gt;a.Nama, obyek, dan subyek pajak;&lt;br /&gt;b.Dasar pengenaan, tarif, dan cara penghitungan pajak;&lt;br /&gt;c.Wilayah pemungutan;&lt;br /&gt;d.Masa pajak;&lt;br /&gt;e.Penetapan;&lt;br /&gt;f.Tata cara pembayaran dan penagihan;&lt;br /&gt;g.Kedaluwarsa;&lt;br /&gt;h.Sanksi administrasi; dan&lt;br /&gt;i.Tanggal mulai berlakunya.&lt;br /&gt;(4) Peraturan Daerah tentang Pajak dapat mengatur ketentuan mengenai :&lt;br /&gt;a.Pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok pajak dan/atau sanksinya;&lt;br /&gt;b.Tata cara penghapusan piutang pajak yang kedaluwarsa;&lt;br /&gt;c.Asas timbal balik&lt;br /&gt;(5) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal (2) ayat (4) harus terlebih dahulu disosialisasikan dengan masyarakat sebelum ditetapkan.&lt;br /&gt;(6) Ketentuan mengenai tata cara dan mekanisme pelaksanaan sosialisasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) ditetapkan oleh Kepala Daerah."&lt;br /&gt;6. Ketentuan Pasal 5 dihapus&lt;br /&gt;7. Di antara Pasal 5 dan Pasal 6 disisipkan 1 (satu) Pasal yaitu Pasal 5A yang berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Pasal 5A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Dalam rangka pengawasan, Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan Pasal 4 ayat (1) disampaikan kepada Pemerintah paling lama 15 (lima belas) hari setelah ditetapkan.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dimaksud.&lt;br /&gt;(3) Pembatalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan paling lama 1 (satu) bulan sejak diterimanya Peraturan Daerah dimaksud.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku."&lt;br /&gt;8. Ketentuan Pasal 18 diubah, dan ditambah 3 (tiga) ayat yaitu ayat (4), ayat (5), dan ayat (6), sehingga keseluruhan Pasal 18 berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 18&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Obyek Retribusi terdiri dari :&lt;br /&gt;a.Jasa Umum;&lt;br /&gt;b.Jasa Usaha;&lt;br /&gt;c.Perizinan Tertentu.&lt;br /&gt;(2) Retribusi dibagi atas tiga golongan :&lt;br /&gt;a.Retribusi Jasa Umum;&lt;br /&gt;b.Retribusi Jasa Usaha&lt;br /&gt;c.Retribusi Perizinan Tertentu.&lt;br /&gt;(3) Jenis-jenis Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha, dan Retribusi Perizinan Tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah berdasarkan kriteria sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Retribusi Jasa Umum ;&lt;br /&gt;1.Retribusi Jasa Umum bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa Usaha atau Retribusi Perizinan Tertentu;&lt;br /&gt;2.Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi;&lt;br /&gt;3.Jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi orang pribadi atau badan yang diharuskan membayar Retribusi, disamping untuk melayani kepentingan dan kemanfaatan umum;&lt;br /&gt;4.Jasa tersebut layak untuk dikenakan retribusi;&lt;br /&gt;5.Retribusi tidak bertentangan dengan kebijakan nasional mengenai penyelenggaraannya;&lt;br /&gt;6.Retribusi dapat dipungut secara efektif dan efisien, serta merupakan salah satu sumber pendapatan Daerah yang potensial; dan&lt;br /&gt;7.Pemungutan Retribusi memungkinkan penyediaan jasa tersebut dengan tingkat dan/atau kualitas pelayanan yang lebih baik.&lt;br /&gt;b. Retribusi Jasa Usaha :&lt;br /&gt;1.Retribusi Jasa Usaha bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa Umum atau Retribusi Perizinan Tertentu; dan&lt;br /&gt;2.Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial yang seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai atau terdapatnya harta yang dimiliki/dikuasai Daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh olehPemerintah Daerah.&lt;br /&gt;c. Retribusi Perizinan Tertentu :&lt;br /&gt;1.Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka asas desentralisasi;&lt;br /&gt;2.Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi kepentingan umum; dan&lt;br /&gt;3.Biaya yang menjadi beban Daerah dalam penyelenggaraan izin tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari Retribusi perizinan.&lt;br /&gt;(4) Dengan Peraturan Daerah dapat ditetapkan jenis Retribusi selain yang ditetapkan dalam ayat (3) sesuai dengan kewenangan otonominya dan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;(5) Hasil penerimaan jenis Retribusi tertentu Daerah Kabupaten sebagian diperuntukkan kepada Desa.&lt;br /&gt;(6) Bagian Desa sebagaiman dimaksud dalam ayat (5) ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Daerah Kabupaten dengan memperhatikan aspek keterlibatan Desa dalam penyediaan layanan tersebut."&lt;br /&gt;9. Ketentuan Pasal 21 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 21 berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Pasal 21&lt;br /&gt;Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif ditentukan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.Untuk Retribusi Jasa Umum, berdasarkan kebijakan Daerah dengan mempertimbangkan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, dan aspek keadilan;&lt;br /&gt;b.Untuk Retribusi Jasa Usaha, berdasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak;&lt;br /&gt;c.Untuk Retribusi Perizinan Tertentu, berdasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan."&lt;br /&gt;10. Ketentuan Pasal 24 diubah, dan ditambah 2 (dua) ayat yaitu ayat (5) dan ayat (6), sehingga keseluruhan Pasal 24 berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Pasal 24&lt;br /&gt;(1) Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;(2) Peraturan Daerah tentang Retribusi tidak dapat berlaku surut.&lt;br /&gt;(3) Peraturan Daerah tentang Retribusi sekurang-kurangnya mengatur ketentuan mengenai :&lt;br /&gt;a.Nama, obyek, dan subyek Retribusi;&lt;br /&gt;b.Golongan Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2);&lt;br /&gt;c.Cara mengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan;&lt;br /&gt;d.Prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif Retribusi;&lt;br /&gt;e.Struktur dan besarnya tarif Retribusi;&lt;br /&gt;f.Wilayah pemungutan;&lt;br /&gt;g.Tata cara pemungutan;&lt;br /&gt;h.Sanksi administrasi;&lt;br /&gt;i.Tata cara penagihan; dan&lt;br /&gt;j.Tanggal mulai berlakunya.&lt;br /&gt;(4) Peraturan Daerah tentang Retribusi dapat mengatur ketentuan mengenai :&lt;br /&gt;a.Masa Retribusi;&lt;br /&gt;b.Pemberian keringanan, pengurangan, dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok Retribusi dan/atau sanksinya;&lt;br /&gt;c.Tata penghapusan piutang Retribusi yang kedaluwarsa.&lt;br /&gt;(5) Peraturan Daerah untuk jenis-jenis Retribusi yang tergolong dalam Retribusi Perizinan Tertentu harus terlebih dahulu disosialisasikan dengan masyarakat sebelum ditetapkan.&lt;br /&gt;(6) Ketentuan tata cara dan mekanisme pelaksanaan sosialisasi Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) ditetapkan oleh Kepala Daerah."&lt;br /&gt;11. Ketentuan Pasal 25 dihapus.&lt;br /&gt;12. Diantara Pasal 25 dan Pasal 26 disisipkan 1 (satu) Pasal yaitu Pasal 25A, yang berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Pasal 25A&lt;br /&gt;(1) Dalam rangka pengawasan, Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) dan Pasal 24 ayat (1) disampaikan kepada Pemerintah paling lama 15 (lima belas) hari setelah ditetapkan.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dimaksud.&lt;br /&gt;(3) Pembatalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan paling lama 1(satu) bulan sejak diterimanya PeraturanDaerah dimaksud.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku."&lt;br /&gt;13. Ketentuan Pasal 36 diubah, dan di antara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 1 (satu) ayat yaitu ayat 2a, sehingga keseluruhan Pasal 36 berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Pasal 36&lt;br /&gt;(1) Setiap pejabat dilarang memberikan kepada pihak lain segala sesuatu yang diketahui atau diberikan kepadanya oleh Wajib Pajak dalam rangka jabatan atau pekerjaanya untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah.&lt;br /&gt;(2) Larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku juga terhadap tenaga ahli yang ditunjuk oleh Kepala Daerah untuk membantu dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah.&lt;br /&gt;(2a) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah :&lt;br /&gt;a.Pejabat dan tenaga ahli yang bertindak sebagai saksi atau saksi ahli dalam sidang pengadilan;&lt;br /&gt;b.Pejabat dan tenaga ahli yang memberikan keterangan kepada pihak lain yang ditetapkan oleh Kepala Daerah.&lt;br /&gt;(3) Untuk kepentingan Daerah, Kepala Daerah Berwenang memberi izin tertulis kepada pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan tenaga-tenaga ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), supaya memberikan keterangan, memperlihatkan bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak kepada pihak yang ditunjuknya.&lt;br /&gt;(4) Untuk kepentingan pemeriksaan di pengadilan dalam perkara pidana atau perdata atas permintaan hakim sesuai dengan hukum Acara Pidana dan Hukum Acara Perdata, Kepala Daerah dapat memberi izin tertulis untuk meminta kepada pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan tenaga ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), bukti tertulis dan keterangan Wajib Pajak yang ada padanya.&lt;br /&gt;(5) Permintaan hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), harus menyebutkan nama tersangka atau nama tergugat, keterangan-keterangan yang diminta serta kaitan antara perkara pidana atauperdata yang bersangkutan dengan keterangan yang diminta tersebut."&lt;br /&gt;14. Ketentuan Pasal 42 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 42 berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;"Pasal 42&lt;br /&gt;(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah atau Retribusi, sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.&lt;br /&gt;(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah :&lt;br /&gt;a.Menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;&lt;br /&gt;b.Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan Daerah dan Retribusi;&lt;br /&gt;c.Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;&lt;br /&gt;d.Memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;&lt;br /&gt;e.Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;&lt;br /&gt;f.Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi;&lt;br /&gt;g.Menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan/atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;&lt;br /&gt;h.Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana perpajakan Daerah dan Retribusi;&lt;br /&gt;i.Memanggil orang untuk didengar keterangannya dandiperiksa sebagai tersangka atau saksi;&lt;br /&gt;j.Menghentikan penyidikan;&lt;br /&gt;k.Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah dan Retribusi menurut hukum yang bertanggung Jawab.&lt;br /&gt;(3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberikan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalamUndang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku."&lt;br /&gt;Pasal II&lt;br /&gt;Pada saat Undang-undang ini mulai berlaku semua Peraturan Daerah tentang Pajak dan Peraturan Daerah tentang Retribusi yang telah diajukan kepada Menteri Dalam Negeri untuk mendapatkan pengesahan berdasarkan ketentuan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 sebelum berlakunya undang-undang ini, sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini dapat dilaksanakan tanpa memerlukan pengesahan tersebut.&lt;br /&gt;Pasal III&lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;Pada tanggal 20 desember 2000&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;ABDURRAHMAN WAHID&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;Pada tanggal 20 Desember 2000&lt;br /&gt;SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;DJOHAN EFFENDI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000 NOMOR 246&lt;br /&gt;Salinan sesuai dengan aslinya&lt;br /&gt;SEKRETARIAT KABINET RI&lt;br /&gt;Kepala Biro Peraturan&lt;br /&gt;Perundang-undangan I,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;L.V. Nahattands&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-8314051804897206644?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/8314051804897206644/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=8314051804897206644' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/8314051804897206644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/8314051804897206644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2008/12/undang-undang-republik-indonesia-nomor_8078.html' title='UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2000'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-2830248828957789115</id><published>2008-12-18T16:55:00.002+07:00</published><updated>2008-12-31T05:18:35.182+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR  33  TAHUN 2004</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PERIMBANGAN KEUANGAN&lt;br /&gt;ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan diselenggarakan otonomi seluas-luasnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia;&lt;br /&gt;b. bahwa hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, dan antar Pemerintahan Daerah perlu diatur  secara adil dan selaras;&lt;br /&gt;c. bahwa untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah melalui penyediaan sumber-sumber pendanaan berdasarkan kewenangan Pemerintah Pusat,  Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Tugas Pembantuan, perlu diatur perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah berupa sistem keuangan yang diatur berdasarkan pembagian kewenangan, tugas, dan tanggung jawab yang jelas antarsusunan pemerintahan;&lt;br /&gt;d. bahwa Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan serta tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah, sehingga perlu diganti;&lt;br /&gt;e. bahwa  berdasarkan  pertimbangan  pada huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d, perlu ditetapkan Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat : 1. Pasal 1  ayat (1),  Pasal  18, Pasal 18A, Pasal  20, Pasal 21,  Pasal 23, Pasal 23C, dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia  Tahun 1945;&lt;br /&gt;2. Undang-Undang Nomor  17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia  Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor  4286);&lt;br /&gt;3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara  Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor 4355);&lt;br /&gt;4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara  Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor 4400);&lt;br /&gt;5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara  Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor 4437);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;br /&gt;2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan Tugas Pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;br /&gt;3. Perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan, dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan Desentralisasi, dengan memper-timbangkan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah, serta besaran pendanaan penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.&lt;br /&gt;4. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.&lt;br /&gt;5. Daerah otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah  berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;6. Kepala Daerah adalah gubernur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota.&lt;br /&gt;7. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.&lt;br /&gt;8. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;9. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah.&lt;br /&gt;10. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan.&lt;br /&gt;11. Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah.&lt;br /&gt;12. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah.&lt;br /&gt;13. Pendapatan Daerah adalah hak Pemerintah Daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun bersangkutan.&lt;br /&gt;14. Belanja daerah adalah semua kewajiban Daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan.