My photo
Saya lahir di kota yang terkenal dengan arak dan tuak, tidak ketinggalan legen dan siwalannya yakni kota Tuban. Sekarang beralih di kota Malang yang dingin untuk menuntut ilmu. Keadaan ini mengharuskan saya belajar sepenuhnya, tidak hanya belajar akademis. Dari awal saya belajar di dunia persilatan (PSHT), lanjut ke bidang freestyle (Malang Motor X-treme), selanjutnya belajar seputar seni bersamaan dengan semua itu saya juga belajar berorganisasi dari HMJ, UKM, BEM-U.

Wednesday, November 19, 2008

TV Pembodohan-Tidak Ada Unsur Edukasi

Mari kita kupas kategori materi program televisi Indonesia saat ini. Mulai dari sinetron. Tolong beri saya satu judul sinetron yang benar-benar bermutu - sinetron yang benar-benar lebih banyak esensi edukasinya. Saya belum bisa menemukan satu pun, kecuali dulu pernah ada sinetron dengan judul "Kiamat Sudah Dekat" yang masuk kategori "Nice, quite educating and entertaining.." Atau mungkin saya yang jarang menyaksikan acara televisi belakangan ini sehingga sedikit 'ketinggalan jaman' dalam hal update acara terbaru. Tapi saya kok tetap yakin ya, belum ada sinetron yang betul-betul "Superb!".

Coba perhatikan, bahasa-bahasa yang digunakan dalam sinetron, peng-karakterisasi-an peran-peran yang ada (kalau ada peran antagonis selalu digambarkan "juaahaat luar biasa" sampai-sampai saya berpikir rasa-rasanya hanya iblis yang bisa begitu!). Belum lagi adegan-adegan romance yang melibatkan usia yang semakin dini (sudah lazim kayaknya di sinetron anak SD cinta-cintaan). Masih ditambah bahasa tubuh yang pernah saya lihat di potongan iklan sinetron (kalau tidak salah judulnya "Mentari") yang di-adegan-kan oleh seorang anak perempuan usia SMP yang sangat tidak sopan ("f***k you" dengan menggunakan "fist instead of middle finger"). Saya kaget setengah mati! Ini sutradaranya yang geblek apa memang tidak tahu arti dari gesture itu? Kalau memang tidak tahu, mbok ya jangan sok tau! Nggak usah sok ngAmrik lah.. Dan betul-betul saya iba dengan orang yang tidak tahu tapi sangat ingin kelihatan gaul dengan gaya amrik-nya itu..

Lalu mari kita lihat jenis acara lainnya. Belakangan ini banyak sekali acara "lomba nyanyi" yang menggunakan polling sms dan ditayangkan marathon live, mulai dari pukul 17.00 sampai 23.00 dengan format acara yang sama persis satu sama lain: ada MC standby di atas panggung, 3 orang juri, MC kedua yang bertugas keliling studio, dan kadang-kadang ada karakter seperti "Mr.X" atau "Tuan Takur" atau apa lah sebutannya yang berperan sebagai semacam hakim. Tidak ada salahnya ada acara lomba nyanyi tapi terus terang yang model seperti ini benar-benar menghabiskan waktu, energi, dan uang! Bayangkan, selama hampir 5 jam kita 'terpaksa' mendengar banyolan-banyolan yang kadang-kadang terlalu lama dan bertele-tele. Sampai-sampai peserta yang ada di atas panggung pun salah tingkah, mati gaya karena bosan. Di mana edukasinya?

Lalu ada lagi acara-acara 'menyeramkan' - slot acara yang khusus melaporkan keberingasan, keporakporandaan, kejahatan kriminalitas, ke-barbar-an bangsa. Berita-berita mengerikan seperti kejahatan dan kecelakaan (dan seringkali di-shooting sang korban walaupun gambarnya dikaburkan) yang bikin merinding dan hati tak nyaman ditayangkan di siang hari bolong - pada saat orang-orang kelelahan bekerja, dehidrasi karena berkeringat sampai pikiran terasa kosong. Bukannya dapat tampilan yang menyenangkan dan melegakan hati, eh malah disuguhi visualisasi dan cerita yang sangat menyiutkan hati dan nyali. Ada kolega saya yang bilang justru acara itu bagus karena membuat kita waspada. Menurut saya: sama sekali tidak! Bukannya waspada, tapi malah hidup dalam was-was, cemas. Jangan lupa, sebagian besar masyarakat kita masih butuh pendidikan yang benar sehingga dapat menyikapi hidup dengan optimis. Jadi, kalau masayarakat kita disuapi acara-acara yang bernada pesimis seperti itu, bagaimana bisa jadi bangsa yang progresif dan optimis???

Ada lagi tipe acara yang benar-benar menunjukkan semangat "kebersamaan dan keberbagian" yang luar biasa, sampai-sampai aib siapa pun yang populer di muka bumi Indonesia ini dengan indahnya diinformasikan ke publik. Benar-benar ciri khas "kebersamaan" atau collectivism ala Geert Hofstede diaplikasikan sampai ke akar-akarnya. Luar biasa! Satu lagi (dari tadi satu lagi tapi tambah terus): ada kebiasaan 'mistis' yang selalu melekat kepada pemberitaan-pemberitaan infotainment. Selalu ada peluang untuk meninjau atau 'menerawang' masalah yang dihadapi dari sisi 'dunia lain' dengan bertanya kepada orang-orang yang dianggap tahu masa depan. Hebat ya? They're playing God! Pada saat masyarakat Indonesia ini masih banyak dipengaruhi oleh pemikiran irasional, tayangan-tayangan dan pendapat-pendapat liar yang dilatarbelakangi oleh pemikiran 'dunia lain' semakin memperkuat pemikiran dan sikap irasional masyarakat kita. Seolah-olah pemikiran semacam itu adalah benar, hakiki, dan tidak boleh hilang dari kultur Indonesia. Menakjubkan! Dan kita masih ingin bangsa ini maju?

No comments:

Arsip Terbaru


Copyright 2008 | Blogger Template INDONESIA-KU | Design by Art And Paintings Gallery




Media komunikasi