&lt;br /&gt;15. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.&lt;br /&gt;16. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, selanjutnya disebut APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan Negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.&lt;br /&gt;17. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disebut APBD adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;18. Pendapatan Asli Daerah, selanjutnya disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;19. Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.&lt;br /&gt;20. Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.&lt;br /&gt;21. Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.&lt;br /&gt;22. Celah fiskal dihitung berdasarkan selisih antara kebutuhan fiskal Daerah dan  kapasitas fiskal Daerah.&lt;br /&gt;23. Dana  Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK, adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.&lt;br /&gt;24. Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan Daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali.&lt;br /&gt;25. Obligasi Daerah adalah Pinjaman Daerah yang ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal.&lt;br /&gt;26. Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah.&lt;br /&gt;27. Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan.&lt;br /&gt;28. Hibah adalah Penerimaan Daerah yang berasal dari pemerintah negara asing, badan/lembaga asing, badan/lembaga internasional, Pemerintah, badan/lembaga dalam negeri atau perseorangan, baik dalam bentuk devisa, rupiah maupun barang dan/atau jasa, termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali.&lt;br /&gt;29. Dana Darurat adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada Daerah yang mengalami bencana nasional, peristiwa luar biasa, dan/atau krisis solvabilitas.&lt;br /&gt;30. Rencana Kerja Pemerintah Daerah, selanjutnya disebut RKPD, adalah  dokumen perencanaan daerah provinsi, kabupaten, dan kota untuk periode 1 (satu) tahun.&lt;br /&gt;31. Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah, selanjutnya disebut Renja SKPD, adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.&lt;br /&gt;32. Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah, selanjutnya disebut RKA SKPD, adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang merupakan penjabaran dari Rencana Kerja Pemerintah Daerah dan rencana strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran, serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.&lt;br /&gt;33. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran kementerian negara/lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah.&lt;br /&gt;34. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik Negara/Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB II&lt;br /&gt;PRINSIP KEBIJAKAN PERIMBANGAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah merupakan subsistem Keuangan Negara sebagai konsekuensi pembagian tugas antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah.&lt;br /&gt;(2) Pemberian sumber keuangan Negara kepada Pemerintahan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal.&lt;br /&gt;(3) Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam rangka pendanaan penyelenggaraan asas Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Tugas Pembantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal  3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) PAD bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi Daerah sebagai perwujudan Desentralisasi.&lt;br /&gt;(2) Dana Perimbangan bertujuan mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah dan antar-Pemerintah Daerah.&lt;br /&gt;(3) Pinjaman Daerah bertujuan memperoleh sumber pembiayaan dalam rangka penyelenggaraan urusan Pemerintahan Daerah.&lt;br /&gt;(4) Lain-lain Pendapatan bertujuan memberi peluang kepada Daerah untuk memperoleh pendapatan selain pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB III&lt;br /&gt;DASAR PENDANAAN&lt;br /&gt;PEMERINTAHAN DAERAH&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Penyelenggaraan urusan Pemerintahan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi didanai APBD.&lt;br /&gt;(2) Penyelenggaraan urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi didanai APBN.&lt;br /&gt;(3) Penyelenggaraan urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur dalam rangka Tugas Pembantuan didanai APBN.&lt;br /&gt;(4) Pelimpahan kewenangan dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan/atau penugasan dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah diikuti dengan pemberian dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IV&lt;br /&gt;SUMBER PENERIMAAN DAERAH&lt;br /&gt;Pasal  5&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Penerimaan Daerah dalam pelaksanaan Desentralisasi terdiri atas Pendapatan Daerah dan Pembiayaan.&lt;br /&gt;(2) Pendapatan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari:&lt;br /&gt;a. Pendapatan Asli Daerah;&lt;br /&gt;b. Dana Perimbangan; dan&lt;br /&gt;c. Lain-lain Pendapatan.&lt;br /&gt;(3) Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari:&lt;br /&gt;a. sisa lebih perhitungan anggaran Daerah;&lt;br /&gt;b. penerimaan Pinjaman Daerah;&lt;br /&gt;c. Dana Cadangan Daerah; dan&lt;br /&gt;d. hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB V&lt;br /&gt;PENDAPATAN ASLI DAERAH&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) PAD bersumber dari:&lt;br /&gt;a. Pajak Daerah;&lt;br /&gt;b. Retribusi Daerah;&lt;br /&gt;c. hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan; dan&lt;br /&gt;d. lain-lain PAD yang sah.&lt;br /&gt;(2) Lain-lain PAD yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, meliputi:&lt;br /&gt;a. hasil penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan;&lt;br /&gt;b. jasa giro;&lt;br /&gt;c. pendapatan bunga;&lt;br /&gt;d. keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing; dan&lt;br /&gt;e. komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan  barang dan/atau jasa oleh Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Dalam upaya meningkatkan PAD, Daerah dilarang:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;a. menetapkan Peraturan Daerah tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi; dan&lt;br /&gt;b. menetapkan Peraturan Daerah tentang pendapatan yang menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antardaerah, dan kegiatan impor/ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Ketentuan mengenai Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a dan huruf b dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Ketentuan mengenai hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf c ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VI&lt;br /&gt;DANA PERIMBANGAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Jenis&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Dana Perimbangan terdiri atas:&lt;br /&gt;a.Dana Bagi Hasil;&lt;br /&gt;b.Dana Alokasi Umum; dan&lt;br /&gt;c.Dana Alokasi Khusus.&lt;br /&gt;(2) Jumlah Dana Perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan setiap tahun anggaran dalam APBN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Dana Bagi Hasil&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam.&lt;br /&gt;(2)Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:&lt;br /&gt;a.Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);&lt;br /&gt;b.Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB); dan&lt;br /&gt;c.Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.&lt;br /&gt;(3)Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada  ayat (1) berasal dari:&lt;br /&gt;a.kehutanan;&lt;br /&gt;b.pertambangan umum;&lt;br /&gt;c.perikanan;&lt;br /&gt;d.pertambangan minyak bumi;&lt;br /&gt;e.pertambangan gas bumi; dan&lt;br /&gt;f.pertambangan panas bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Dana Bagi Hasil dari penerimaan PBB dan BPHTB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf a dan huruf b dibagi antara daerah provinsi, daerah kabupaten/kota, dan Pemerintah.&lt;br /&gt;(2)Dana Bagi Hasil  dari penerimaan PBB sebesar 90% (sembilan puluh persen) untuk Daerah dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.16,2% (enam belas dua persepuluh persen) untuk daerah provinsi yang bersangkutan dan disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah provinsi;&lt;br /&gt;b.64,8% (enam puluh empat delapan persepuluh persen) untuk daerah kabupaten/kota yang bersangkutan dan disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah kabupaten/kota; dan&lt;br /&gt;c.9% (sembilan persen) untuk biaya pemungutan.&lt;br /&gt;(3)10% (sepuluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan PBB dibagikan kepada seluruh daerah kabupaten dan kota yang didasarkan atas realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan, dengan imbangan sebagai berikut:&lt;br /&gt;65% (enam puluh lima persen) dibagikan secara merata kepada seluruh daerah kabupaten dan kota; dan&lt;br /&gt;35% (tiga puluh lima persen) dibagikan sebagai insentif kepada daerah kabupaten dan kota yang realisasi tahun sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan sektor tertentu.&lt;br /&gt;(4)Dana Bagi Hasil dari penerimaan BPHTB adalah sebesar 80% (delapan puluh persen) dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.16% (enam belas persen) untuk daerah provinsi yang bersangkutan dan disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah provinsi; dan&lt;br /&gt;b.64% (enam puluh empat persen) untuk daerah kabupaten dan kota penghasil dan disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(5)20% (dua puluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan BPHTB dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota.&lt;br /&gt;(6)Penyaluran Dana Bagi Hasil PBB dan BPHTB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Dana Bagi Hasil dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf c yang merupakan bagian Daerah adalah sebesar 20% (dua puluh persen).&lt;br /&gt;(2)Dana Bagi Hasil dari penerimaan PPh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibagi antara Pemerintah Daerah provinsi dan kabupaten/kota.&lt;br /&gt;(3)Dana Bagi Hasil dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibagi dengan imbangan 60% (enam puluh persen) untuk kabupaten/kota dan 40% (empat puluh persen) untuk provinsi.&lt;br /&gt;(4)Penyaluran Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan secara triwulanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pembagian Penerimaan Negara yang berasal dari sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) ditetapkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.Penerimaan Kehutanan yang berasal dari penerimaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH) dan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah dan 80% (delapan puluh persen) untuk Daerah.&lt;br /&gt;b.Penerimaan Kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi dibagi dengan imbangan sebesar 60% (enam puluh persen) untuk Pemerintah dan 40% (empat puluh persen) untuk Daerah.&lt;br /&gt;c.Penerimaan Pertambangan Umum yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan, dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah dan 80% (delapan puluh persen) untuk Daerah.&lt;br /&gt;d.Penerimaan Perikanan yang diterima secara nasional dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah dan 80% (delapan puluh persen) untuk seluruh kabupaten/kota.&lt;br /&gt;e.Penerimaan Pertambangan Minyak Bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dibagi dengan imbangan:&lt;br /&gt;1.84,5% (delapan puluh empat setengah persen) untuk Pemerintah; dan&lt;br /&gt;2.15,5% (lima belas setengah persen) untuk Daerah.&lt;br /&gt;f.Penerimaan Pertambangan Gas Bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dibagi dengan imbangan:&lt;br /&gt;1.69,5% (enam puluh sembilan setengah persen) untuk Pemerintah; dan&lt;br /&gt;2.30,5% (tiga puluh setengah persen) untuk Daerah.&lt;br /&gt;g.Pertambangan Panas Bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan yang merupakan Penerimaan Negara  Bukan Pajak, dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah dan 80% (delapan puluh persen) untuk Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Dana Bagi Hasil dari penerimaan IHPH yang menjadi bagian Daerah sebagaimana dimaksud  dalam Pasal 14 huruf a, dibagi dengan rincian:&lt;br /&gt;a.16% (enam belas persen) untuk provinsi; dan&lt;br /&gt;b.64% (enam puluh empat persen) untuk kabupaten/kota penghasil.&lt;br /&gt;(2)Dana Bagi Hasil dari penerimaan PSDH yang menjadi bagian Daerah sebagaimana dimaksud  dalam Pasal 14 huruf a, dibagi dengan rincian:&lt;br /&gt;a.16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan;&lt;br /&gt;b.32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota penghasil; dan&lt;br /&gt;c.32% (tiga puluh dua persen) dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dana Bagi Hasil dari Dana Reboisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b:&lt;br /&gt;a.60% (enam puluh persen) bagian Pemerintah digunakan untuk rehabilitasi hutan dan lahan secara nasional; dan&lt;br /&gt;b.40% (empat puluh persen) bagian daerah digunakan untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di kabupaten/kota penghasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Penerimaan Pertambangan Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf c terdiri atas:&lt;br /&gt;a. Penerimaan Iuran Tetap (Land-rent); dan&lt;br /&gt;b. Penerimaan Iuran Eksplorasi dan Iuran Eksploitasi (Royalti).&lt;br /&gt;(2) Dana Bagi Hasil dari Penerimaan Negara Iuran Tetap (Land-rent) yang menjadi bagian Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dibagi dengan rincian:&lt;br /&gt;a. 16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan; dan&lt;br /&gt;b. 64% (enam puluh empat persen) untuk kabupaten/kota penghasil.&lt;br /&gt;(3) Dana Bagi Hasil dari Penerimaan Negara Iuran Eksplorasi dan Iuran Eksploitasi (Royalti) yang menjadi bagian Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dibagi dengan rincian:&lt;br /&gt;a. 16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan;&lt;br /&gt;b. 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota penghasil; dan&lt;br /&gt;c. 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(4) Bagian kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c, dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Penerimaan Perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf d terdiri atas:&lt;br /&gt;a.  Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan; dan&lt;br /&gt;b.  Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan.&lt;br /&gt;(2)Dana Bagi Hasil dari Penerimaan Negara sektor perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf d dibagikan dengan porsi yang sama besar kepada kabupaten/kota di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Penerimaan Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi yang dibagikan ke Daerah adalah Penerimaan Negara dari sumber daya alam Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi dari wilayah Daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya.&lt;br /&gt;(2)Dana Bagi Hasil dari Pertambangan Minyak Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf e angka 2 sebesar 15% (lima belas persen) dibagi dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.3% (tiga persen) dibagikan untuk provinsi yang ber-sangkutan;&lt;br /&gt;b.6% (enam persen) dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil; dan&lt;br /&gt;c.6% (enam persen) dibagikan untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(3)Dana Bagi Hasil dari Pertambangan Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf f angka 2 sebesar 30% (tiga puluh persen) dibagi dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.6% (enam persen) dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan;&lt;br /&gt;b.12% (dua belas persen) dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil; dan&lt;br /&gt;c.12% (dua belas persen) dibagikan untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi bersangkutan.&lt;br /&gt;(4)Bagian kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dan ayat (3) huruf c, dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Dana Bagi Hasil dari Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf e angka 2 dan huruf f angka 2 sebesar 0,5% (setengah persen) dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar.&lt;br /&gt;(2)Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibagi masing-masing dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.0,1% (satu persepuluh persen) dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan;&lt;br /&gt;b.0,2% (dua persepuluh persen) dibagikan untuk kabupaten/ kota penghasil; dan&lt;br /&gt;c.0,2% (dua persepuluh persen) dibagikan untuk kabupaten/ kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(3)Bagian kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Penerimaan Negara dari Pertambangan Panas Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf g merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terdiri atas:&lt;br /&gt;a.Setoran Bagian Pemerintah; dan&lt;br /&gt;b.Iuran tetap dan iuran produksi.&lt;br /&gt;(2) Dana Bagi Hasil dari Penerimaan Pertambangan Panas Bumi yang dibagikan kepada Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf g dibagi dengan rincian:&lt;br /&gt;a.16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan;&lt;br /&gt;b.32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota penghasil; dan&lt;br /&gt;c.32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(3) Bagian kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pemerintah menetapkan alokasi Dana Bagi Hasil yang berasal dari sumber daya alam sesuai dengan penetapan dasar perhitungan dan daerah penghasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dana Bagi Hasil yang merupakan bagian Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 disalurkan berdasarkan realisasi penerimaan tahun anggaran berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Realisasi penyaluran Dana Bagi Hasil yang berasal dari sektor minyak bumi dan gas bumi tidak melebihi 130% (seratus tiga puluh persen) dari asumsi dasar harga minyak bumi dan gas bumi dalam APBN tahun berjalan.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal Dana Bagi Hasil sektor minyak bumi dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melebihi 130% (seratus tiga puluh persen), penyaluran dilakukan melalui mekanisme APBN Perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) dikenakan sanksi administrasi berupa pemotongan atas penyaluran Dana Bagi Hasil sektor minyak bumi dan gas bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai Dana Bagi Hasil diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;Dana Alokasi Umum&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua puluh enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam APBN.&lt;br /&gt;(2)DAU untuk suatu Daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar.&lt;br /&gt;(3)Celah fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah.&lt;br /&gt;(4)Alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Kebutuhan fiskal Daerah merupakan kebutuhan pendanaan Daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum.&lt;br /&gt;(2)Setiap kebutuhan pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto per kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia.&lt;br /&gt;(3)Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)DAU atas dasar celah fiskal untuk suatu daerah provinsi sebagai-mana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) dihitung berdasarkan perkalian bobot daerah provinsi yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh daerah provinsi.&lt;br /&gt;(2)Bobot daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perbandingan antara celah fiskal daerah provinsi yang bersangkutan dan total celah fiskal seluruh daerah provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)DAU atas dasar celah fiskal untuk suatu daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) dihitung berdasarkan perkalian bobot daerah kabupaten/kota yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh daerah kabupaten/ kota.&lt;br /&gt;(2)Bobot daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perbandingan antara celah fiskal daerah kabupaten/kota yang bersangkutan dan  total celah fiskal seluruh daerah kabupaten/kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar.&lt;br /&gt;(2)Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal.&lt;br /&gt;(3)Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Data untuk menghitung kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 diperoleh dari lembaga statistik pemerintah dan/atau lembaga pemerintah yang berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pemerintah merumuskan formula dan penghitungan DAU sebagai-mana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 32 dengan memperhatikan pertimbangan dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Hasil penghitungan DAU per provinsi, kabupaten, dan kota ditetapkan dengan Keputusan Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Penyaluran DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 (satu perdua belas) dari DAU Daerah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(2)Penyaluran DAU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sebelum bulan bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai DAU diatur dalam Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dana Alokasi Khusus&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)DAK dialokasikan kepada Daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah.&lt;br /&gt;(2)Kegiatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pemerintah menetapkan kriteria DAK yang meliputi kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis.&lt;br /&gt;(2)Kriteria umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan Keuangan Daerah dalam APBD.&lt;br /&gt;(3)Kriteria khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan dan karakteristik Daerah.&lt;br /&gt;(4)Kriteria teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh kementerian Negara/departemen teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Daerah penerima DAK wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen) dari alokasi DAK.&lt;br /&gt;(2)Dana Pendamping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggarkan dalam APBD.&lt;br /&gt;(3)Daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai DAK diatur dalam Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VII&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;LAIN-LAIN PENDAPATAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Lain-lain Pendapatan terdiri atas pendapatan hibah dan pendapatan Dana Darurat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pendapatan hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 merupakan bantuan yang tidak mengikat.&lt;br /&gt;(2)Hibah kepada Daerah yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui Pemerintah.&lt;br /&gt;(3)Hibah dituangkan dalam suatu naskah perjanjian antara Pemerintah Daerah dan pemberi hibah.&lt;br /&gt;(4)Hibah digunakan sesuai dengan naskah perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 45&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tata cara pemberian, penerimaan, dan penggunaan hibah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri diatur dengan Peraturan  Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 46&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pemerintah mengalokasikan Dana Darurat yang berasal dari APBN untuk keperluan mendesak yang diakibatkan oleh bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi oleh Daerah dengan menggunakan sumber APBD.&lt;br /&gt;(2)Keadaan yang dapat digolongkan sebagai bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa ditetapkan oleh Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 47&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pemerintah dapat mengalokasikan Dana Darurat pada Daerah yang dinyatakan mengalami krisis solvabilitas.&lt;br /&gt;(2)Daerah dinyatakan mengalami krisis solvabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan evaluasi Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3)Krisis solvabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 48&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai Dana Darurat diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PINJAMAN DAERAH&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Batasan Pinjaman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 49&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pemerintah menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan memperhatikan keadaan dan prakiraan perkembangan perekonomian nasional.&lt;br /&gt;(2)Batas maksimal kumulatif pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melebihi 60% (enam puluh persen) dari Produk Domestik Bruto tahun bersangkutan.&lt;br /&gt;(3)Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah secara keseluruhan selambat-lambatnya bulan Agustus untuk tahun anggaran berikutnya.&lt;br /&gt;(4)Pengendalian batas maksimal kumulatif Pinjaman Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 50&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri.&lt;br /&gt;(2)Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dikenakan sanksi administratif berupa penundaan dan/atau pemotongan atas penyaluran Dana Perimbangan oleh Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sumber Pinjaman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 51&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pinjaman Daerah bersumber dari:&lt;br /&gt;a.Pemerintah;&lt;br /&gt;b.Pemerintah Daerah lain;&lt;br /&gt;c.lembaga keuangan bank;&lt;br /&gt;d.lembaga keuangan bukan bank; dan&lt;br /&gt;e.masyarakat.&lt;br /&gt;(2)Pinjaman Daerah yang bersumber dari Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diberikan melalui Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;(3)Pinjaman Daerah yang bersumber dari masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e berupa Obligasi Daerah diterbitkan melalui pasar modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Jenis dan Jangka Waktu Pinjaman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 52&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1)  Jenis Pinjaman terdiri atas :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;a.Pinjaman Jangka Pendek;&lt;br /&gt;b.Pinjaman Jangka Menengah; dan&lt;br /&gt;c.Pinjaman Jangka Panjang.&lt;br /&gt;(2)Pinjaman Jangka Pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan Pinjaman Daerah dalam jangka waktu kurang atau sama dengan satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan biaya lain seluruhnya harus dilunasi dalam tahun anggaran yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(3) Pinjaman Jangka Menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan Pinjaman Daerah dalam jangka waktu lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan biaya lain harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan Kepala Daerah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(4) Pinjaman Jangka Panjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan Pinjaman Daerah dalam jangka waktu lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan biaya lain harus dilunasi pada tahun-tahun anggaran berikutnya sesuai dengan persyaratan perjanjian pinjaman yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Penggunaan Pinjaman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 53&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pinjaman Jangka Pendek dipergunakan hanya untuk menutup kekurangan arus kas.&lt;br /&gt;(2)Pinjaman Jangka Menengah dipergunakan untuk membiayai penyediaan layanan umum yang tidak menghasilkan peneri-maan.&lt;br /&gt;(3)Pinjaman Jangka Panjang dipergunakan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan.&lt;br /&gt;(4)Pinjaman Jangka Menengah dan Jangka Panjang wajib mendapatkan persetujuan DPRD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Persyaratan Pinjaman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 54&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam melakukan pinjaman, Daerah wajib memenuhi persyaratan:&lt;br /&gt;a.jumlah sisa Pinjaman Daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya;&lt;br /&gt;b.rasio kemampuan keuangan Daerah untuk mengembalikan pinjaman ditetapkan oleh Pemerintah;&lt;br /&gt;c.tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang berasal dari Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 55&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Daerah tidak dapat memberikan jaminan atas pinjaman pihak lain.&lt;br /&gt;(2)Pendapatan Daerah dan/atau barang milik Daerah tidak boleh dijadikan jaminan Pinjaman Daerah.&lt;br /&gt;(3)Proyek yang dibiayai dari Obligasi Daerah beserta barang milik Daerah yang melekat dalam proyek tersebut dapat dijadikan jaminan Obligasi Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keenam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Prosedur Pinjaman Daerah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 56&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pemerintah dapat memberikan pinjaman kepada Pemerintah Daerah yang dananya berasal dari luar negeri.&lt;br /&gt;(2)Pinjaman kepada Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui perjanjian penerusan pinjaman kepada Pemerintah Daerah.&lt;br /&gt;(3)Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada  ayat (2) dilakukan antara Menteri Keuangan dan Kepala Daerah.&lt;br /&gt;(4)Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada  ayat (3) dapat dinyatakan dalam mata uang Rupiah atau mata uang asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Ketujuh&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Obligasi Daerah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 57&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Daerah dapat menerbitkan Obligasi Daerah dalam mata uang Rupiah di pasar modal domestik.&lt;br /&gt;(2)Nilai Obligasi Daerah pada saat jatuh tempo sama dengan nilai nominal Obligasi Daerah pada saat diterbitkan.&lt;br /&gt;(3)Penerbitan Obligasi Daerah wajib memenuhi ketentuan dalam Pasal 54 dan Pasal 55 serta mengikuti peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.&lt;br /&gt;(4)Hasil penjualan Obligasi Daerah digunakan untuk membiayai investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.&lt;br /&gt;(5)Penerimaan dari investasi sektor publik sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan untuk membiayai kewajiban bunga dan pokok Obligasi Daerah terkait dan sisanya disetorkan ke kas Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 58&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Dalam hal Pemerintah Daerah menerbitkan Obligasi Daerah, Kepala Daerah terlebih dahulu mendapatkan persetujuan DPRD dan Pemerintah.&lt;br /&gt;(2)Penerbitan Obligasi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;(3)Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan atas nilai bersih maksimal Obligasi Daerah yang akan diterbitkan pada saat penetapan APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 59&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah tidak menjamin Obligasi Daerah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 60&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap Obligasi Daerah sekurang-kurangnya mencantumkan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;a.nilai nominal;&lt;br /&gt;b.tanggal jatuh tempo;&lt;br /&gt;c.tanggal pembayaran bunga;&lt;br /&gt;d.tingkat bunga (kupon);&lt;br /&gt;e.frekuensi pembayaran bunga;&lt;br /&gt;f.cara perhitungan pembayaran bunga;&lt;br /&gt;g.ketentuan tentang hak untuk membeli kembali Obligasi Daerah sebelum jatuh tempo; dan&lt;br /&gt;h.ketentuan tentang pengalihan kepemilikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 61&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Persetujuan DPRD mengenai penerbitan Obligasi Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) meliputi pembayaran semua kewajiban bunga dan pokok yang timbul sebagai akibat penerbitan Obligasi Daerah dimaksud.&lt;br /&gt;(2)Pemerintah Daerah wajib membayar bunga dan pokok setiap Obligasi Daerah pada saat jatuh tempo.&lt;br /&gt;(3)Dana untuk membayar bunga dan pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disediakan dalam APBD setiap tahun sampai dengan berakhirnya kewajiban tersebut.&lt;br /&gt;(4)Dalam hal pembayaran bunga dimaksud melebihi perkiraan dana sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Kepala Daerah melakukan pembayaran dan menyampaikan realisasi pembayaran tersebut kepada DPRD dalam pembahasan Perubahan APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 62&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pengelolaan Obligasi Daerah diselenggarakan oleh Kepala Daerah.&lt;br /&gt;(2)Pengelolaan Obligasi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi:&lt;br /&gt;a.penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan Obligasi Daerah termasuk kebijakan pengendalian risiko;&lt;br /&gt;b.perencanaan dan penetapan struktur portofolio Pinjaman Daerah;&lt;br /&gt;c.penerbitan Obligasi Daerah;&lt;br /&gt;d.penjualan Obligasi Daerah melalui lelang;&lt;br /&gt;e.pembelian kembali Obligasi Daerah sebelum jatuh tempo;&lt;br /&gt;f.pelunasan pada saat jatuh tempo; dan&lt;br /&gt;g.pertanggungjawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kedelapan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pelaporan Pinjaman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 63&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pemerintah Daerah wajib melaporkan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman kepada Pemerintah setiap semester dalam tahun anggaran berjalan.&lt;br /&gt;(2)Dalam hal Daerah tidak menyampaikan laporan, Pemerintah dapat menunda penyaluran Dana Perimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 64&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Seluruh kewajiban Pinjaman Daerah yang jatuh tempo wajib dianggarkan dalam APBD tahun anggaran yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(2)Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjamannya kepada Pemerintah, kewajiban membayar pinjaman tersebut diperhitungkan dengan DAU dan/atau Dana Bagi Hasil dari Penerimaan Negara yang menjadi hak Daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 65&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai Pinjaman Daerah termasuk Obligasi Daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IX&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PENGELOLAAN KEUANGAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DALAM RANGKA DESENTRALISASI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Asas Umum&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 66&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Keuangan Daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan keadilan,  kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.&lt;br /&gt;(2) APBD, Perubahan APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD setiap tahun ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;(3) APBD mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, dan distribusi.&lt;br /&gt;(4) Semua Penerimaan dan Pengeluaran Daerah dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBD.&lt;br /&gt;(5) Surplus APBD dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran Daerah tahun anggaran berikutnya.&lt;br /&gt;(6) Penggunaan surplus APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (5) untuk membentuk Dana Cadangan atau penyertaan dalam Perusahaan Daerah harus memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari DPRD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 67&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Peraturan Daerah tentang APBD merupakan dasar bagi Pemerintah Daerah untuk melakukan Penerimaan dan Pengeluaran Daerah.&lt;br /&gt;(2) Setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat pada pengeluaran atas beban APBD, jika anggaran untuk mendanai pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia.&lt;br /&gt;(3) Semua Pengeluaran Daerah, termasuk subsidi, hibah, dan bantuan keuangan lainnya yang sesuai dengan program Pemerintah Daerah didanai melalui APBD.&lt;br /&gt;(4) Keterlambatan pembayaran atas tagihan yang berkaitan dengan pelaksanaan APBD dapat mengakibatkan pengenaan denda dan/atau bunga.&lt;br /&gt;(5) APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;(6) Dalam hal APBD diperkirakan defisit, ditetapkan sumber-sumber pembiayaan untuk menutup defisit tersebut dalam Peraturan Daerah tentang APBD.&lt;br /&gt;(7) Dalam hal APBD diperkirakan surplus, ditetapkan penggunaan surplus tersebut dalam Peraturan Daerah tentang APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 68&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tahun anggaran APBD sama dengan tahun anggaran APBN, yang meliputi masa 1 (satu) tahun mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perencanaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 69&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Pemerintah Daerah menyusun RKPD yang mengacu pada Rencana Kerja Pemerintah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional.&lt;br /&gt;(2) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan dasar penyusunan rancangan APBD.&lt;br /&gt;(3) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dijabarkan dalam RKA SKPD.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan mengenai pokok-pokok penyusunan RKA SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyusunan RKA SKPD diatur dengan Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 70&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) APBD terdiri atas anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan anggaran pembiayaan.&lt;br /&gt;(2) Anggaran pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan.&lt;br /&gt;(3) Anggaran belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diklasifikasikan menurut organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja.&lt;br /&gt;(4) Anggaran pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 71&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Pemerintah Daerah menyampaikan kebijakan umum APBD tahun anggaran berikutnya sejalan dengan RKPD kepada DPRD selambat-lambatnya bulan Juni tahun berjalan.&lt;br /&gt;(2) DPRD membahas kebijakan umum APBD yang diajukan Pemerintah Daerah dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran berikutnya.&lt;br /&gt;(3) Berdasarkan  kebijakan umum APBD yang telah disepakati, Pemerintah Daerah dan DPRD membahas prioritas dan plafon anggaran sementara untuk dijadikan acuan  bagi setiap  SKPD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 72&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyusun RKA SKPD tahun berikutnya.&lt;br /&gt;(2) Renja SKPD disusun dengan pendekatan prestasi kerja yang akan dicapai.&lt;br /&gt;(3) RKA SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan prakiraan belanja untuk tahun berikutnya setelah tahun anggaran yang sudah disusun.&lt;br /&gt;(4) Rencana kerja dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada DPRD untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD.&lt;br /&gt;(5) Hasil pembahasan rencana kerja dan anggaran disampaikan kepada pejabat pengelola Keuangan Daerah sebagai bahan penyusunan rancangan Peraturan Daerah tentang APBD tahun berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 73&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Kepala Daerah mengajukan rancangan Peraturan Daerah tentang APBD disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD.&lt;br /&gt;(2) DPRD bersama dengan Pemerintah Daerah membahas Rancangan APBD yang disampaikan dalam rangka mendapatkan persetujuan.&lt;br /&gt;(3) Rancangan APBD yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Kepala Daerah dituangkan dalam Peraturan Daerah tentang APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 74&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Semua Penerimaan Daerah wajib disetor seluruhnya tepat waktu ke Rekening Kas Umum Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 75&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Pengeluaran atas beban APBD dalam satu tahun anggaran hanya dapat dilaksanakan setelah APBD tahun anggaran yang bersangkutan ditetapkan dalam Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada      ayat (1) tidak disetujui DPRD, untuk membiayai keperluan setiap bulan Pemerintah Daerah dapat melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar realisasi APBD tahun anggaran sebelumnya.&lt;br /&gt;(3) Kepala SKPD menyusun dokumen pelaksanaan anggaran untuk SKPD yang dipimpinnya berdasarkan alokasi anggaran yang ditetapkan oleh Kepala Daerah.&lt;br /&gt;(4) Pengguna anggaran melaksanakan kegiatan sebagaimana tersebut dalam dokumen pelaksanaan anggaran yang telah disahkan.&lt;br /&gt;(5) Pengguna anggaran berhak untuk menguji, membebankan pada mata anggaran yang disediakan, dan memerintahkan pembayaran tagihan atas beban APBD.&lt;br /&gt;(6) Pembayaran atas tagihan yang dibebankan APBD dilakukan oleh bendahara umum Daerah.&lt;br /&gt;(7) Pembayaran atas tagihan yang dibebankan APBD tidak boleh dilakukan sebelum barang dan/atau jasa diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 76&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Daerah dapat membentuk Dana Cadangan guna mendanai kebutuhan yang tidak dapat dibebankan dalam satu tahun anggaran yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;(2) Dana Cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat bersumber dari penyisihan atas penerimaan APBD kecuali dari DAK, Pinjaman Daerah, dan penerimaan lain yang penggunaan-nya dibatasi untuk pengeluaran tertentu.&lt;br /&gt;(3) Penggunaan Dana Cadangan dalam satu tahun anggaran menjadi penerimaan pembiayaan APBD dalam tahun anggaran yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 77&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Dana Cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) ditempatkan dalam rekening tersendiri dalam Rekening Kas Umum Daerah.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal Dana Cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum digunakan sesuai dengan peruntukannya, dana tersebut dapat ditempatkan dalam portofolio yang memberikan hasil tetap dengan risiko rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 78&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Pemerintah Daerah dapat melakukan kerja sama dengan pihak lain atas dasar prinsip saling menguntungkan.&lt;br /&gt;(2) Kerja sama dengan pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;(3) Anggaran yang timbul akibat dari kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan dalam APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 79&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Dalam keadaan darurat, Pemerintah Daerah dapat melakukan belanja dari APBD yang belum tersedia anggarannya.&lt;br /&gt;(2) Belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD dan/atau disampaikan dalam Laporan Realisasi Anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 80&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Perubahan  APBD ditetapkan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya tahun anggaran.&lt;br /&gt;(2) Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran, kecuali dalam keadaan luar biasa.&lt;br /&gt;(3) Keadaan luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50% (lima puluh persen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pertanggungjawaban&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 81&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Pemerintah Daerah menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran.&lt;br /&gt;(2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi APBD, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri laporan keuangan Perusahaan Daerah.&lt;br /&gt;(3) Bentuk dan isi Laporan Pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntasi Pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 82&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pengelolaan dan pertanggungjawaban Keuangan Daerah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang Keuangan Negara dan Perbendaharaan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengendalian&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 83&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal jumlah kumulatif defisit APBN dan APBD.&lt;br /&gt;(2)Jumlah kumulatif defisit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melebihi 3% (tiga persen) dari Produk Domestik Bruto tahun bersangkutan.&lt;br /&gt;(3)Menteri Keuangan menetapkan kriteria defisit APBD dan batas maksimal defisit APBD masing-masing Daerah setiap tahun anggaran.&lt;br /&gt;(4)Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dikenakan sanksi berupa penundaan atas penyaluran Dana Perimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 84&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal APBD diperkirakan defisit, pembiayaan defisit bersumber dari:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;a.Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA);&lt;br /&gt;b.Dana Cadangan;&lt;br /&gt;c.Penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan; dan&lt;br /&gt;d.Pinjaman Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keenam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengawasan dan Pemeriksaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 85&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Pengawasan Dana Desentralisasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Pemeriksaan Dana Desentralisasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 86&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan Keuangan Daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB X&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DANA DEKONSENTRASI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Umum&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 87&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pendanaan dalam rangka Dekonsentrasi dilaksanakan setelah adanya pelimpahan wewenang Pemerintah melalui kementerian negara/lembaga kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah di Daerah.&lt;br /&gt;(2)Pelaksanaan pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didanai oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;(3)Pendanaan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disesuaikan dengan wewenang yang dilimpahkan.&lt;br /&gt;(4)Kegiatan Dekonsentrasi di Daerah dilaksanakan oleh SKPD yang ditetapkan oleh gubernur.&lt;br /&gt;(5)Gubernur memberitahukan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga yang berkaitan dengan kegiatan Dekonsentrasi di Daerah kepada DPRD.&lt;br /&gt;(6)Rencana kerja dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diberitahukan kepada DPRD pada saat pembahasan RAPBD.&lt;br /&gt;(7)Pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dialokasikan untuk kegiatan yang bersifat nonfisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Penganggaran Dana Dekonsentrasi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 88&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dana Dekonsentrasi merupakan bagian anggaran kementerian negara/lembaga yang dialokasikan berdasarkan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Penyaluran Dana  Dekonsentrasi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 89&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Dana Dekonsentrasi disalurkan melalui Rekening Kas Umum Negara.&lt;br /&gt;(2)Pada setiap awal tahun anggaran gubernur menetapkan     Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai pelaksana kegiatan Dekonsentrasi.&lt;br /&gt;(3)Dalam hal terdapat sisa anggaran lebih atas pelaksanaan Dekonsentrasi, sisa tersebut merupakan penerimaan kembali APBN.&lt;br /&gt;(4)Dalam hal terdapat saldo kas atas pelaksanaan Dekonsentrasi, saldo tersebut harus disetor ke Rekening Kas Umum Negara.&lt;br /&gt;(5)Dalam hal pelaksanaan Dekonsentrasi menghasilkan penerimaan, maka penerimaan tersebut merupakan penerimaan APBN dan disetor ke Rekening Kas Umum Negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pertanggungjawaban dan Pelaporan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dana Dekonsentrasi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 90&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Penatausahaan keuangan dalam pelaksanaan Dekonsentrasi dilakukan secara terpisah dari penatausahaan keuangan dalam pelaksanaan Tugas Pembantuan dan Desentralisasi.&lt;br /&gt;(2)SKPD menyelenggarakan penatausahaan uang/barang dalam rangka Dekonsentrasi secara tertib sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3)SKPD menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi kepada gubernur.&lt;br /&gt;(4)Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban seluruh pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi kepada menteri negara/ pimpinan lembaga yang memberikan pelimpahan wewenang.&lt;br /&gt;(5)Menteri negara/pimpinan lembaga menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi secara nasional kepada Presiden sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Status Barang dalam Pelaksanaan Dekonsentrasi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 91&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Semua barang  yang diperoleh dari Dana Dekonsentrasi menjadi barang milik Negara.&lt;br /&gt;Barang milik Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihibahkan kepada Daerah.&lt;br /&gt;Barang milik Negara yang dihibahkan kepada Daerah sebagai-mana dimaksud pada ayat (2) wajib dikelola dan ditatausahakan oleh Daerah.&lt;br /&gt;Barang milik Negara yang tidak dihibahkan kepada Daerah wajib dikelola dan ditatausahakan oleh kementerian negara/lembaga yang memberikan pelimpahan wewenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 92&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penganggaran, penyaluran, pelaporan, pertanggungjawaban, dan penghibahan barang milik Negara yang diperoleh atas pelaksanaan Dana Dekonsentrasi diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keenam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengawasan dan Pemeriksaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 93&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Pengawasan Dana Dekonsentrasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Pemeriksaan Dana Dekonsentrasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DANA TUGAS PEMBANTUAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Umum&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 94&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pendanaan dalam rangka Tugas Pembantuan dilaksanakan setelah adanya penugasan Pemerintah melalui kementerian negara/lembaga kepada Kepala Daerah.&lt;br /&gt;(2)Pelaksanaan Tugas Pembantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didanai oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;(3)Pendanaan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disesuaikan dengan penugasan yang diberikan.&lt;br /&gt;(4)Kegiatan Tugas Pembantuan di Daerah dilaksanakan oleh SKPD yang ditetapkan oleh gubernur, bupati, atau walikota.&lt;br /&gt;(5)Kepala Daerah memberitahukan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga yang berkaitan dengan kegiatan Tugas Pembantuan kepada DPRD.&lt;br /&gt;(6)Rencana kerja dan anggaran sebagaimana dimaksud pada       ayat (4) diberitahukan kepada DPRD pada saat pembahasan RAPBD.&lt;br /&gt;(7)Pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dialokasikan untuk kegiatan yang bersifat fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Penganggaran Dana Tugas Pembantuan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 95&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dana Tugas Pembantuan merupakan bagian anggaran kementerian negara/lembaga yang dialokasikan berdasarkan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Penyaluran Dana Tugas Pembantuan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 96&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Dana Tugas Pembantuan disalurkan melalui Rekening Kas Umum Negara.&lt;br /&gt;(2)Pada setiap awal tahun anggaran Kepala Daerah menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai pelaksana kegiatan Tugas Pembantuan.&lt;br /&gt;(3)Dalam hal terdapat sisa anggaran lebih atas pelaksanaan Tugas Pembantuan, sisa tersebut merupakan penerimaan kembali APBN.&lt;br /&gt;(4)Dalam hal terdapat saldo kas atas pelaksanaan Tugas Pembantuan, saldo tersebut harus disetor ke Rekening Kas Umum Negara.&lt;br /&gt;(5)Dalam hal pelaksanaan Tugas Pembantuan menghasilkan penerimaan, maka penerimaan tersebut merupakan penerimaan APBN yang harus disetor ke Rekening Kas Umum Negara sesuai ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pertanggungjawaban dan Pelaporan Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tugas Pembantuan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 97&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Penatausahaan keuangan dalam pelaksanaan Tugas Pembantuan dilakukan secara terpisah dari penatausahaan keuangan dalam pelaksanaan Dekonsentrasi dan Desentralisasi.&lt;br /&gt;(2)SKPD menyelenggarakan penatausahaan uang/barang dalam rangka Tugas Pembantuan secara tertib sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3)SKPD menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan Tugas Pembantuan kepada Gubernur, bupati, atau walikota.&lt;br /&gt;(4)Kepala Daerah menyampaikan laporan pertanggungjawaban seluruh pelaksanaan kegiatan Tugas Pembantuan kepada menteri negara/pimpinan lembaga yang menugaskan.&lt;br /&gt;(5)Menteri negara/pimpinan lembaga menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Tugas Pembantuan secara nasional kepada Presiden sesuai dengan ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Status Barang dalam Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tugas Pembantuan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 98&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Semua barang yang diperoleh dari Dana Tugas Pembantuan menjadi barang milik Negara.&lt;br /&gt;Barang milik Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihibahkan kepada Daerah.&lt;br /&gt;Barang milik Negara yang dihibahkan kepada Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola dan ditatausahakan oleh Daerah.&lt;br /&gt;Barang milik Negara yang tidak dihibahkan kepada Daerah wajib dikelola dan ditatausahakan oleh kementerian negara/lembaga yang memberikan penugasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 99&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penganggaran, penyaluran pelaporan, pertanggungjawaban, dan penghibahan barang milik Negara yang diperoleh atas pelaksanaan Dana Tugas Pembantuan diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Enam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengawasan dan Pemeriksaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 100&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1) Pengawasan Dana Tugas Pembantuan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Pemeriksaan Dana Tugas Pembantuan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XII&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SISTEM INFORMASI KEUANGAN DAERAH&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 101&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Pemerintah menyelenggarakan Sistem Informasi Keuangan Daerah secara nasional, dengan tujuan :&lt;br /&gt;a.merumuskan kebijakan dan pengendalian fiskal nasional;&lt;br /&gt;b.menyajikan informasi Keuangan Daerah secara nasional;&lt;br /&gt;c.merumuskan kebijakan Keuangan Daerah, seperti Dana Perimbangan, Pinjaman Daerah, dan pengendalian defisit anggaran; dan&lt;br /&gt;d.melakukan pemantauan, pengendalian dan evaluasi pendanaan Desentralisasi, Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan, Pinjaman Daerah, dan defisit anggaran Daerah.&lt;br /&gt;(2)Sistem Informasi Keuangan Daerah secara nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 102&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Daerah menyampaikan informasi Keuangan Daerah yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Pemerintah.&lt;br /&gt;(2)Daerah menyelenggarakan Sistem Informasi Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;(3)Informasi yang berkaitan dengan Sistem Informasi Keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup:&lt;br /&gt;a.APBD dan laporan realisasi APBD provinsi, kabupaten, dan kota;&lt;br /&gt;b.neraca Daerah;&lt;br /&gt;c.laporan arus kas;&lt;br /&gt;d.catatan atas laporan Keuangan Daerah;&lt;br /&gt;e.Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan;&lt;br /&gt;f.laporan keuangan Perusahaan Daerah; dan&lt;br /&gt;g.data yang berkaitan dengan kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal Daerah.&lt;br /&gt;(4)Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d disampaikan kepada Pemerintah sesuai dengan Standar  Akuntansi Pemerintahan.&lt;br /&gt;(5)Menteri Keuangan memberikan sanksi berupa penundaan penyaluran Dana Perimbangan kepada Daerah yang tidak menyampaikan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 103&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Informasi yang dimuat dalam Sistem Informasi Keuangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 merupakan data terbuka yang dapat diketahui, diakses, dan diperoleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 104&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Penyelenggaraan Sistem Informasi Keuangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101, Pasal 102, dan Pasal 103, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XIII&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 105&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Daerah masih tetap berlaku sepanjang belum diganti dengan peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;(2)Peraturan pelaksanaan sebagai tindak lanjut Undang-Undang   ini sudah selesai selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 106&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(1)Pelaksanaan tambahan Dana Bagi Hasil sektor minyak bumi dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf e dan huruf f serta Pasal 20 dilaksanakan mulai tahun anggaran 2009.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(2)Sejak berlakunya Undang-Undang ini sampai dengan tahun anggaran 2008 penerimaan pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dibagi dengan imbangan:&lt;br /&gt;a.85% (delapan puluh lima persen) untuk Pemerintah; dan&lt;br /&gt;b.15% (lima belas persen) untuk Daerah.&lt;br /&gt;(3)Sejak berlakunya Undang-Undang ini sampai dengan tahun anggaran 2008 penerimaan pertambangan gas bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dibagi dengan imbangan:&lt;br /&gt;a.70% (tujuh puluh persen) untuk Pemerintah; dan&lt;br /&gt;b.30% (tiga puluh persen) untuk daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 107&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Sejak berlakunya Undang-Undang ini sampai dengan tahun anggaran 2007 DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25,5% (dua puluh lima setengah persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam APBN.&lt;br /&gt;(2)Ketentuan mengenai alokasi DAU sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini dilaksanakan sepenuhnya mulai tahun anggaran 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 108&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(1)Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan yang merupakan bagian dari anggaran kementerian negara/lembaga yang digunakan untuk melaksanakan urusan yang menurut peraturan perundang-undangan menjadi urusan Daerah, secara bertahap dialihkan menjadi Dana Alokasi Khusus.&lt;br /&gt;(2)Pengalihan secara bertahap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XIV&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 109&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, maka:&lt;br /&gt;1.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848) dinyatakan tidak berlaku.&lt;br /&gt;2.Ketentuan yang mengatur tentang Dana Bagi Hasil sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Papua dinyatakan tetap berlaku selama tidak diatur lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 110&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada tanggal 15 Oktober 2004&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ttd&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;MEGAWATI SOEKARNOPUTRI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada tanggal 15 Oktober 2004&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ttd&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAMBANG KESOWO&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 126.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ATAS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;NOMOR  33  TAHUN 2004&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PERIMBANGAN KEUANGAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UMUM&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Negara Kesatuan Republik Indonesia menyelenggarakan pemerintahan Negara dan pembangunan nasional untuk mencapai masyarakat adil, makmur, dan merata berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah kabupaten dan kota. Tiap-tiap daerah tersebut mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan  efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pasal 18A ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan agar hubungan keuangan, pelayanan umum, serta pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan Undang-Undang. Dengan demikian, Pasal ini merupakan landasan filosofis dan landasan konstitusional pembentukan Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.&lt;br /&gt;Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah dan Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2002 tentang Rekomendasi atas Laporan Pelaksanaan Putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia oleh Presiden, DPA, DPR, BPK,  dan  MA merekomendasikan kepada  Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat agar melakukan perubahan yang bersifat mendasar dan menyeluruh terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Sejalan dengan amanat TAP MPR tersebut serta adanya perkembangan dalam peraturan perundang-undangan di bidang Keuangan Negara yaitu Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, menyebabkan terjadinya perubahan yang bersifat mendasar dan menyeluruh dalam sistem Keuangan Negara. Dengan demikian, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 perlu diperbaharui serta diselaraskan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.&lt;br /&gt;Pembentukan Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dimaksudkan untuk mendukung pendanaan atas penyerahan urusan kepada Pemerintahan Daerah yang diatur dalam Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Pendanaan tersebut menganut prinsip money follows function, yang mengandung makna bahwa pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan.&lt;br /&gt;Perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan Daerah.&lt;br /&gt;Pemerintah pada hakikatnya mengemban tiga fungsi utama yakni fungsi distribusi, fungsi stabilisasi, dan fungsi alokasi. Fungsi distribusi dan fungsi stabilisasi pada umumnya lebih efektif dan tepat dilaksanakan oleh Pemerintah, sedangkan fungsi alokasi oleh Pemerintahan Daerah yang lebih mengetahui kebutuhan, kondisi, dan situasi masyarakat setempat. Pembagian ketiga fungsi dimaksud sangat penting sebagai landasan dalam penentuan dasar-dasar perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah, penyerahan, pelimpahan, dan penugasan urusan pemerintahan kepada Daerah secara nyata dan bertanggung jawab harus diikuti dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional secara adil, termasuk perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah. Sebagai daerah otonom, penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan tersebut dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas.&lt;br /&gt;Pendanaan penyelenggaraan pemerintahan agar terlaksana secara efisien dan efektif serta untuk mencegah tumpang tindih ataupun tidak tersedianya pendanaan pada suatu bidang pemerintahan, maka diatur pendanaan penyelenggaraan pemerintahan.  Penyelenggaraan  pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dibiayai dari APBD, sedangkan penyelenggaraan kewenangan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah dibiayai dari APBN, baik kewenangan Pusat yang didekonsentrasikan kepada Gubernur atau ditugaskan kepada Pemerintah Daerah dan/atau Desa atau sebutan lainnya dalam rangka Tugas Pembantuan.&lt;br /&gt;Sumber-sumber pendanaan pelaksanaan Pemerintahan Daerah terdiri atas Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Pinjaman Daerah, dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah.&lt;br /&gt;Pendapatan Asli Daerah merupakan Pendapatan Daerah yang bersumber dari hasil Pajak Daerah, hasil Retribusi Daerah, hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah, yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas Desentralisasi.&lt;br /&gt;Dana Perimbangan merupakan pendanaan Daerah yang bersumber dari APBN yang terdiri atas Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu Daerah dalam mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara Pusat dan Daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar-Daerah. Ketiga komponen Dana Perimbangan ini  merupakan sistem transfer dana dari Pemerintah serta merupakan satu kesatuan yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dibagihasilkan kepada Daerah berdasarkan angka persentase tertentu. Pengaturan DBH dalam Undang-Undang ini merupakan penyelarasan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000. Dalam Undang-Undang ini dimuat pengaturan mengenai Bagi Hasil penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 serta sektor pertambangan panas bumi sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. Selain itu, dana reboisasi yang semula termasuk bagian dari DAK,  dialihkan menjadi DBH.&lt;br /&gt;DAU bertujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah yang dimaksudkan untuk mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar-Daerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi Daerah. DAU suatu Daerah ditentukan atas besar kecilnya celah fiskal (fiscal gap) suatu Daerah, yang merupakan selisih antara kebutuhan Daerah (fiscal need) dan potensi Daerah (fiscal capacity). Dalam Undang-Undang ini ditegaskan kembali mengenai formula celah fiskal dan penambahan variabel DAU. Alokasi DAU bagi Daerah yang potensi fiskalnya besar tetapi kebutuhan fiskal kecil akan memperoleh alokasi DAU relatif kecil. Sebaliknya, Daerah yang potensi fiskalnya kecil, namun kebutuhan fiskal besar akan memperoleh alokasi DAU relatif besar. Secara implisit, prinsip tersebut menegaskan fungsi DAU sebagai faktor pemerataan kapasitas fiskal.&lt;br /&gt;DAK dimaksudkan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di Daerah tertentu yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, khususnya untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan Daerah.&lt;br /&gt;Undang-Undang ini juga mengatur hibah yang berasal dari pemerintah negara asing, badan/lembaga asing, badan/lembaga internasional, Pemerintah, badan/lembaga dalam negeri atau perseorangan, baik dalam bentuk devisa, rupiah, maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli, dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lain-lain pendapatan selain hibah, Undang-Undang ini juga mengatur pemberian Dana Darurat kepada Daerah karena bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi dengan dana APBD. Di samping itu, Pemerintah juga dapat memberikan Dana Darurat pada Daerah yang mengalami krisis solvabilitas, yaitu Daerah yang mengalami krisis keuangan berkepanjangan. Untuk menghindari menurunnya pelayanan kepada masyarakat setempat, Pemerintah dapat memberikan Dana Darurat kepada Daerah tersebut setelah dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Dewan Perwakilan Rakyat.&lt;br /&gt;Pinjaman Daerah merupakan salah satu sumber Pembiayaan yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Daerah dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Pembiayaan yang bersumber dari pinjaman harus dikelola secara benar agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi Keuangan Daerah sendiri serta stabilitas ekonomi dan moneter secara nasional. Oleh karena itu, Pinjaman Daerah perlu mengikuti kriteria, persyaratan, mekanisme, dan sanksi Pinjaman Daerah yang diatur dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang ini juga ditegaskan bahwa Daerah dilarang melakukan pinjaman langsung ke luar negeri. Pinjaman yang bersumber dari luar negeri hanya dapat dilakukan melalui Pemerintah dengan mekanisme penerusan pinjaman. Pengaturan ini dimaksudkan agar terdapat prinsip kehati-hatian dan kesinambungan fiskal dalam kebijakan fiskal dan moneter oleh Pemerintah. Di lain pihak, Pinjaman Daerah tidak hanya dibatasi untuk membiayai prasarana dan sarana yang menghasilkan penerimaan, tetapi juga dapat untuk membiayai proyek pembangunan prasarana dasar masyarakat walaupun tidak menghasilkan penerimaan. Selain itu, dilakukan pembatasan pinjaman dalam rangka pengendalian defisit APBD dan batas kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah.&lt;br /&gt;Daerah juga dimungkinkan untuk menerbitkan Obligasi Daerah dengan persyaratan tertentu, serta mengikuti peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal dan memenuhi ketentuan nilai bersih maksimal Obligasi Daerah yang mendapatkan persetujuan Pemerintah. Segala bentuk akibat atau risiko yang timbul dari penerbitan Obligasi Daerah menjadi tanggung jawab Daerah sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan keuangan dilakukan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada para pemangku kepentingan yang sudah menjadi tuntutan masyarakat. Semua penerimaan dan pengeluaran yang menjadi hak dan kewajiban Daerah dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBD. Dalam pengadministrasian Keuangan Daerah, APBD, Perubahan APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD setiap tahun ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;Surplus APBD digunakan untuk membiayai Pengeluaran Daerah tahun anggaran berikutnya, membentuk Dana Cadangan, dan penyertaan modal dalam Perusahaan Daerah. Dalam hal anggaran diperkirakan defisit, ditetapkan sumber-sumber Pembiayaan untuk menutup defisit tersebut.&lt;br /&gt;Pengaturan Dana Dekonsentrasi bertujuan untuk menjamin tersedianya dana bagi pelaksanaan kewenangan Pemerintah yang dilimpahkan kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah. Dana Tugas Pembantuan untuk menjamin tersedianya dana bagi pelaksanaan kewenangan Pemerintah yang ditugaskan kepada Daerah.&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang ini ditegaskan bahwa pengadministrasian Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dilakukan melalui mekanisme APBN, sedangkan pengadministrasian Dana Desentralisasi mengikuti mekanisme APBD. Hal ini dimaksudkan agar penyelenggaraan pembangunan dan Pemerintahan Daerah dapat dilakukan secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.&lt;br /&gt;Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan Desentralisasi berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas, diperlukan adanya dukungan Sistem Informasi Keuangan Daerah. Sistem tersebut antara lain dimaksudkan untuk perumusan kebijakan dan pengendalian fiskal nasional.&lt;br /&gt;Berdasarkan pemikiran sebagaimana diuraikan di atas, maka pokok-pokok muatan Undang-Undang ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.Penegasan prinsip-prinsip dasar perimbangan keuangan Pemerintah dan Pemerintahan Daerah sesuai asas Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Tugas Pembantuan;&lt;br /&gt;b.Penambahan jenis Dana Bagi Hasil dari sektor Pertambangan Panas Bumi, Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21;&lt;br /&gt;c.Pengelompokan Dana Reboisasi yang semula termasuk dalam komponen Dana Alokasi Khusus menjadi Dana Bagi Hasil;&lt;br /&gt;d.Penyempurnaan prinsip pengalokasian Dana Alokasi Umum;&lt;br /&gt;e.Penyempurnaan prinsip pengalokasian Dana Alokasi Khusus;&lt;br /&gt;f.Penambahan pengaturan Hibah dan Dana Darurat;&lt;br /&gt;g.Penyempurnaan persyaratan dan mekanisme Pinjaman Daerah, termasuk Obligasi Daerah;&lt;br /&gt;h.Pengaturan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan;&lt;br /&gt;i.Penegasan pengaturan Sistem Informasi Keuangan Daerah; dan&lt;br /&gt;j.Prinsip akuntabilitas dan responsibilitas dalam Undang-Undang ini dipertegas dengan pemberian sanksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah merupakan bagian pengaturan yang tidak terpisahkan dari sistem Keuangan Negara, dan dimaksudkan untuk mengatur sistem pendanaan atas kewenangan pemerintahan yang diserahkan, dilimpahkan, dan ditugasbantukan kepada Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan stabilitas pada ayat ini adalah stabilitas kondisi perekonomian nasional.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan keseimbangan fiskal pada ayat ini adalah keseimbangan fiskal antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta antar-Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Perimbangan keuangan dilaksanakan sejalan dengan pembagian kewenangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah. Dengan demikian, pengaturan perimbangan keuangan tidak hanya mencakup aspek Pendapatan Daerah tetapi juga mengatur aspek pengelolaan dan pertanggungjawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Pendanaan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini disesuaikan dengan besarnya beban kewenangan yang dilimpahkan dan/atau Tugas Pembantuan yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt; Termasuk hasil dari pelayanan Badan Layanan Umum (BLU) Daerah.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan Peraturan Daerah tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi adalah Peraturan Daerah yang mengatur pengenaan Pajak dan Retribusi oleh Daerah terhadap objek-objek yang telah dikenakan pajak oleh Pusat dan Provinsi, sehingga menyebabkan menurunnya daya saing Daerah.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Contoh pungutan yang dapat menghambat kelancaran mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar-Daerah, dan kegiatan impor/ekspor antara lain adalah Retribusi izin masuk kota dan Pajak/Retribusi atas pengeluaran/pengiriman barang dari suatu daerah ke daerah lain.&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Ketentuan mengenai Pajak Daerah dan Retribusi Daerah diarahkan untuk memberikan kewenangan yang lebih besar kepada Daerah dalam perpajakan dan Retribusi Daerah melalui perluasan basis Pajak dan Retribusi dan pemberian diskresi dalam penetapan tarif Pajak dan Retribusi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perluasan basis Pajak tersebut antara lain dengan menambah jenis Pajak dan Retribusi baru dan diskresi penetapan tarif dilakukan dengan memberikan kewenangan sepenuhnya kepada Daerah dalam menetapkan tarif sesuai tarif maksimal yang ditetapkan dalam Undang-Undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Dana Perimbangan yang terdiri atas 3 (tiga) jenis sumber dana, merupakan pendanaan pelaksanaan Desentralisasi yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena masing-masing jenis Dana Perimbangan tersebut saling mengisi dan melengkapi.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Pencantuman Dana Perimbangan dalam APBN dimaksudkan untuk memberikan kepastian pendanaan bagi Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt; Pembagian tersebut dimaksudkan dalam rangka pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt; Pemberian insentif ini dimaksudkan untuk mendorong intensifikasi pemungutan PBB. Yang dimaksud dengan sektor tertentu adalah penerimaan PBB dari sektor perkotaan dan perdesaan.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang Daerah yang ditentukan oleh gubernur/bupati/walikota untuk menampung seluruh Penerimaan Daerah dan membayar seluruh Pengeluaran Daerah pada bank yang ditetapkan. Rekening Kas Umum Daerah ini dikelola oleh Kepala satuan kerja pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Pembagian tersebut dimaksudkan dalam rangka pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Bagian Daerah dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 dan PPh Pasal 21 untuk kabupaten/kota sebesar 60% (enam puluh persen) dan bagian provinsi sebesar 40% (empat puluh persen) ditetapkan oleh Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, Penerimaan Negara Bukan Pajak dari hasil pengusahaan sumber daya panas bumi terdiri atas:&lt;br /&gt;1)Penerimaan Negara Bukan Pajak dari kontrak pengusahaan panas bumi yang ditandatangani sebelum Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi ditetapkan, berasal dari setoran bagian Pemerintah setelah dikurangi dengan kewajiban perpajakan dan pungutan-pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;2)Penerimaan Negara Bukan Pajak dari kontrak pengusahaan panas bumi yang ditandatangani sesudah Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi ditetapkan, berasal dari Iuran Tetap dan Iuran Produksi.&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt; Yang dimaksud dengan Penerimaan Iuran Tetap (Land-rent) adalah seluruh penerimaan iuran yang diterima Negara sebagai imbalan atas kesempatan Penyelidikan Umum, Eksplorasi, atau Eksploitasi pada suatu wilayah Kuasa Pertambangan.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt; Yang dimaksud dengan Penerimaan Iuran Ekplorasi dan Eksploitasi (Royalti) adalah Iuran Produksi yang diterima Negara dalam hal Pemegang Kuasa Pertambangan Eksplorasi mandapat hasil berupa bahan galian yang tergali atas kesempatan Eksplorasi yang diberikan kepadanya serta atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan eksploitasi (Royalti) satu atau lebih bahan galian.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt; Yang dimaksud dengan Pungutan Pengusahaan Perikanan adalah pungutan Negara yang dikenakan kepada perusahaan perikanan Indonesia yang memperoleh Izin Usaha Perikanan (IUP), Alokasi Penangkapan Ikan Penanaman Modal (APIPM), dan Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI), sebagai imbalan atas kesempatan yang diberikan kepada Pemerintah Indonesia untuk melakukan usaha perikanan dalam wilayah perikanan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt; Yang dimaksud dengan Pungutan Hasil Perikanan adalah pungutan Negara yang dikenakan kepada perusahaan perikanan Indonesia yang melakukan usaha penangkapan ikan sesuai dengan Surat Penangkapan Ikan (SPI) yang diperoleh.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Penerimaan Negara dari sumber daya alam sektor Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi berasal dari kegiatan Operasi Pertamina itu sendiri, kegiatan Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract), dan kontrak kerja sama selain Kontrak Bagi Hasil.&lt;br /&gt;Komponen Pajak adalah pajak-pajak dalam kegiatan Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi dan pungutan-pungutan lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt; Bagian untuk provinsi harus digunakan untuk menunjang pemenuhan sarana pendidikan dasar.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt; Yang dimaksud dengan iuran tetap adalah iuran yang dibayarkan kepada Negara sebagai imbalan atas kesempatan eksplorasi, studi kelayakan, dan eksploitasi pada suatu wilayah kerja.&lt;br /&gt; Yang dimaksud dengan iuran produksi adalah iuran yang dibayarkan kepada Negara atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan Panas Bumi.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan dasar penghitungan dan daerah penghasil diatur dalam Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Penerimaan pertambangan minyak bumi dan gas bumi yang dibagihasilkan, penghitungannya didasarkan pada realisasi harga minyak dan gas bumi. Realisasi  harga minyak dan gas bumi tersebut tidak melebihi 130% (seratus tiga puluh persen) dari asumsi dasar harga minyak bumi dan gas bumi yang ditetapkan dalam APBN tahun berjalan.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Apabila realisasi harga minyak bumi dan gas bumi melebihi 130% (seratus tiga puluh persen) dari asumsi dasar harga minyak bumi dan gas bumi yang ditetapkan dalam APBN tahun berjalan, kelebihan Dana Bagi Hasil berasal dari penerimaan sektor pertambangan minyak bumi dan gas bumi  dibagikan ke Daerah sebagai DAU tambahan melalui Penerimaan Dalam Negeri Neto dengan menggunakan formulasi DAU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;Muatan Peraturan Pemerintah antara lain mengatur kewenangan masing-masing instansi yang terlibat di dalam penetapan daerah penghasil, dasar penghitungan, perkiraan dana bagi hasil, jangka waktu proses penetapan, mekanisme konsultasi dengan dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah, tata cara penyaluran, pelaporan, dan pertanggungjawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Pendapatan Dalam Negeri Neto adalah Penerimaan Negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan Penerimaan Negara yang dibagihasilkan kepada Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah adalah gaji pokok ditambah tunjangan keluarga dan tunjangan jabatan sesuai dengan peraturan penggajian Pegawai Negeri Sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan layanan dasar publik antara lain adalah penyediaan layanan kesehatan dan pendidikan, penyediaan infrastruktur, dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Jumlah penduduk merupakan variabel yang mencerminkan kebutuhan akan penyediaan layanan publik di setiap Daerah.&lt;br /&gt;Luas wilayah merupakan variabel yang mencerminkan kebutuhan atas penyediaan sarana dan prasarana per satuan wilayah.&lt;br /&gt;Indeks Kemahalan Konstruksi merupakan cerminan tingkat kesulitan geografis yang dinilai berdasarkan tingkat kemahalan harga prasarana fisik secara relatif antar-Daerah.&lt;br /&gt;Produk Domestik Regional Bruto merupakan cerminan potensi dan aktivitas perekonomian suatu Daerah yang dihitung berdasarkan total seluruh output produksi kotor dalam suatu wilayah.&lt;br /&gt;Indeks Pembangunan Manusia merupakan variabel yang mencerminkan tingkat pencapaian kesejahteraan penduduk atas layanan dasar di bidang pendidikan dan kesehatan.&lt;br /&gt;Kebutuhan pendanaan suatu Daerah dihitung dengan pendekatan total pengeluaran rata-rata nasional.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Contoh perhitungan : Kebutuhan Fiskal sama dengan Kapasitas Fiskal&lt;br /&gt;Kebutuhan Fiskal  = Rp 100 miliar&lt;br /&gt;Kapasitas Fiskal  = Rp 100 miliar&lt;br /&gt;Alokasi Dasar  = Rp 50 miliar&lt;br /&gt;Celah Fiskal   = Kebutuhan Fiskal – Kapasitas Fiskal&lt;br /&gt;  = Rp 100 miliar – Rp100 miliar = 0&lt;br /&gt;DAU  = Alokasi Dasar&lt;br /&gt;Total DAU  = Rp 50 miliar&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Dalam hal celah fiskal negatif maka jumlah DAU yang diterima Daerah adalah sebesar Alokasi Dasar setelah diperhitungkan dengan celah fiskalnya. Contoh perhitungan :&lt;br /&gt;Kebutuhan Fiskal  = Rp 100 miliar&lt;br /&gt;Kapasitas Fiskal  = Rp 125 miliar&lt;br /&gt;Alokasi Dasar  = Rp 50 miliar&lt;br /&gt;Celah Fiskal  = Kebutuhan Fiskal – Kapasitas Fiskal&lt;br /&gt;   = Rp 100 miliar – Rp 125 miliar = Rp-25 miliar (negatif)&lt;br /&gt;DAU  = Alokasi Dasar + Celah Fiskal&lt;br /&gt;Total DAU  = Rp50 miliar + Rp-25 miliar = Rp25 miliar&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Contoh perhitungan : Celah Fiskal (negatif) melebihi Alokasi Dasar&lt;br /&gt;Kebutuhan Fiskal  = Rp 100 miliar&lt;br /&gt;Kapasitas Fiskal  = Rp 175 miliar&lt;br /&gt;Alokasi Dasar  = Rp 50 miliar&lt;br /&gt;Celah Fiskal  = Kebutuhan Fiskal – Kapasitas Fiskal&lt;br /&gt;   = Rp 100 miliar – Rp 175 miliar = Rp-75 miliar (negatif)&lt;br /&gt;DAU  = Celah Fiskal + Alokasi Dasar&lt;br /&gt;Total DAU  = Rp-75 miliar + Rp 50 miliar = Rp-25 miliar atau disesuaikan menjadi Rp 0 (nol)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;Muatan Peraturan Pemerintah tersebut antara lain mengatur bobot variabel, persentase imbangan DAU antara provinsi dan kabupaten/kota, dan tata cara penyaluran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan Daerah tertentu adalah Daerah yang memenuhi kriteria yang ditetapkan setiap tahun untuk mendapatkan alokasi DAK. Dengan demikian, tidak semua Daerah mendapatkan alokasi DAK.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan fungsi dalam rincian Belanja Negara antara lain terdiri atas layanan umum, pertahanan, ketertiban dan keamanan, ekonomi, lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas umum, kesehatan, pariwisata, budaya, agama, pendidikan dan perlindungan sosial.&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Kriteria umum dihitung untuk melihat kemampuan APBD untuk membiayai  kebutuhan-kebutuhan dalam rangka pembangunan Daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD dikurangi dengan belanja pegawai.&lt;br /&gt;Kemampuan Keuangan Daerah =  Penerimaan Umum APBD – belanja pegawai Daerah&lt;br /&gt;Penerimaan Umum =  PAD + DAU + (DBH – DBHDR)&lt;br /&gt;Belanja Pegawai Daerah =  Belanja PNSD&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan adalah Undang-Undang yang mengatur tentang kekhususan suatu Daerah.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan karakteristik Daerah antara lain adalah daerah pesisir dan kepulauan, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah tertinggal/terpencil, daerah yang termasuk rawan banjir dan longsor, serta daerah yang termasuk daerah ketahanan pangan.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt; Kriteria teknis antara lain meliputi standar kualitas/kuantitas konstruksi, serta perkiraan manfaat lokal dan nasional yang menjadi indikator dalam perhitungan teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Yang dimaksud Daerah dengan kemampuan fiskal tertentu adalah Daerah yang selisih antara Penerimaan Umum APBD dan belanja pegawainya sama dengan nol atau negatif.&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Muatan Peraturan Pemerintah tersebut antara lain kriteria umum, kriteria khusus, kriteria teknis, mekanisme pengalokasian, tata cara penyaluran, penganggaran di Daerah, pemantauan dan pengawasan, evaluasi, dan pelaporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Dalam menerima hibah, Daerah tidak boleh melakukan ikatan yang secara politis dapat mempengaruhi kebijakan Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Pemberian hibah yang bersumber dari luar negeri dituangkan dalam naskah perjanjian hibah yang ditandatangani oleh Pemerintah dan pemberi hibah luar negeri.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan pemberi hibah dalam ayat ini adalah Pemerintah selaku pihak yang menerushibahkan kepada Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Hibah yang diterima oleh Daerah antara lain dapat digunakan untuk menunjang peningkatan fungsi pemerintahan dan layanan dasar umum, serta pemberdayaan aparatur Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 45&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 46&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Pada dasarnya biaya penanggulangan bencana nasional dibiayai dari APBD, tetapi apabila APBD tidak mencukupi untuk menanggulangi bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa lainnya Pemerintah mengalokasikan Dana Darurat yang bersumber dari APBN.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan bencana nasional dan atau peristiwa luar biasa lainnya adalah bencana yang menimbulkan dampak yang luas sehingga mengganggu kegiatan perekonomian dan sosial.&lt;br /&gt;Pasal 47&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Krisis solvabilitas adalah krisis keuangan berkepanjangan yang dialami Daerah selama 2 (dua) tahun anggaran dan tidak dapat diatasi melalui APBD.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 48&lt;br /&gt;Muatan Peraturan Pemerintah tersebut antara lain mengatur kriteria penetapan bencana nasional atau peristiwa luar biasa, kriteria dan persyaratan pengajuan, tata cara penyaluran, dan pertanggungjawabannya.&lt;br /&gt;Pasal 49&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 50&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Dana Perimbangan yang dapat dilakukan penundaan penyaluran dan/atau pemotongan adalah Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 51&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt; Yang dimaksud dengan masyarakat adalah orang pribadi dan/atau badan yang melakukan investasi di pasar modal.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Pinjaman Daerah yang bersumber dari Pemerintah berasal dari APBN atau pinjaman luar negeri Pemerintah yang diteruspinjamkan kepada Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 52&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Pinjaman jangka pendek tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan, misalnya pelunasan kewajiban atas pengadaan/pembelian barang dan/atau jasa tidak dilakukan pada saat barang dan atau jasa dimaksud diterima.&lt;br /&gt;Yang termasuk biaya lain misalnya biaya administrasi, komitmen, provisi, asuransi, dan denda.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 53&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan layanan umum adalah layanan yang menjadi tanggung jawab Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan menghasilkan penerimaan adalah hasil penerimaan yang berkaitan dengan pembangunan prasarana dan sarana yang dibiayai dari pinjaman yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Persetujuan DPRD dimaksud termasuk dalam hal pinjaman tersebut diteruspinjamkan kepada BUMD.&lt;br /&gt;Pasal 54&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan penerimaan umum APBD tahun sebelumnya adalah seluruh penerimaan APBD tidak termasuk Dana Alokasi Khusus, Dana Darurat, dana pinjaman lama, dan penerimaan lain yang kegunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran tertentu.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Rasio kemampuan Keuangan Daerah dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, dan Dana Alokasi Umum setelah dikurangi belanja wajib dibagi dengan penjumlahan angsuran pokok, bunga, dan biaya lain yang jatuh tempo.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan belanja wajib adalah belanja pegawai dan belanja anggota DPRD.&lt;br /&gt;DSCR  =&lt;br /&gt;{PAD + DAU + (DBH – DBHDR)} – Belanja Wajib&lt;br /&gt; ³  X&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok pinjaman + Bunga + Biaya Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DSCR  = Debt Service Coverage Ratio atau Rasio Kemampuan Membayar Kembali Pinjaman;&lt;br /&gt;PAD = Pendapatan Asli Daerah;&lt;br /&gt;DAU = Dana Alokasi Umum;&lt;br /&gt;DBH = Dana Bagi Hasil; dan&lt;br /&gt;DBHDR = Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 55&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 56&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 57&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 58&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan nilai bersih adalah tambahan atas nilai nominal Obligasi Daerah yang beredar. Tambahan nilai nominal ini merupakan selisih antara nilai nominal Obligasi Daerah yang diterbitkan dengan nilai nominal obligasi yang ditarik kembali dan dilunasi sebelum jatuh tempo dan obligasi yang dilunasi pada saat jatuh tempo selama satu tahun anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 59&lt;br /&gt;Ketentuan ini menegaskan bahwa segala risiko yang timbul sebagai akibat dari penerbitan Obligasi Daerah tidak dijamin dan/atau ditanggung oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 60&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 61&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Persetujuan DPRD atas semua Obligasi Daerah yang diterbitkan secara otomatis merupakan persetujuan atas pembayaran dan pelunasan segala kewajiban keuangan di masa mendatang yang timbul dari penerbitan Obligasi Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Semua kewajiban bunga dan pokok yang timbul akibat penerbitan Obligasi dialokasikan dalam APBD setiap tahun sampai dengan berakhirnya kewajiban tersebut. Perkiraan dana yang perlu dialokasikan untuk pembayaran kewajiban untuk satu tahun anggaran disampaikan kepada DPRD untuk diperhitungkan dalam APBD tahun yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Realisasi pembayaran bunga dapat melebihi proyeksi pembayaran bunga dalam satu tahun anggaran, apabila tingkat bunga yang berlaku dari Obligasi Daerah dengan tingkat bunga mengambang lebih besar daripada asumsi tingkat bunga yang ditetapkan dalam APBD.&lt;br /&gt;Pasal 62&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Pengelolaan dan pertanggungjawaban Obligasi Daerah dilakukan oleh unit yang ditunjuk oleh Kepala Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Dalam rangka mencapai biaya obligasi yang paling rendah pada tingkat risiko yang dapat diterima dan dikendalikan, Pemerintah Daerah wajib melaksanakan dan melaporkan kegiatan yang sekurang-kurangnya seperti disebutkan pada ayat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 63&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Tembusan laporan posisi kumulatif dimaksud disampaikan kepada DPRD sebagai pemberitahuan.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 64&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Tata cara pelaksanaan pemotongan dan penundaan Dana Alokasi Umum dan/atau Bagian Daerah dari Penerimaan Negara diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;Pasal 65&lt;br /&gt;Muatan Peraturan Pemerintah tersebut antara lain mengatur tata cara, prosedur, dan persyaratan Obligasi.&lt;br /&gt;Pasal 66&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Penyelenggara Keuangan Daerah wajib mengelola Keuangan Daerah dengan mengacu pada asas-asas yang tercantum dalam ayat ini. Pengelolaan dimaksud dalam ayat ini mencakup keseluruhan perencanaan, penguasaan, penggunaan, pertanggungjawaban, dan pengawasan.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa anggaran Daerah menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran Daerah menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran Daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran Daerah harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.&lt;br /&gt;Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran Daerah harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 67&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Program Pemerintah Daerah dimaksud diusulkan di dalam rancangan Peraturan Daerah tentang APBD serta disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan kemampuan dalam menghimpun Pendapatan Daerah dengan berpedoman kepada Rencana Kerja Pemerintah dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan bernegara.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Denda dan/atau bunga dimaksud dapat dikenakan kepada kedua belah pihak.&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Dalam menyusun APBD dimaksud, diupayakan agar belanja operasional tidak melampaui pendapatan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;Penggunaan surplus APBD perlu mempertimbangkan prinsip pertanggung-jawaban antargenerasi, terutama untuk pelunasan utang, pembentukan Dana Cadangan, dan peningkatan jaminan sosial.&lt;br /&gt;Pasal 68&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 69&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 70&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Rincian Belanja Daerah menurut organisasi disesuaikan dengan susunan perangkat daerah/lembaga teknis daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rincian Belanja Daerah menurut fungsi antara lain terdiri atas layanan umum, ketertiban dan keamanan, ekonomi, lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas umum, kesehatan, pariwisata, budaya, agama, pendidikan, serta perlindungan sosial.&lt;br /&gt;Rincian Belanja Daerah menurut jenis belanja (sifat ekonomi) antara lain terdiri atas belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, bunga, subsidi, hibah, dan bantuan sosial.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 71&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 72&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 73&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 74&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 75&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 76&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan untuk menampung kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan Dana Cadangan dalam APBD diperlakukan sebagai pengeluaran pembiayaan, sedangkan pada saat Dana Cadangan digunakan diperlakukan sebagai penerimaan pembiayaan.&lt;br /&gt;Peraturan Daerah tentang pembentukan Dana Cadangan sekurang-kurangnya memuat tujuan, jumlah, sumber, periode, jenis pengeluaran, penggunaan, dan penempatan dana.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Dalam tahun pelaksanaan kegiatan yang didanai dengan Dana Cadangan sesuai dengan Peraturan Daerah, Dana Cadangan dicairkan dan merupakan penerimaan pembiayaan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 77&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Salah satu contoh portofolio yang memberikan hasil tetap dengan risiko rendah adalah deposito pada bank pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 78&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Kerja sama dengan pihak lain dilakukan manakala Pemerintah Daerah memiliki keterbatasan dana dalam menyediakan fasilitas layanan umum. Kerja sama dengan pihak lain meliputi kerja sama antar-Daerah, antara Pemerintah Daerah dan BUMD, serta antara Pemerintah Daerah dengan swasta, yang bertujuan untuk mengoptimalkan aset Daerah tanpa mengganggu layanan umum.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 79&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Pengeluaran tersebut dalam Pasal ini termasuk belanja untuk keperluan mendesak yang kriterianya ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang APBD yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Keadaan darurat sekurang-kurangnya harus memenuhi seluruh kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas Pemerintah Daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya;&lt;br /&gt;b.tidak diharapkan terjadi  secara berulang;&lt;br /&gt;c.berada di luar kendali dan pengaruh Pemerintah Daerah; dan&lt;br /&gt;d.memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 80&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Persentase 50% (lima puluh persen) adalah merupakan selisih (gap) kenaikan antara pendapatan dan belanja dalam APBD.&lt;br /&gt;Pasal 81&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Pemeriksaan laporan keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan diselesaikan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah menerima laporan keuangan dari Pemerintah Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Laporan Realisasi Anggaran selain menyajikan realisasi pendapatan dan belanja, juga menjelaskan prestasi kerja SKPD.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 82&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 83&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksudkan dengan jumlah kumulatif defisit APBN dan APBD adalah jumlah defisit APBN ditambah jumlah defisit seluruh APBD dalam suatu tahun anggaran. Penetapan batas maksimal kumulatif defisit dimaksudkan dalam rangka prinsip kehati-hatian dan pengendalian fiskal nasional.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Jumlah maksimal kumulatif defisit tidak melebihi 3% (tiga persen) dari Produk Domestik Bruto, sesuai dengan kaidah yang baik (best practice) dalam bidang pengelolaan fiskal.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal defisit APBD untuk masing-masing Daerah setiap tahun pada bulan Agustus.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 84&lt;br /&gt;Pada dasarnya APBD disusun dengan mempertimbangkan kemampuan Keuangan Daerah. Dalam hal belanja diperkirakan lebih besar daripada pendapatan, maka sumber-sumber pembiayaan defisit diperoleh dari penggunaan SiLPA, Dana Cadangan, hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan Pinjaman Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 85&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Pemeriksaan Keuangan Daerah sekurang-kurangnya meliputi PAD, Dana Perimbangan, Lain-lain Pendapatan, Pinjaman Daerah, dan Belanja Daerah. Pemeriksaan Keuangan Daerah ini dilakukan secara tahunan dan pada akhir masa jabatan Kepala Daerah dan DPRD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 86&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 87&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Ketentuan ayat ini dimaksudkan agar besaran dana yang dialokasikan harus menjamin terlaksananya penyelenggaraan kewenangan yang dilimpahkan.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Pemberitahuan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga yang berkaitan dengan kegiatan Dekonsentrasi dimaksudkan untuk sinkronisasi antara kegiatan yang akan dibiayai dari APBD dan kegiatan yang dibiayai dari APBN guna menghindari adanya duplikasi pendanaan.&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;Kegiatan yang bersifat nonfisik antara lain koordinasi perencanaan, fasilitasi, pelatihan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian.&lt;br /&gt;Pasal 88&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 89&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan adalah ketentuan tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.&lt;br /&gt;Pasal 90&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Pemisahan penatausahaan keuangan antara dana Dekonsentrasi, dana Tugas Pembantuan, dan dana Desentralisasi dimaksudkan agar terwujud penatausahaan yang tertib dan taat asas dalam pengelolaan keuangan.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan laporan pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi antara lain meliputi pertanggungjawaban pelaksanaan substansi kewenangan, biaya penyelenggaraan, keluaran, dan hasil pelaksanaan kewenangan yang dilimpahkan.&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 91&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 92&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 93&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 94&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Penugasan oleh Pemerintah melalui kementerian negara/lembaga merupakan penugasan dalam lingkup kewenangan Pemerintah.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Ketentuan ayat ini dimaksudkan agar besaran dana yang dialokasikan harus menjamin terlaksananya penugasan yang diberikan.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Pemberitahuan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga yang berkaitan dengan kegiatan Tugas Pembantuan dimaksudkan untuk sinkronisasi antara kegiatan yang akan dibiayai dari APBD dan kegiatan yang dibiayai dari APBN guna menghindari adanya duplikasi pendanaan.&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 95&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 96&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan adalah ketentuan tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.&lt;br /&gt;Pasal 97&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Pemisahan penatausahaan keuangan antara Dana Tugas Pembantuan dengan Dana Dekonsentrasi dan Dana Desentralisasi dimaksudkan agar terwujud penatausahaan yang tertib dan taat asas dalam pengelolaan keuangan.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan laporan pelaksanaan kegiatan Tugas Pembantuan antara lain meliputi pertanggungjawaban pelaksanaan substansi kewenangan, biaya penyelenggaraan, keluaran, dan hasil pelaksanaan kewenangan  yang ditugaspembantuankan.&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 98&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 99&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 100&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 101&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Sistem Informasi Keuangan Daerah secara nasional adalah sarana bagi Pemerintah untuk mengolah, menyajikan, dan mempublikasikan informasi dan laporan pengelolaan Keuangan Daerah sebagai sarana menunjang tercapainya tata pemerintahan yang baik melalui transparansi dan akuntabilitas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 102&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan informasi keuangan yang dapat dipertanggung jawabkan adalah informasi yang bersumber dari Peraturan Daerah tentang APBD, pelaksanaan APBD, dan laporan realisasi APBD.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Penyelenggaraan Sistem Informasi Keuangan Daerah oleh Daerah dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kemampuan Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Pemberian sanksi dilakukan setelah adanya teguran tertulis. Dana Perimbangan yang ditunda penyalurannya akibat pemberian sanksi dilakukan dengan tidak mengganggu pelaksanaan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.&lt;br /&gt;Pasal 103&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 104&lt;br /&gt;Pokok-pokok muatan Peraturan Pemerintah tersebut, antara lain, mekanisme penyampaian laporan Keuangan Daerah, prinsip-prinsip penyelenggaraan sistem informasi keuangan di daerah, standar dan format informasi keuangan di Daerah, dan mekanisme penerapan sanksi atas keterlambatan penyampaian laporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 105&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 106&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 107&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Formula DAU digunakan mulai tahun anggaran 2006, tetapi sampai dengan tahun anggaran 2007 alokasi DAU yang diberlakukan untuk masing-masing Daerah ditetapkan tidak lebih kecil dari tahun anggaran 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan tahun anggaran 2007 apabila DAU untuk provinsi tertentu lebih kecil dari tahun anggaran 2005, kepada provinsi yang bersangkutan dialokasikan dana penyesuaian yang besarnya sesuai dengan kemampuan dan perekonomian Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 108&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 109&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 110&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4438.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3686797325139912135-2830248828957789115?l=sospolhankam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sospolhankam.blogspot.com/feeds/2830248828957789115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3686797325139912135&amp;postID=2830248828957789115' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/2830248828957789115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3686797325139912135/posts/default/2830248828957789115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sospolhankam.blogspot.com/2008/12/undang-undang-republik-indonesia-nomor_18.html' title='UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR  33  TAHUN 2004'/><author><name>Cak Pri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07869798512139983507</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_8e1nlScrNt0/SVPgm4V1MxI/AAAAAAAABC8/nS1T4UcwlSI/S220/cak+pri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3686797325139912135.post-984682884286400014</id><published>2008-12-18T16:49:00.002+07:00</published><updated>2008-12-31T05:25:37.711+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PEMERINTAHAN DAERAH&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Menimbang : a. bahwa   dalam  rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah     sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintahan daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. bahwa efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan  pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek­-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintahan. daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara;&lt;br /&gt;c. bahwa  Undang-Undang  Nomor 22 Tahun 1999  tentang Pemerintahan Daerah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah sehingga perlu diganti;&lt;br /&gt;d. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a, huruf b, dan huruf c perlu ditetapkan Undang-Undang tentang  Pemerintahan Daerah;&lt;br /&gt;Mengingat :   1. Pasal 1,  Pasal 4, Pasal 5, Pasal 18, Pasal 18A,  Pasal 18B, Pasal 20,  Pasal 21, Pasal 22D, Pasal 23E ayat (2), Pasal 24A ayat (1), Pasal 31 ayat (4), Pasal 33, dan Pasal 34 Undang-Udang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999  tentang  Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);&lt;br /&gt;3. Undang-Undang   Nomor   17 Tahun  2003  tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);&lt;br /&gt;4. Undang-Undang  Nomor  22  Tahun  2003  tentang  Susunan  dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4310);&lt;br /&gt;5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);&lt;br /&gt;6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);&lt;br /&gt;7. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;   PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;1.  Pemerintah pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;br /&gt;2.   Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;br /&gt;3. Pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati,    atau   Walikota,  dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.&lt;br /&gt;4. Dewan  Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut  DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.&lt;br /&gt;5. Otonomi daerah adalah hak,  wewenang,  dan    kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;6. Daerah otonom, selanjutnya  disebut    daerah,     adalah    kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;7. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang   pemerintahan    oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;8. Dekonsentrasi  adalah pelimpahan wewenang   pemerintahan   oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.&lt;br /&gt;9. Tugas pembantuan adalah penugasan  dari    Pemerintah    kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.&lt;br /&gt;10. Peraturan daerah selanjutnya  disebut     Perda    adalah   peraturan    daerah provinsi dan/atau peraturan daerah kabupaten/kota.&lt;br /&gt;11. Peraturan kepala daerah adalah  peraturan    Gubernur    dan/atau peraturan Bupati/Walikota.&lt;br /&gt;12. Desa atau yang disebut dengan nama  lain,    selanjutnya   disebut    desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas­ batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-asul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;13. Perimbangan keuangan antara Pemerintah  dan    pemerintah  daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan, dan bertanggung jawab dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi, dengan mempertim- bangkan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan&lt;br /&gt;14. Anggaran pendapatan dan belanja daerah,   selanjutnya   disebut APBD, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang ditetapkan dengan peraturan daerah.&lt;br /&gt;15. Pendapatan daerah adalah semua hak daerah yang    diakui   sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan.&lt;br /&gt;16. Belanja  daerah  adalah semua  kewajiban daerah  yang  diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode  tahun anggaran yang bersangkutan.&lt;br /&gt;17. Pembiayaan adalah setiap    penerimaan      yang     perlu    dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-­tahun anggaran berikutnya.&lt;br /&gt;18. Pinjaman daerah adalah semua transaksi  yang   mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang atau menerima  manfaat  yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali.&lt;br /&gt;19. Kawasan khusus adalah bagian wilayah  dal
